Api Asian Games 2026 Menyala di Hiroshima, Mengawali Estafet Menuju Aichi
Baca dalam 60 detik
- Upacara penyalaan api Asian Games 2026 digelar di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima, mengambil simbolisme dari api perdamaian yang menyala sejak bom atom 1945.
- Jalur estafet akan dimulai dari Nagoya dengan atlet gulat legendaris Saori Yoshida sebagai pembawa pertama, menyusuri Prefektur Aichi sebelum pembukaan 19 September.
- Perhelatan ini menjadi ajang bagi Jepang untuk menegaskan kembali komitmennya pada perdamaian dan persatuan Asia, sekaligus menguji kesiapan logistik dan infrastruktur olahraga regional.

Hiroshima, Kamis โ Rangkaian menuju Asian Games 2026 resmi dimulai dengan upacara penyalaan api yang sarat makna di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima. Wali Kota Hiroshima, Mazumi Matsui, mengambil api dari 'Flame of Peace', simbol abadi yang menyala sejak tragedi bom atom 1945, untuk kemudian diarak dalam estafet menuju lokasi utama perhelatan di Prefektur Aichi.
Pemilihan Hiroshima sebagai titik awal bukanlah kebetulan. Kota ini, bersama Tokyo yang telah menggelar upacara serupa pada Selasa lalu, mewakili dua sisi sejarah Asian Games: Tokyo sebagai tuan rumah edisi 1958, dan Hiroshima yang pernah menjadi tuan rumah pada 1994. Kini, estafet akan menyatukan kedua warisan tersebut sebelum puncak acara di Aichi, prefektur yang akan menjadi pusat perhelatan olahraga terbesar kedua di Asia setelah Olimpiade.
Kehadiran Hajime Moriyasu, manajer tim nasional sepak bola Jepang, menambah bobot acara. Moriyasu, yang namanya lekat dengan klub Sanfrecce Hiroshima, bukan sekadar tamu kehormatan. Ia adalah representasi dari hubungan emosional antara olahraga dan kota yang pernah luluh lantak oleh perang. Baginya, momen ini adalah pengingat bahwa olahraga mampu merajut kembali apa yang pernah tercerai-berai.
Rangkaian estafet akan mencapai titik kulminasi pada Sabtu ini di Nagoya, ibu kota Aichi, ketika api dari berbagai daerah akan disatukan. Saori Yoshida, peraih tiga medali emas Olimpiade dalam cabang gulat wanita, ditunjuk sebagai pembawa obor pertama. Pilihan ini dinilai strategis: Yoshida adalah ikon olahraga Jepang yang dihormati, sekaligus simbol kekuatan dan ketangguhan yang ingin ditonjolkan dalam pesta olahraga kali ini.
Bagi Indonesia, perhelatan ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang tengah giat membangun infrastruktur olahraga, penyelenggaraan Asian Games di Jepang menjadi tolok ukur efisiensi dan manajemen acara berskala besar. Pelajaran tentang bagaimana Jepang mengintegrasikan nilai-nilai sejarah dan perdamaian ke dalam acara olahraga modern bisa menjadi referensi berharga, terutama jika Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang serupa di masa depan.
Estafet obor yang akan menyusuri Aichi selama hampir satu bulan ini bukan hanya soal perjalanan fisik, tetapi juga narasi tentang rekonsiliasi dan harapan. Dari abu Hiroshima, api kini membawa pesan persatuan Asia. Pertanyaannya, akankah semangat ini mampu bertahan di tengah rivalitas geopolitik yang kian memanas di kawasan? Atau justru menjadi pengingat bahwa olahraga tetap menjadi bahasa universal yang mampu meredam perbedaan?



