Hallgrímsson Desak UEFA Pisahkan Irlandia dan Israel di Undian Berikutnya
Baca dalam 60 detik
- Manajer Republik Irlandia Heimir Hallgrímsson meminta UEFA menjauhkan timnya dari Israel pada undian turnamen mendatang.
- Laga Nations League di Backa Topola berakhir imbang 1-1 dan diwarnai ketegangan, termasuk insiden di terowongan.
- FAI sebelumnya mengajukan mosi agar Israel dilarang tampil di kompetisi klub dan internasional.

Manajer Republik Irlandia Heimir Hallgrímsson secara terbuka mendesak UEFA mengambil langkah tegas agar timnya tidak lagi dipertemukan dengan Israel pada undian kompetisi berikutnya. Pernyataan itu muncul setelah kedua negara menyelesaikan dua pertemuan Nations League yang berlangsung panas, termasuk laga tanpa penonton di TSC Arena, Backa Topola, Serbia, Minggu.
Pertemuan kedua di Grup B3 itu berakhir imbang 1-1. Irlandia unggul lebih dulu lewat penalti Troy Parrott pada menit ke-39, tetapi Dor Peretz menyamakan kedudukan dua menit setelah babak kedua dimulai. Hasil ini memperpanjang catatan tak terkalahkan Irlandia dalam dua laga melawan Israel, setelah sebelumnya menang 3-0 di Debrecen, Hungaria.
Hallgrímsson mengakui dua pekan terakhir menjadi periode berat bagi seluruh anggota tim. Ia menilai situasi yang menyertai laga-laga tersebut berada di luar kendali pelatih dan pemain, sehingga membutuhkan intervensi otoritas sepak bola Eropa. Menurutnya, tidak ada tim nasional yang seharusnya mengalami tekanan nonteknis sebesar yang dialami Irlandia.
"Kami butuh waktu untuk merenung dan melangkah maju. UEFA perlu turun tangan dan melakukan sesuatu," ujar Hallgrímsson seperti dikutip RTE.
Ia juga menolak berkomentar lebih jauh soal insiden di terowongan saat jeda. Seorang anggota stafnya dilaporkan mengklaim telah diludahi oleh pemain Israel. Hallgrímsson menilai persoalan itu lebih tepat diserahkan kepada komite disiplin.
Ketegangan antara kedua tim sudah terasa sejak sebelum kick-off. Pemain Irlandia kembali mengenakan ban lengan hitam dan menundukkan kepala saat lagu kebangsaan Israel berkumandang. Pemain Israel juga memakai ban lengan hitam untuk mengenang korban serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kelleher, yang menggantikan Dara O'Shea sebagai kapten karena O'Shea mendapat izin mendampingi istrinya yang melahirkan, dengan sengaja tidak menjabat tangan Peretz. Sikap itu mengulang aksi O'Shea sebelum laga pertama di Hungaria, ketika ia menolak berjabat tangan dengan kapten Israel, Manor Solomon.
Duel berjalan keras sejak awal. Irlandia mulai menemukan ritme permainan ketika Jimmy Dunne dijatuhkan di kotak penalti. Wasit sempat meninjau VAR sebelum memastikan hadiah penalti. Parrott menuntaskan tugasnya dengan tenang, mengecoh kiper Assaf Tzur.
Keunggulan Irlandia tidak bertahan lama. Dor Peretz menyamakan skor setelah tembakan Oscar Gloukh mengenai Liam Scales dan mengarah kepadanya. Peretz melepaskan penyelesaian rendah yang tidak mampu dijangkau Kelleher.
Laga ini semula dijadwalkan berlangsung di Dublin. Namun, Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) memindahkannya ke venue netral pada Juni dengan alasan operasional, menyusul seruan boikot atas tindakan Israel di Gaza. FAI juga memutuskan pertandingan digelar tanpa penonton.
Keputusan itu merujuk pada mosi FAI pada November sebelumnya yang meminta UEFA melarang Israel tampil di kompetisi klub dan internasional. Mosi tersebut mencerminkan tekanan publik Irlandia yang kuat terhadap pemerintah dan federasi untuk mengambil sikap.
Ketegangan tidak berhenti di lapangan. Saat kedua tim memasuki terowongan pada jeda, terjadi perselisihan yang memaksa ofisial turun tangan. Insiden kedua pecah dalam tiga menit tambahan waktu, dan adu mulut kembali terjadi setelah peluit akhir.
Bagi Irlandia, hasil imbang ini memperpanjang catatan positif mereka di Nations League, tetapi juga menegaskan bahwa dimensi politik dan kemanusiaan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pertemuan melawan Israel. Hallgrímsson menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan UEFA sebagai regulator.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah UEFA akan mengubah kebijakan pengundian untuk menghindari potensi konflik serupa, atau tetap bertahan pada prinsip netralitas kompetisi. Keputusan itu akan menentukan bukan hanya jalannya turnamen, tetapi juga bagaimana sepak bola Eropa menavigasi tekanan politik yang semakin nyata.



