Richarlison Gagal Total di Laga Pembuka, Tottenham Makin Yakin Melepasnya
Baca dalam 60 detik
- Penyerang asal Brasil itu hanya mencatatkan 21 sentuhan dan kalah dalam delapan dari sepuluh duel sepanjang 68 menit bermain.
- Kekalahan 0-3 dari Brentford mempertegas kesenjangan performa antara Richarlison dan rekan setimnya, Igor Thiago, yang tampil dominan.
- Dengan kontrak tersisa satu tahun dan Omar Marmoush dikabarkan segera bergabung, kepergian Richarlison dari Tottenham semakin dekat.

Laga perdana Tottenham Hotspur di Premier League musim ini berakhir dengan mimpi buruk. Dalam waktu 49 menit, The Lilywhites sudah tertinggal tiga gol tanpa balas dari Brentford di Gtech Community Stadium. Kekalahan telak ini tidak hanya memupus optimisme yang dibangun sepanjang pramusim, tetapi juga menjadi panggung bagi performa buruk Richarlison yang kian memperjelas bahwa kariernya di London Utara sudah di ujung tanduk.
Sejak awal pertandingan, Brentford tampil agresif dan mendominasi setiap lini. Gol-gol yang tercipta bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari pressing ketat dan transisi cepat yang membuat lini tengah Tottenham kewalahan. Ironisnya, Tottenham telah menggelontorkan dana sebesar 185 juta poundsterling untuk membangun lini tengah baru, namun justru gelandang Brentford, Mamadou Sangare, yang menjadi bintang dengan assist-nya. Sementara itu, duet Sandro Tonali dan Mateus Fernandes baru mampu menunjukkan sinergi di babak kedua, ketika keadaan sudah tidak menguntungkan.
Di lini belakang, kiper Antonin Kinsky tampil goyah, sementara duet bek tengah Jan Paul van Hecke dan Marcos Senesi kesulitan menghadapi pergerakan Igor Thiago. Thiago, yang musim lalu mencetak 22 gol di liga Belgia, menjadi momok bagi pertahanan Tottenham. Ia tidak hanya tajam di depan gawang, tetapi juga aktif turun membantu lini tengah, sebuah kualitas yang kontras dengan penampilan Richarlison yang justru tenggelam.
Richarlison, yang musim lalu menjadi top skor Tottenham dengan 11 gol di liga, tampak tidak berdaya. Ia gagal menjadi titik tumpu serangan, bola jarang bersarang di kakinya, dan ketika berduel, ia kerap kalah. Komentator Sky Sports, Alan Smith, bahkan menyebutnya "diintimidasi" oleh lini belakang Brentford. Catatan 27 gol dalam empat musim di Tottenham memang tidak bisa dianggap remeh, tetapi penampilan seperti ini semakin menegaskan bahwa ia bukan lagi pemain yang dibutuhkan.
Pelatih Roberto De Zerbi sendiri sebelumnya telah mengisyaratkan ketidakpastian masa depan Richarlison. Laporan Football FanCast menyebutkan bahwa pemain berusia 29 tahun itu masuk dalam daftar pemain yang kemungkinan dijual. Dengan kehadiran Dominic Solanke yang kembali pulih dan Omar Marmoush yang dikabarkan akan segera bergabung, posisi Richarlison semakin terdesak. Kekalahan dari Brentford hanyalah pemicu yang mempercepat proses kepergiannya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk disimak. Bagaimana klub-klub Eropa, termasuk Tottenham, berani mengambil keputusan tegas terhadap pemain yang performanya menurun, menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub di Liga 1 yang kerap mempertahankan pemain bintang terlalu lama. Keputusan Tottenham untuk melepas Richarlison, jika terealisasi, akan menjadi sinyal bahwa klub modern tidak segan memutuskan ikatan dengan pemain yang tidak lagi memberikan kontribusi optimal.
Pertanyaannya kini, ke mana Richarlison akan berlabuh? Dengan usia yang masih 29 tahun dan pengalaman di Premier League, ia mungkin masih diminati klub-klub papan tengah Inggris atau liga-liga lain di Eropa. Namun, jika ia tidak segera menemukan performa terbaiknya, kariernya bisa semakin meredup. Tottenham, di sisi lain, harus segera berbenah. Kekalahan telak ini menjadi alarm bahwa proyek De Zerbi masih jauh dari kata matang, dan tanpa tambahan pemain berkualitas, musim ini bisa menjadi musim yang panjang dan menyakitkan bagi pendukung Spurs.



