Robinson dan Tongue Bongkar Pakistan, Root Awali Era Baru Inggris dengan Kemenangan Meyakinkan
Baca dalam 60 detik
- Debut kepemimpinan kedua Joe Root langsung manis setelah Inggris melumat Pakistan hanya dalam 48,1 over berkat aksi lima wicket dari Ollie Robinson dan Josh Tongue.
- Kehancuran Pakistan di Headingley menegaskan kerentanan lini batting mereka tanpa Babar Azam, sekaligus memberi sinyal awal kebangkitan Inggris pasca-keruntuhan era Bazball.
- Dengan cuaca buruk diprediksi menghantam sisa pertandingan, Inggris kini berada di kursi pengemudi untuk meraih kemenangan seri pembuka dan membangun momentum menuju era Stephen Fleming.

Joe Root memulai babak kedua kepemimpinannya sebagai kapten Inggris dengan hasil ideal setelah para bowlernya, Ollie Robinson dan Josh Tongue, masing-masing mengambil lima wicket untuk meluluhlantakkan Pakistan menjadi 171 pada hari pertama Tes pertama di Headingley, Rabu (22/10). Kemenangan telak ini langsung menempatkan Inggris di posisi dominan, unggul 59 run dengan delapan wicket tersisa saat mereka menutup hari di 112-2.
Keputusan Root untuk memilih bowling pertama kali setelah memenangkan lemparan koin terbukti jitu. Robinson langsung memberikan pukulan telak dengan menyingkirkan Azan Awais pada bola pertama pertandingan, memanfaatkan gerakan bola yang melimpah. Sementara itu, Tongue, yang awalnya kesulitan menemukan ritme, akhirnya menemukan panjang bola yang tepat dan menghancurkan pertahanan Pakistan dengan ledakan 4-5 dari 11 bola di akhir inning.
Kinerja gemilang kedua bowler ini menjadi sorotan utama. Mereka menjadi pasangan bowler Inggris pertama yang masing-masing mengambil lima wicket dalam inning Tes yang sama sejak 20 tahun terakhir. Robinson, yang sering diabaikan karena kecepatannya yang dianggap kurang, membuktikan bahwa akurasi dan kontrol bisa mengalahkan kecepatan. Dari 12 wicket yang diambilnya musim panas ini, 10 di antaranya berasal dari bola yang mengenai stumps, dengan hanya 19 run yang dibocorkan. Sementara itu, Tongue, yang diidentifikasi sebagai bowler cepat, justru menjadi yang tercepat dengan rata-rata 87,1 mph, sementara Robinson menjadi yang terlambat dengan 78,4 mph.
Bagi Pakistan, kekalahan ini menjadi bukti nyata kerapuhan lini batting mereka, terutama tanpa kehadiran kapten Babar Azam yang cedera tangan. Abdullah Shafique (61) dan Imam-ul-Haq (42) sempat memberikan perlawanan dengan membangun kemitraan 91 run untuk wicket ketiga, tetapi begitu Tongue memecah kemitraan tersebut, Pakistan kehilangan lima wicket terakhir hanya dengan 21 run. Stand-in captain Salman Ali Agha, Ali Usman, Mohammed Rizwan, dan Mohammed Abbas semuanya tumbang, memperlihatkan kurangnya ketahanan saat menghadapi tekanan.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menarik untuk diamati karena menunjukkan bagaimana kapten baru dapat langsung memberikan dampak. Joe Root, yang kembali memimpin setelah empat tahun, menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih tenang dibandingkan pendahulunya, Ben Stokes. Ia tidak banyak berteriak atau mengatur lapangan secara agresif, tetapi lebih memilih untuk menempatkan banyak fielder di posisi menangkap. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kapten tim kriket Indonesia yang mungkin ingin mengadopsi pendekatan yang lebih kalem namun efektif dalam memimpin tim.
Meski demikian, Inggris tidak sepenuhnya mulus. Mereka kehilangan dua opener, Ben Duckett dan Emilio Gay, dengan cepat dan sempat berada di 48-2. Namun, Root (37*) dan Jordan Cox (23*) yang bermain di posisi tiga menggantikan Jacob Bethell yang cedera, berhasil menstabilkan inning dengan kemitraan yang solid. Cox, yang mengaku mendapat nasihat dari Virat Kohli, menunjukkan temperamen yang baik di bawah tekanan.
Menariknya, kemenangan ini datang di tengah masa transisi Inggris yang sedang dalam 'holding pattern' setelah pensiunnya Ben Stokes dan pemecatan Brendon McCullum. Era baru sesungguhnya baru akan dimulai ketika Stephen Fleming mengambil alih sebagai pelatih pada musim dingin. Namun, hasil ini memberikan sinyal positif bahwa Inggris masih memiliki kekuatan untuk bersaing, meskipun ada keraguan bahwa kualitas Pakistan yang sedang lemah mungkin tidak menjadi ukuran yang akurat.
Dengan hujan yang diprediksi akan turun pada hari Kamis dan Jumat, Inggris memiliki banyak waktu untuk memanfaatkan keunggulan mereka. Pertanyaannya sekarang, mampukah mereka mengonversi posisi dominan ini menjadi kemenangan seri, atau justru hujan akan menjadi 'pemain keduabelas' yang menyelamatkan Pakistan? Jawabannya akan menentukan apakah era Root yang kedua ini akan langsung bersinar atau justru meredup seperti sebelumnya.



