Barcelona Tanpa Striker Murni: Eksperimen Flick di Tengah Perburuan Julian Alvarez
Baca dalam 60 detik
- Kehilangan Lewandowski dan Torres, Barcelona belum memiliki penyerang tengah murni jelang laga perdana La Liga.
- Flick mengandalkan Lamine Yamal sebagai false nine, sementara opsi lain seperti Dani Olmo dan Raphinha juga dipertimbangkan.
- Bursa transfer masih terbuka hingga 1 September, dengan Julian Alvarez menjadi target utama meski Atletico menolak melepasnya.

Barcelona memulai musim 2025/2026 dengan tantangan besar: tidak adanya striker murni di skuad utama. Kepergian Robert Lewandowski ke Chicago Fire dan Ferran Torres ke Paris Saint-Germain membuat lini depan Blaugrana kehilangan dua opsi utama di posisi nomor sembilan. Dengan laga perdana La Liga melawan Elche pada 23 Agustus, pelatih Hansi Flick harus segera mencari solusi, baik melalui bursa transfer yang masih terbuka hingga 1 September maupun dengan memaksimalkan pemain yang ada.
Musim panas ini, Barcelona memang aktif memperkuat skuad. Kedatangan Rodri dari Manchester City menambah kelas di lini tengah, sementara Anthony Gordon dan Karim Adeyemi memberikan kecepatan di sisi sayap. Namun, absennya penyerang tengah murni menjadi celah yang jelas. Lewandowski, yang berusia 37 tahun, memilih hengkang setelah kontraknya habis, sedangkan Torres, yang mencetak 21 gol musim lalu, dijual sekitar 50 juta euro. Keputusan ini membuat lini depan Barca kehilangan ketajaman dan pengalaman.
Flick mengakui situasi ini harus segera diatasi. โKami tahu kami harus melakukan sesuatu,โ ujarnya, sambil menunjuk kemampuan Lamine Yamal bermain sebagai false nine. Yamal, yang baru berusia 18 tahun, telah menjadi pusat serangan Barcelona dengan 24 gol musim lalu dan gelar Piala Dunia bersama Spanyol. Namun, Flick lebih suka menempatkan Yamal di sayap kanan, di mana ia bisa memanfaatkan kemampuannya melewati bek sayap dan menciptakan peluang dari situasi sulit.
Selain Yamal, Flick memiliki beberapa opsi lain. Dani Olmo bisa beroperasi sebagai false nine, Raphinha juga pernah dimainkan di tengah, dan Fermin Lopez mengaku nyaman di posisi tersebut. Gordon dan Adeyemi menawarkan kecepatan dan penetrasi, meski keduanya bukan striker murni. Alternatif lain adalah memainkan lini depan yang cair, dengan rotasi posisi yang konstan, membuat lawan kesulitan mengantisipasi pergerakan pemain Barca.
Meski begitu, manajemen Barcelona tetap memprioritaskan rekrutan striker spesialis. Target utama mereka adalah Julian Alvarez dari Atletico Madrid. Pemain Argentina berusia 26 tahun itu sempat menyatakan ingin pindah, namun Atletico dengan tegas menolak melepasnya, bahkan untuk tawaran 200 juta euro. CEO Atletico, Miguel Angel Gil Marin, menegaskan klub tidak akan menjual Alvarez, yang juga diminati Real Madrid. Situasi ini membuat Barcelona harus mencari alternatif lain.
Nama Viktor Gyokeres dari Arsenal muncul sebagai kandidat kuat. Penyerang Swedia berusia 28 tahun itu bergabung dengan Arsenal dari Sporting musim lalu dengan nilai transfer hingga 73 juta euro dan mencetak 21 gol di musim pertamanya. Namun, meyakinkan Arsenal untuk menjual Gyokeres setelah hanya satu musim akan membutuhkan komitmen finansial yang besar. Selain itu, Inter Milan dan Sporting juga dikaitkan dengan Lautaro Martinez dan Luis Suarez, menunjukkan Barcelona sedang menjajaki berbagai opsi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa harus beradaptasi dengan perubahan skuad. Barcelona, yang selama ini identik dengan striker haus gol, kini harus mengandalkan fleksibilitas taktik. Ini juga menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, bahwa kesuksesan tidak selalu bergantung pada satu posisi, melainkan pada kemampuan tim beradaptasi.
Flick, yang dikenal dengan pendekatan taktisnya, tampaknya siap mengambil risiko. Dengan skuad yang ada, Barcelona bisa tampil lebih dinamis dan sulit ditebak. Namun, tanpa striker murni, mereka kehilangan referensi di kotak penalti lawan. Pertanyaannya, akankah eksperimen ini berhasil di La Liga yang kompetitif? Atau justru menjadi bumerang bagi Barcelona di tengah persaingan dengan Real Madrid dan Atletico? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: Barcelona harus segera mengambil keputusan sebelum bursa transfer ditutup.



