West Ham Larang Yel-Yel Anti-Palestina untuk Pemain Anyar Manor Solomon
Baca dalam 60 detik
- Manajemen West Ham secara terbuka mengecam nyanyian bernada politis yang menyasar Manor Solomon pada laga pembuka Championship.
- Klub menegaskan setiap suporter adalah duta yang wajib menjaga iklim stadion tetap aman dan inklusif bagi semua latar belakang.
- Langkah ini menjadi uji konsistensi bagi kebijakan keberagaman West Ham di tengah tensi geopolitik yang kian sensitif.

West Ham United secara resmi mengimbau para pendukungnya untuk menghentikan nyanyian bernada ofensif yang menyasar pemain sayap anyar mereka, Manor Solomon. Imbauan itu muncul setelah sebagian suporter meneriakkan chant berisi pesan anti-Palestina saat laga tandang perdana Championship melawan Burnley di Turf Moor, yang berakhir imbang 2-2 pada akhir pekan lalu.
Klub asal London timur itu menyatakan mengetahui adanya nyanyian tersebut dan menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak sejalan dengan nilai-nilai yang mereka junjung. Dalam pernyataan resmi yang dirilis sebelum laga kandang perdana musim ini melawan Charlton Athletic, Sabtu (16/8), West Ham mengingatkan bahwa setiap suporter adalah duta klub yang bertanggung jawab menjaga reputasi tim.
Manor Solomon, pemain internasional Israel dengan 49 caps, baru saja direkrut dari Tottenham Hotspur setelah sebelumnya dipinjamkan ke Fulham dan Leeds United. Pemain berusia 27 tahun itu juga pernah menjuarai tiga gelar bersama Shakhtar Donetsk di Ukraina sebelum pindah ke Inggris. Kehadirannya di skuad The Hammers menjadi sorotan, terutama di tengah situasi politik Timur Tengah yang masih memanas.
Dalam pernyataannya, West Ham menekankan bahwa seluruh penggemar dari beragam latar belakang harus merasa bebas menikmati pertandingan tanpa rasa takut, diskriminasi, atau pelecehan. Klub juga menggarisbawahi komitmennya untuk memastikan setiap orang merasa aman, dihormati, dan diterima. Meski demikian, mereka mengakui bahwa bernyanyi dan berchant merupakan tradisi yang mengakar dalam pengalaman menonton sepak bola.
"Kami mendorong suporter untuk bernyanyi dengan lantang dan bangga tentang klub dan para pemain yang mengenakan seragam claret and blue, tetapi tidak dengan cara yang menciptakan perpecahan atau menyinggung sesama penggemar," demikian bunyi pernyataan resmi klub, seperti dikutip BBC Sport.
Langkah West Ham ini sejalan dengan sikap tegas yang mulai diambil banyak klub Eropa dalam menangani isu sensitif di tribun. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap muncul ketika nuansa politik atau agama terbawa ke dalam stadion. Para pengamat sepak bola nasional menilai bahwa pendekatan preventif seperti yang dilakukan West Ham bisa menjadi contoh bagi klub-klub di Liga 1 untuk lebih serius menangani potensi konflik di kalangan suporter.
Pernyataan West Ham juga menegaskan bahwa setiap suporter adalah duta klub, sebuah pesan yang relevan tidak hanya bagi pendukung di London, tetapi juga bagi basis penggemar di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang memiliki komunitas The Hammers yang cukup besar. Dengan semakin mudahnya akses siaran langsung dan media sosial, perilaku suporter di stadion kini menjadi sorotan global.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana West Ham akan menindaklanjuti imbauan ini jika nyanyian serupa kembali terdengar. Apakah akan ada sanksi tegas bagi individu yang terbukti melanggar, atau sekadar seruan moral? Keputusan klub dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi barometer komitmen mereka terhadap nilai inklusivitas yang selama ini digaungkan.



