Komputasi Generasi Baru: APU Malaysia Siapkan Talenta AI dengan Superkomputer NVIDIA
Baca dalam 60 detik
- Asia Pacific University (APU) meluncurkan laboratorium superkomputasi AI bertenaga NVIDIA DGX Spark, yang memungkinkan mahasiswa melatih model bahasa besar hingga 200 miliar parameter secara lokal.
- Universitas ini menempatkan diri sebagai pionir pendidikan komputasi generasi baru di Malaysia, mengintegrasikan komputasi kuantum, neuromorfik, fotonik, dan AI superkomputasi ke dalam kurikulum.
- Langkah APU ini menjadi sinyal bagi perguruan tinggi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk beradaptasi dengan tuntutan industri yang semakin bergantung pada AI dan komputasi berkinerja tinggi.

Di tengah derasnya transformasi digital global, kebutuhan akan komputasi berkinerja tinggi melonjak tajam. Asia Pacific University of Technology & Innovation (APU) Malaysia merespons dengan meluncurkan laboratorium superkomputasi AI bertenaga NVIDIA DGX Spark, sebuah langkah yang memungkinkan mahasiswa dan peneliti untuk melatih model bahasa besar (LLM) dengan hingga 200 miliar parameter secara lokal.
Langkah ini bukan sekadar penambahan perangkat keras. APU, yang menempati peringkat pertama di Malaysia untuk bidang Komputasi & IT selama lima tahun berturut-turut (2022โ2026), tengah membangun ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan paradigma komputasi generasi baruโmulai dari komputasi kuantum, neuromorfik, fotonik, hingga AI superkomputasi. Ini adalah respons terhadap kebutuhan industri yang tidak lagi cukup dilayani oleh komputasi konvensional.
Menurut Wakil Rektor APU, Prof. Dr. Ho Chin Kuan, kurikulum yang diterapkan menekankan penguasaan fundamental seperti algoritma, struktur data, machine learning, dan komputasi berkinerja tinggi. โDengan fokus pada fundamental ini, mahasiswa mampu menavigasi perubahan teknologi, bukan terpaku pada alat atau tren tertentu,โ ujarnya. Pendekatan ini dirancang agar lulusan tidak hanya siap untuk kebutuhan industri saat ini, tetapi juga untuk perkembangan masa depan.
Kehadiran NVIDIA DGX Spark, yang juga diadopsi oleh universitas terkemuka seperti Stanford, Harvard, dan Arizona State University, memberikan akses ke memori terpadu 128 GB LPDDR5x. Kapasitas ini memungkinkan pengembangan AI yang kompleks, termasuk pelatihan model dengan parameter besar yang sebelumnya hanya bisa dilakukan di pusat data berskala raksasa. Bagi mahasiswa, ini berarti pengalaman langsung yang mendekati kondisi industri nyata.
Kepala Sekolah Komputasi APU, Assoc. Prof. Dr. Tan Chin Ike, menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya teoretis. โMahasiswa terlibat dalam proyek yang relevan dengan industri, tugas kolaboratif, dan latihan pemecahan masalah yang mencerminkan tantangan dunia nyata,โ jelasnya. Mereka diajak mengeksplorasi aplikasi komputasi canggih di berbagai sektor, seperti teknologi, teknik, fintech, bisnis, hingga media digital.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Perguruan tinggi di dalam negeri perlu segera mengevaluasi kesiapan infrastruktur dan kurikulum mereka dalam menghadapi era komputasi generasi baru. Jika tidak, kesenjangan keterampilan AI dan komputasi berkinerja tinggi antara Indonesia dan negara tetangga akan semakin melebar, berpotensi menghambat daya saing tenaga kerja di kancah regional.
APU sendiri membuka pintunya bagi publik melalui Open Day pada 22โ23 Agustus, mengundang calon mahasiswa untuk melihat langsung fasilitas superkomputasi tersebut. Pertanyaannya, akankah institusi pendidikan di Indonesia mengambil langkah serupa? Atau justru membiarkan talenta mudanya menyeberang ke Malaysia untuk mengejar ketertinggalan teknologi?



