Oura Tunda IPO, AI Wearable Terjebak Krisis Privasi dan Desain
Baca dalam 60 detik
- Oura membatalkan rencana IPO secara mendadak, memicu spekulasi bahwa masalah internal lebih besar dari sekadar gejolak pasar.
- Kacamata pintar berfitur kamera menghadapi penolakan publik yang meluas, dari larangan di gym hingga insiden hukum di ruang sidang.
- Masa depan perangkat AI yang dapat dipakai bergantung pada kemampuannya mengatasi kekhawatiran privasi dan menghadirkan nilai guna nyata.

Raksasa cincin pintar Oura secara mengejutkan menunda penawaran umum perdana (IPO) yang telah lama dinanti, mengirim sinyal bahwa gelombang perangkat AI wearable—dari kacamata hingga liontin—belum menemukan pijakan yang kokoh di pasar konsumen. Penundaan yang diumumkan pada Selasa itu disebut perusahaan akibat ketidakpastian kondisi pasar modal, namun sejumlah analis menilai alasan sesungguhnya lebih dalam dari itu.
Langkah Oura datang hanya beberapa hari setelah Meta memperkenalkan Muse Charm, perangkat berbentuk Tamagotchi yang langsung menduduki puncak daftar aplikasi gratis di App Store. Peluncuran tersebut menambah deretan panjang perangkat AI yang dapat dikenakan, termasuk kacamata pintar Ray-Ban generasi terbaru dan asisten pribadi Dots dari OpenAI. Namun di balik euforia inovasi, muncul pertanyaan mendasar: apakah konsumen benar-benar membutuhkan perangkat-perangkat ini, ataukah ini sekadar perlombaan teknologi yang kehilangan arah?
Keraguan itu diperkuat oleh insiden yang menimpa pengguna. Bella Nowroozi, seorang mahasiswa pascasarjana berusia 24 tahun, mengisahkan pengalaman tidak menyenangkan saat berkencan dengan seseorang yang mengenakan kacamata pintar Meta Ray-Ban. Ia baru menyadari ada lampu berkedip di bingkai kacamata pria tersebut dan segera memintanya menghapus rekaman. "Saya sangat terkejut dan takut untuk berkencan lagi setelah kejadian itu," ujarnya kepada CNBC. Kisah serupa juga mencuat di media sosial, di mana kacamata tersebut dijuluki "kacamata cabul" karena kamera tersembunyinya kerap disalahgunakan untuk merekam tanpa izin.
Analis dari Moor Insights & Strategy, Anshel Sag, menyatakan keheranannya terhadap pembatalan IPO Oura. "Saya yakin ada sesuatu yang lain yang menyebabkan mereka mundur, dan itu bukan pasar," katanya. "Mereka melompat keluar dari IPO ini terasa aneh." Sementara itu, analis DA Davidson, Gil Luria, menilai bahwa perlawanan terhadap kacamata berkamera sudah sedemikian kuat. "Untuk saat ini sudah selesai. Kita harus meninjau ulang 10 tahun dari sekarang," tegasnya.
Tekanan terhadap perangkat AI wearable tidak hanya datang dari konsumen, tetapi juga dari regulator dan institusi. Di Washington, debat kebijakan tentang risiko keamanan AI semakin intens menjelang pemilihan tengah periode November. Pusat data raksasa yang menjulang telah menjadi simbol oposisi terhadap AI di Amerika Serikat. Alat pemindai pelat nomor milik Flock Safety pun menjadi sasaran vandalisme, dan beberapa kota memutus kontrak akibat protes warga. Kacamata pintar dilarang di gym dan ruang publik tertentu karena dikhawatirkan melanggar privasi.
Masalah desain dan eksekusi juga menjadi batu sandungan. Avi Greengart, pendiri Techsponential, mengingatkan bahwa perangkat wearable kesehatan seperti jam tangan dan cincin telah menunjukkan manfaat nyata, tetapi gawai AI yang menonjolkan gaya justru sering gagal. Ia menyoroti Rabbit r1 yang minim kegunaan dan Humane AI Pin yang dihentikan tahun lalu setelah ulasan buruk. "Jika Anda memaksa orang membayar $700 untuk perangkat yang overheat, antarmuka tidak berfungsi di bawah sinar matahari, dan baterai lemah, kecuali ada keajaiban, itu tidak akan berhasil," ujarnya.
Bagi sebagian konsumen, nilai tambah perangkat AI wearable masih belum jelas. Nowroozi, yang saudarinya memiliki kacamata Meta, memilih menunda pembelian. "Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ini berbeda dari apa yang bisa dilakukan ponsel," katanya. Keraguan ini menjadi cerminan bahwa inovasi teknologi tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan, tetapi harus menjawab kebutuhan nyata dan mengatasi kekhawatiran etis.
Ke depan, masa depan pasar AI wearable akan sangat bergantung pada kemampuan produsen meyakinkan publik bahwa perangkat mereka aman, berguna, dan tidak mengorbankan privasi. Tanpa itu, gelombang inovasi ini bisa jadi hanya gelembung yang meletus sebelum benar-benar matang. Pertanyaannya, apakah raksasa teknologi mampu berinovasi secara bertanggung jawab, ataukah mereka akan terus menabrak tembok penolakan sosial?



