Pasca-Salah: Siapa Penerus Mahkota Afrika di Premier League?
Baca dalam 60 detik
- Kepergian Mohamed Salah ke Trabzonspor menandai berakhirnya era dominasi pemain Afrika di Premier League, membuka kompetisi ketat untuk penerusnya.
- Antoine Semenyo, Omar Marmoush, dan Bryan Mbeumo menjadi kandidat utama, dengan performa impresif dan nilai transfer tinggi.
- Talenta muda seperti Benjamin Fredrick dan Zadok Yohanna siap menjadi bintang baru, sementara Victor Osimhen masih menjadi incaran klub-klub papan atas.

Keheningan di Anfield setelah kepergian Mohamed Salah ke Trabzonspor bukan hanya kehilangan bagi Liverpool, tetapi juga menandai berakhirnya satu era bagi sepak bola Afrika di Premier League. Selama sembilan musim, pemain asal Mesir itu mencatatkan 191 gol dan 93 assist dalam 308 penampilan, menjadikannya pencetak gol terbanyak keempat sepanjang sejarah kompetisi. Kini, pertanyaan besarnya adalah: siapa yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan 'Raja Mesir' tersebut?
Persaingan untuk menjadi bintang Afrika berikutnya di liga paling kompetitif di dunia ini tidak akan mudah. Beberapa nama telah muncul sebagai kandidat kuat, dengan statistik dan performa yang menjanjikan. Namun, tekanan untuk menyamai standar Salah—yang konsisten mencetak 20+ gol per musim—adalah tantangan tersendiri. Selain itu, klub-klub besar Eropa kini semakin agresif memburu talenta Afrika, membuat persaingan semakin ketat.
Antoine Semenyo, penyerang Ghana yang baru direkrut Manchester City dengan nilai transfer £65 juta, menjadi sorotan utama. Perjalanannya tidak mudah: ditolak Arsenal, Tottenham, dan Crystal Palace saat remaja, ia baru debut di Premier League pada 2023. Namun, musim lalu ia mencetak 17 gol, menunjukkan peningkatan pesat. Semenyo diharapkan bisa menjadi andalan lini depan City dan timnas Ghana, meski ia harus bersaing dengan Erling Haaland yang haus gol.
Di sisi lain, Omar Marmoush, yang juga memperkuat Manchester City, belum menunjukkan performa konsisten. Dengan hanya tiga gol dalam 22 start di liga, ia lebih sering menjadi pelengkap di bawah bayang-bayang Haaland. Namun, ketertarikan Tottenham untuk merekrutnya bisa menjadi peluang baginya untuk bersinar di klub yang lebih membutuhkan kreativitas. Sementara itu, Bryan Mbeumo, yang pindah ke Manchester United dengan nilai £65 juta, hanya mencatatkan 14 keterlibatan gol musim lalu, tetapi ia diyakini akan tampil lebih baik setelah melewatkan Piala Dunia.
Ismaila Sarr dari Crystal Palace juga layak diperhitungkan. Penyerang Senegal ini menyamai rekor legenda Roger Milla dengan empat gol di Piala Dunia 2026, dan musim lalu ia mencetak 21 gol di semua kompetisi, membawa Palace juara Liga Konferensi UEFA. Ketertarikan Manchester United untuk memulangkannya ke Old Trafford menunjukkan reputasinya yang semakin meningkat.
Di luar nama-nama tersebut, ada talenta muda yang siap mengejutkan. Benjamin Fredrick, bek Nigeria yang baru dipromosikan ke tim utama Brentford, adalah contoh langka pemain yang direkrut langsung dari Nigeria. Ia sempat cedera sebelum Piala Afrika, tetapi pelatih Keith Andrews melihat potensi besar padanya. Sementara itu, Zadok Yohanna, pemain sayap Nigeria yang dibeli Brighton seharga £21,5 juta, memiliki profil yang mirip dengan Salah: kaki kiri, beroperasi dari sayap kanan. Jika ia bisa berkembang seperti Salah, Brighton bisa mendapatkan permata berharga.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, persaingan ini menarik untuk diikuti karena banyak pemain Afrika yang menjadi langganan di liga-liga Eropa, dan beberapa di antaranya pernah tampil di Indonesia. Kehadiran mereka tidak hanya meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga menginspirasi generasi muda Indonesia untuk bermimpi menembus liga top dunia. Selain itu, dengan semakin banyaknya pemain Afrika yang sukses, peluang bagi pemain Asia Tenggara untuk bersaing di level tertinggi juga terbuka lebar.
Pertanyaan yang menggantung adalah: akankah ada pemain Afrika yang mampu menyamai atau bahkan melampaui rekor Salah? Atau justru era baru ini akan diwarnai oleh persaingan yang lebih merata, di mana tidak ada satu pun yang mendominasi? Yang jelas, Premier League tetap menjadi panggung bagi talenta Afrika untuk bersinar, dan musim ini akan menjadi ajang pembuktian bagi para calon penerus 'Raja Mesir'.



