Forest Coba Rekrut Daniel Muñoz di Tengah Ketegangan dengan Palace
Baca dalam 60 detik
- Nottingham Forest dilaporkan telah menghubungi Crystal Palace untuk menanyakan kemungkinan transfer bek kanan Daniel Muñoz, dengan harga sekitar £25 juta.
- Langkah ini terjadi di tengah hubungan yang tegang antara kedua klub, termasuk tuntutan hukum yang diajukan pemilik Forest, Evangelos Marinakis, terhadap Palace.
- Kedatangan Muñoz akan menyatukannya kembali dengan manajer Oliver Glasner, yang sistemnya membuatnya produktif, namun usia 30 tahun membatasi nilai jual kembali.

Nottingham Forest dikabarkan telah membuka komunikasi dengan Crystal Palace untuk menjajaki kemungkinan memboyong bek kanan asal Kolombia, Daniel Muñoz, di bursa transfer musim panas ini. Langkah ini muncul di tengah hubungan yang memanas antara kedua klub, yang baru saja terlibat perseteruan di pengadilan tinggi Inggris.
Menurut jurnalis Kolombia, Pipe Sierra, Palace bersedia mempertimbangkan tawaran di kisaran £25 juta untuk pemain berusia 30 tahun tersebut. Forest pun disebut telah menghubungi pihak Palace untuk menanyakan persyaratan yang diperlukan agar kesepakatan bisa terwujud. Ketertarikan ini tidak lepas dari peran Oliver Glasner, yang sebelumnya pernah melatih Muñoz dan kini menukangi Forest.
Di bawah arahan Glasner, Muñoz berkembang pesat sebagai wing-back yang agresif. Pada musim lalu, ia mencatatkan empat gol dan tiga assist dalam 29 laga Premier League, serta total lima gol dan tujuh assist dari 46 penampilan di semua kompetisi, membantu Palace menjuarai Conference League. Produktivitasnya menjadi daya tarik utama bagi Forest yang ingin memperkuat sisi kanan pertahanan mereka.
Namun, di balik potensi transfer ini, terdapat rivalitas yang tidak biasa antara kedua klub. Semuanya bermula musim panas lalu ketika Palace, yang lolos ke Europa League setelah menjuarai FA Cup, harus turun kasta ke Conference League karena UEFA menilai kepemilikan ganda John Textor di Lyon dan Palace melanggar regulasi. Forest, yang finis ketujuh, kemudian naik ke posisi Europa League, memicu kemarahan pendukung Palace yang merasa diperlakukan tidak adil.
Ketegangan memuncak saat kedua tim bertemu di Selhurst Park pada Agustus 2025. Pendukung Palace memajang spanduk yang menggambarkan Marinakis mengarahkan pistol ke arah Morgan Gibbs-White, serta menyebut tuduhan kriminal yang telah dibantah Marinakis. FA akhirnya mendenda Palace £50.000 karena gagal mencegah aksi tersebut. Tak berhenti di situ, Marinakis kini mengajukan gugatan pencemaran nama baik di Pengadilan Tinggi terhadap Palace dan individu yang terkait dengan spanduk itu.
Bagi Forest, merekrut Muñoz bukan sekadar menambah kualitas, tetapi juga ujian diplomasi. Berbisnis dengan klub yang sedang digugat oleh pemilik sendiri tentu bukan langkah mudah. Namun, sepak bola seringkali menghadirkan aliansi yang tidak terduga. Pertanyaannya, apakah kepentingan olahraga mampu mengalahkan dendam di luar lapangan?
Di sisi lain, keputusan Palace untuk melepas Muñoz juga menarik. Meski usianya tidak muda lagi, performanya yang konsisten di Premier League dan Eropa membuatnya menjadi aset berharga. Jika kesepakatan ini terwujud, ia akan kembali bekerja sama dengan Glasner, yang memahami cara memaksimalkan potensinya. Namun, Palace harus mempertimbangkan apakah melepas pemain kunci di tengah rivalitas yang panas adalah langkah bijak.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap transfer, ada dinamika kekuasaan, hukum, dan emosi yang turut bermain. Persaingan di Premier League tidak hanya ditentukan oleh kualitas di atas lapangan, tetapi juga manuver di ruang rapat dan ruang sidang. Akankah transfer ini menjadi babak baru dalam perseteruan yang belum tuntas? Atau justru menjadi jembatan perdamaian yang tidak terduga? Waktu yang akan menjawab.



