Chanathip Songkrasin Incar Trofi FIFA ASEAN Cup 2026, Tantang Indonesia di SUGBK
Baca dalam 60 detik
- Kapten Thailand, Chanathip Songkrasin, menegaskan ambisinya memenangkan FIFA ASEAN Cup 2026 meski telah mengoleksi tiga gelar Piala AFF.
- Turnamen bentukan FIFA ini dianggap berprestise karena digelar pada jeda internasional dan diikuti skuad terbaik, berbeda dengan Piala AFF.
- Duel final di SUGBK menjadi pemanasan krusial sebelum kedua tim bertemu lagi di Grup A Piala Asia 2027.

Kapten Timnas Thailand, Chanathip Songkrasin, mengusung misi pribadi ke Jakarta: merebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026. Gelandang berjuluk Jay itu sudah tiga kali mengangkat Piala AFF, namun ia menilai gelar anyar ini punya bobot berbeda. Thailand akan menghadapi Indonesia di partai puncak pada Senin (5/10/2026) malam WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Pusat.
Dalam sesi jumpa pers sehari sebelum laga, Minggu (4/10/2026), Chanathip ditanya soal motivasinya. Ia menjawab tegas bahwa FIFA ASEAN Cup bukan sekadar turnamen regional biasa. "Ini FIFA ASEAN, dan saya rasa semua tim membawa skuad terbaik. Ini juga pertama kalinya FIFA mengakui turnamen ini," ujarnya, seperti dikutip dari sesi konferensi pers.
FIFA ASEAN Cup memang baru muncul sebagai kompetisi bentukan FIFA, meski Asia Tenggara telah lama memiliki Piala AFF yang digelar dua tahunan. Perbedaan mendasar terletak pada penjadwalan: FIFA ASEAN Cup berlangsung di tengah jeda internasional, sehingga klub-klub Eropa dan Asia wajib melepas pemainnya. Kondisi ini membuat kualitas dan intensitas pertandingan diprediksi lebih tinggi ketimbang Piala AFF yang kerap berbenturan dengan jadwal liga domestik.
Bagi Chanathip, trofi ini juga menjadi pelengkap koleksi regionalnya. "Saya dan rekan-rekan serta staf pelatih ingin menciptakan sejarah. Itu hal yang penting," tambahnya. Ambisi tersebut bukan tanpa alasan. Sepanjang kariernya, ia belum pernah merasakan gelar di turnamen yang diakui FIFA secara resmi. Piala AFF, meski bergengsi di kawasan, tidak masuk kalender FIFA.
"Jika kami menang, kami akan bertemu mereka lagi di Piala Asia. Itu akan menambah kepercayaan diri kami," kata Chanathip.
Pernyataan itu merujuk pada undian Piala Asia 2027 Arab Saudi, di mana Thailand dan Indonesia berada satu grup di Grup A bersama Jepang dan Qatar. Laga final di SUGBK pun menjadi pemanasan psikologis yang signifikan. Kemenangan atas Indonesia akan memberi modal mental berharga sebelum bertemu kembali di turnamen yang lebih besar, Januari-Februari tahun depan.
Dari kacamata Indonesia, partai puncak ini adalah ujian karakter. Tim asuhan pelatih saat ini dituntut tampil konsisten di hadapan pendukung sendiri. Tekanan publik di SUGBK bisa menjadi pedang bermata dua: memompa semangat atau justru membebani pemain. Sejarah mencatat, Indonesia sering kesulitan menutup turnamen dengan gelar, meski beberapa kali melaju ke final Piala AFF. Kini, kesempatan itu datang lagi, dengan lawan yang sama-sama mengincar sejarah.
Chanathip juga menyoroti peran suporter dan regenerasi. "Penggemar Thailand, pelatih, dan pemain lain ingin dorongan untuk bergabung ke skuad ini," ucapnya. Ia berharap gelar FIFA ASEAN Cup bisa memicu minat pemain muda Thailand untuk memperkuat tim nasional. Hal serupa sebenarnya juga berlaku bagi Indonesia: trofi di level ASEAN bisa menjadi magnet bagi pemain diaspora maupun akademi lokal.
Secara taktis, kehadiran Chanathip di lini tengah tetap menjadi ancaman utama. Visi bermain dan pengalaman internasionalnya membuat Thailand sulit diprediksi. Namun, Indonesia memiliki keunggulan atmosfer dan motivasi untuk membalas kekalahan di turnamen-turnamen sebelumnya. Pertanyaan besarnya: akankah ambisi pribadi Chanathip mengalahkan tekad Indonesia untuk juara di rumah sendiri? Jawabannya akan terlihat dalam 90 menit di SUGBK.



