Reshuffle Besar dan 26 Wantimpres: Manuver Prabowo di Awal Oktober
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto merombak 16 posisi di Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober 2026, termasuk menempatkan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
- Sehari setelahnya, 26 tokoh dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, memperluas lingkaran penasihat kepala negara.
- Langkah ini dinilai sebagai konsolidasi kekuasaan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, dengan implikasi pada stabilitas politik dan arah kebijakan ekonomi.

Presiden Prabowo Subianto mengejutkan lingkaran Istana dengan merombak 16 jabatan di Kabinet Merah Putih pada Rabu (1/10/2026). Sehari berselang, Kamis (2/10/2026), ia kembali mengukuhkan 26 nama sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Dua gerakan beruntun itu menandai awal Oktober yang padat di Istana Kepresidenan, memicu spekulasi tentang arah politik dan pemerintahan ke depan.
Dalam reshuffle pertama, posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) beralih dari Dudung Abdurachman kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dudung sendiri tidak keluar dari kabinet; ia dipromosikan menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, menggantikan Djamari Chaniago. Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendapat tambahan portofolio sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi, memperkuat kendalinya atas sektor energi dan investasi.
Pergeseran juga terjadi di kursi Menteri Luar Negeri. Sugiono yang sebelumnya menjabat Menlu kini diangkat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menggantikan Pratikno. Posisi Menlu diisi Arrmanatha Nasir. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji dilantik sebagai Menteri Perindustrian, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Drajad Wibowo masuk sebagai Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, menambah lapisan baru di tim ekonomi.
Perombakan ini bukan sekadar rotasi biasa. Sejumlah nama yang bergeser menunjukkan pola konsolidasi: Bahlil memperoleh kewenangan lebih besar di sektor energi, sementara masuknya Sarmuji dari Golkar ke Kementerian Perindustrian memperkuat representasi partai koalisi di kabinet. Penunjukan Listyo Sigit sebagai KSP juga menarik karena ia meninggalkan kursi Kapolri yang strategis, digantikan oleh Jenderal Suyudi Ario Seto. Langkah ini bisa dibaca sebagai upaya Prabowo menempatkan orang kepercayaan di pusat pengambilan keputusan Istana.
Pelantikan Wantimpres sehari kemudian melengkapi manuver tersebut. Dengan 26 anggota, lembaga penasihat ini menjadi jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Meski peran Wantimpres bersifat consultative, besarnya jumlah anggota memunculkan pertanyaan tentang efektivitas dan potensi tumpang tindih dengan kementerian koordinator. Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai cara Prabowo memperluas jaringan politik dan mengakomodasi berbagai kepentingan menjelang dua tahun pemerintahannya.
"Reshuffle dan pengisian Wantimpres ini menunjukkan Prabowo ingin memastikan loyalitas dan mempercepat agenda prioritas, terutama di sektor energi dan industri," ujar seorang analis politik yang memantau dinamika Istana.
Bagi pasar dan pelaku usaha, perubahan di kursi Menteri Perindustrian dan Wakil Menko Perekonomian patut dicermati. Sarmuji, yang sebelumnya dikenal sebagai politikus Golkar, akan menghadapi tantangan meningkatkan kinerja manufaktur di tengah tekanan global. Sementara Drajad Wibowo diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Kehadiran Bahlil dengan dua jabatan sekaligus juga menimbulkan ekspektasi percepatan hilirisasi, meski risiko beban ganda perlu diwaspadai.
Dari sisi politik, langkah Prabowo ini mempertegas dominasi koalisi besar. Dengan memasukkan kader partai ke posisi kunci, ia menjaga stabilitas parlemen. Namun, konsentrasi kekuasaan di lingkaran terdekat juga dapat memicu kritik tentang melemahnya check and balance. Publik akan menanti apakah formasi baru ini mampu menjawab persoalan riil seperti penciptaan lapangan kerja, harga pangan, dan transisi energi.
Ke depan, dua pertanyaan mengemuka: seberapa cepat kabinet baru ini menghasilkan kebijakan konkret, dan apakah Wantimpres yang gemuk akan menjadi motor atau justru beban birokrasi? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan pertama, ketika ujian pertama datang dari dinamika ekonomi global dan ekspektasi domestik yang kian tinggi.



