AS Siap Jatuhkan Sanksi Terberat, Iran Ancang-ancang Balas ke Negara Pendukung Washington
Baca dalam 60 detik
- Washington akan mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap Teheran pekan ini, menyusul perang enam bulan yang belum mereda.
- Langkah ini berpotensi menyeret China, pembeli utama minyak Iran, ke dalam pusaran konflik.
- Teheran mengancam akan memperlakukan negara-negara yang membantu AS sebagai musuh, memperluas ketegangan regional.

Pemerintah Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan babak baru sanksi ekonomi terhadap Iran pada Senin (24/8), sebuah langkah yang oleh Teheran disebut sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan negara-negara merdeka dan berpotensi menyeret China—pembeli utama minyak Iran—ke dalam pusaran konflik yang telah berlangsung nyaris enam bulan.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, akan menggelar konferensi pers pada pukul 14.00 waktu setempat setelah sebelumnya mengancam akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Republik Islam itu. Ancaman ini muncul di tengah kebuntuan perang yang dimulai dengan serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu. Meski kedua pihak tidak lagi saling tembak-menembak secara langsung, tidak ada tanda-tanda menuju meja perundingan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataannya Sabtu (22/8) mengecam rencana sanksi tersebut sebagai "penegasan kedaulatan ekstrateritorial atas setiap negara anggota PBB yang merdeka". Menurutnya, sanksi sekunder semacam itu tidak memiliki dasar dalam hukum internasional. Sikap serupa disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, yang memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak ikut serta dalam perang ekonomi yang digagas Washington. "Kami menyampaikan kepada semua negara di sekitar kami untuk tidak bergabung dalam perang ekonomi AS, jika tidak, kami akan menganggap mereka sebagai musuh," ujarnya kepada televisi pemerintah.
Ketegangan ini berlangsung di tengah kondisi ekonomi Iran yang sudah tertekan. Data analis Kpler menunjukkan China membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran pada 2025, sementara Beijing terus mendorong jalur diplomasi. Namun, tekanan AS terhadap China semakin nyata. Presiden Donald Trump, yang sebelumnya memperingatkan akan konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan "jalur kehidupan" kepada Iran, menyatakan pada Jumat bahwa Washington sedang mengamati perkembangan konflik. "Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut saya mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat," kata Trump mengenai Iran.
Di lapangan, Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia—masih nyaris lumpuh. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintas pada Kamis, tanpa satu pun kapal tanker minyak mentah besar atau kapal LNG. Sebelum perang, rata-rata 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut, kini turun drastis menjadi sekitar 8 juta barel per hari, menurut Menteri Energi AS Chris Wright. Ribuan pelaut masih terdampar di ratusan kapal yang tertahan. Di tengah kebuntuan itu, Iran memberikan izin khusus bagi sejumlah kapal tanker Irak untuk melintas setelah permintaan berulang dari Baghdad, sebagaimana dilaporkan IRNA.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz adalah jalur utama bagi sebagian pasokan minyak mentah Indonesia, dan gangguan berkepanjangan di sana berpotensi menekan harga energi domestik serta biaya logistik. Di sisi lain, sikap tegas Iran terhadap negara-negara yang membantu AS bisa berdampak pada stabilitas kawasan yang menjadi mitra dagang utama Indonesia, seperti China dan negara-negara Teluk.
Di tengah tekanan ekonomi dan militer, Teheran masih menunjukkan kemampuan untuk melawan. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdollahi, dalam kunjungan ke pabrik rudal balistik bawah tanah yang dilaporkan televisi pemerintah Sabtu, menegaskan bahwa produksi peralatan militer kini lebih unggul baik dalam kapasitas, kualitas, maupun kuantitas dibanding sebelumnya. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengklaim telah menerima "banyak pesan" dari negara-negara tetangga mengenai pengaturan keamanan regional baru dan kerja sama ekonomi. Ia menuduh AS membahayakan keamanan sekutunya demi kepentingan Israel, dan menyerukan tatanan regional yang independen dan "berbasis lokal".
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di sisi lain masih membuka pintu diplomasi. "Akan lebih baik jika perang diakhiri hari ini, ketika kita kuat dan bermartabat, dan seluruh dunia mengakui kemenangan kita serta menekankan bahwa Amerika, yang bertentangan dengan semua aturan, menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita, dibenci dunia," katanya seperti dikutip ISNA pada Jumat.
Dengan sanksi baru yang akan segera diumumkan, pertanyaannya kini: apakah China akan tetap bertahan membeli minyak Iran dan menantang tekanan Washington, atau justru menyerah pada desakan ekonomi? Jawabannya akan menentukan apakah konflik ini semakin melebar atau justru menemukan jalan menuju negosiasi.



