Phil Collins Akhiri Permusuhan 24 Tahun dengan Paul McCartney: Dari Tersinggung Hingga Berdamai
Baca dalam 60 detik
- Phil Collins mengungkapkan bahwa perseteruannya dengan Paul McCartney selama 24 tahun berakhir setelah keduanya berbicara lewat telepon dan saling memaafkan.
- Akar konflik adalah komentar McCartney yang dianggap merendahkan saat gladi resik konser Jubilee Emas Ratu Elizabeth II pada 2002.
- Meski sudah berdamai, Collins tetap menyindir sifat McCartney yang ingin selalu disukai, menunjukkan bahwa luka lama belum sepenuhnya hilang.

Perseteruan panjang antara dua ikon musik dunia, Phil Collins dan Sir Paul McCartney, akhirnya menemui titik terang. Setelah 24 tahun saling membisu, Collins memastikan hubungan mereka telah membaik. Konflik yang berakar dari salah paham di balik panggung konser Jubilee Emas Ratu Elizabeth II pada 2002 itu kini menjadi pelajaran tentang ego dan komunikasi di industri hiburan.
Dalam wawancara dengan Piers Morgan, Collins mengenang momen pahit yang memicu keretakan. Saat itu ia dipercaya sebagai drummer utama untuk konser akbar di Istana Buckingham, kecuali untuk penampilan McCartney dan Brian Wilson yang membawa band sendiri. Collins mengaku sangat menikmati perannya, bahkan membawa buku biografi Beatles edisi pertama karya Hunter Davies untuk minta tanda tangan McCartney. Namun, ketika McCartney datang bersama Heather Mills, komentar sang legenda—"He's a big Beatle fan, is our little Phil"—justru membuat Collins merasa direndahkan. Kata "little" itulah yang menurut Collins menjadi pemicu kemarahannya.
Collins kemudian menuliskan insiden tersebut dalam memoarnya, Not Dead Yet (2016). McCartney sempat menghubunginya melalui email, tetapi Collins mengabaikannya. Bertahun-tahun kemudian, seorang jurnalis menanyakan kutipan itu kepada McCartney, yang membalas dengan email menyebut tindakan Collins "agak sok suci". Collins pun tidak menanggapi. Selama bertahun-tahun, video-video di YouTube ramai mempertanyakan permusuhan mereka, menambah beban psikologis bagi keduanya.
Titik balik terjadi beberapa bulan lalu ketika McCartney meminta nomor telepon Collins melalui kantornya. Tujuannya adalah menanyakan surat yang dikirim Collins kepada semua musisi yang pernah bekerja sama dengannya, meminta donasi untuk lelang amal King's Trust. Dalam percakapan telepon itu, McCartney membuka topik lama. Collins pun menyatakan penyesalannya: "Saya berharap saya tidak pernah mengatakannya, Paul. Saya berharap saya tidak pernah mengatakannya." Ia meminta maaf dan keduanya berdamai.
"Saya sudah berdamai. Saya minta maaf," ujar Collins menirukan ucapannya kepada McCartney.
Meski demikian, Collins tak bisa menahan diri untuk melontarkan sindiran terakhir. Ia menilai McCartney sangat ingin disukai, bahkan lebih dari kebanyakan orang. "Jelas ini mengganggunya karena dia suka disukai, seperti kita semua... mungkin dia lebih dari yang lain. Tapi kita semua suka disukai, dan saya memahami itu," tambahnya. Sindiran ini menunjukkan bahwa meski permusuhan telah usai, rasa kesal masih menyisakan sedikit bara.
Bagi industri musik, rekonsiliasi ini bukan sekadar cerita gosip. Perseteruan antar-legenda sering kali memengaruhi kolaborasi dan warisan artistik. Di Indonesia, konflik serupa juga kerap terjadi, misalnya antara musisi senior yang berseteru karena pernyataan di media sosial atau salah paham di atas panggung. Publik Tanah Air biasanya menantikan momen rekonsiliasi, seperti yang pernah terjadi pada beberapa grup band legendaris. Kisah Collins dan McCartney menjadi cermin bahwa ego dan kesalahpahaman bisa merusak hubungan profesional, tetapi komunikasi yang jujur dapat memulihkannya.
Ke depan, apakah perdamaian ini akan berlanjut ke kolaborasi musik? Mengingat usia keduanya yang tak lagi muda, peluang itu mungkin kecil, tetapi tidak mustahil. Yang jelas, penggemar di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—berharap hubungan baik ini bertahan, setidaknya hingga panggung amal November nanti. Akankah mereka tampil bersama? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi setidaknya permusuhan 24 tahun telah berakhir.



