Harga Minyak Stabil di Tengah Ketegangan AS-Iran, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Brent bertahan di kisaran US$91,87 per barel, sementara WTI sedikit turun, mencerminkan pasar yang menunggu eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
- Keputusan UEA menghentikan transaksi dengan Iran menambah ketidakpastian pasokan, terutama melalui Selat Hormuz yang rawan blokade.
- Kenaikan stok minyak AS yang melampaui perkiraan memberi sinyal perlambatan permintaan, namun risiko geopolitik tetap menjadi penopang utama harga.

Harga minyak mentah dunia bergerak tipis pada perdagangan Kamis pagi (20/8) di tengah investor yang mencermati dinamika perang AS-Iran serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brent untuk pengiriman Oktober naik 0,3 persen ke level US$91,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September melemah tipis ke US$85,81. Pasar sejauh ini masih menahan napas, menunggu sinyal apakah konflik akan meluas atau justru mereda.
Kedua acuan harga utama ini sebenarnya telah mencatat penguatan empat hari beruntun pada Rabu, menembus level tertinggi sejak 24 Juli. Namun, momentum tersebut tampaknya mulai kehilangan tenaga. Hiroyuki Kikukawa, kepala strategi Nissan Securities Investment, menilai pasar masih disokong oleh serangan sporadis di kawasan Timur Tengah, tetapi tanpa eskalasi besar, harga sulit melaju lebih jauh. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian negosiasi damai serta ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran berpotensi menjaga tren kenaikan secara bertahap.
Fokus pasar kembali tertuju pada hubungan UEA-Iran setelah negara Teluk itu memutuskan untuk menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah ini mempertegas keretakan di antara dua produsen minyak utama kawasan tersebut. Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Selasa bahwa tidak ada pembicaraan dengan Iran dan Selat Hormuz tetap terbuka, langsung dibantah oleh Iran yang menyebut jalur air itu masih ditutup. Data pelayaran menunjukkan arus kapal di Selat Hormuz melambat karena sebagian besar pemilik kapal menghindari kawasan rawan tersebut.
Di Amerika Serikat, laporan Energy Information Administration (EIA) pada Rabu mengungkapkan bahwa stok minyak mentah dan bensin naik, sementara stok distilat turun. Stok minyak mentah bertambah 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus, jauh di atas perkiraan analis yang hanya memperkirakan penurunan 600.000 barel. Data ini memberikan gambaran bahwa permintaan domestik AS mungkin tidak sekuat yang diasumsikan, meski pasar lebih fokus pada risiko pasokan global.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran subsidi energi dan inflasi. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga Brent berarti beban fiskal yang lebih besar untuk menjaga harga BBM di dalam negeri. Jika harga bertahan di atas US$90 per barel, pemerintah harus mengalokasikan tambahan subsidi atau kompensasi, yang dapat mempersempit ruang fiskal untuk program lain. Di sisi lain, risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz juga dapat mempengaruhi biaya impor dan stabilitas pasokan energi nasional.
"Pasar masih disokong oleh serangan sporadis di Timur Tengah, tetapi tanpa eskalasi besar, harga sulit melaju lebih jauh," ujar Hiroyuki Kikukawa, kepala strategi Nissan Securities Investment.
Ke depan, arah pergerakan harga akan sangat ditentukan oleh perkembangan politik di kawasan Teluk. Jika AS dan Iran mencapai kesepakatan diplomatik, tekanan harga bisa mereda dengan cepat. Namun, jika ketegangan justru meningkat, bukan tidak mungkin Brent menembus level psikologis US$100 per barel. Pertanyaan yang menggantung: mampukah pasar bertahan di tengah ketidakpastian yang masih pekat ini, dan bagaimana negara-negara importir seperti Indonesia menyiapkan diri?



