Mourinho Akui Jadi Dalang di Balik Keputusan Vinicius Junior Bertahan di Real Madrid
Baca dalam 60 detik
- Jose Mourinho mengaku memainkan peran kunci dalam membujuk Vinicius Junior untuk menandatangani kontrak baru enam tahun di Real Madrid, menggagalkan minat Arsenal.
- Pelatih asal Portugal itu menekankan bahwa Vinicius akan 'menyesal' jika hengkang, karena hanya mengenal Real Madrid sepanjang kariernya.
- Di tengah kembalinya Mourinho ke Bernabeu, ia juga mengungkapkan keraguan dalam perburuan Rodri yang akhirnya memilih Barcelona, serta menegaskan dukungannya kepada Vinicius dalam kasus rasialisme musim lalu.

Jose Mourinho secara terbuka mengakui bahwa ia menjadi sosok di balik layar yang membujuk Vinicius Junior untuk bertahan di Real Madrid, sebuah keputusan yang menggagalkan rencana Arsenal untuk memboyong pemain sayap asal Brasil itu pada bursa transfer musim panas ini. Dalam wawancara dengan program televisi Spanyol, El Chiringuito, pelatih berusia 63 tahun itu mengungkapkan bahwa ia meyakinkan Vinicius bahwa meninggalkan Bernabeu adalah langkah yang tidak sepadan.
Vinicius, yang kini berusia 26 tahun, sebelumnya berada dalam situasi kontrak yang genting—memasuki 12 bulan terakhir masa baktinya—yang berarti ia bisa pergi secara gratis pada musim panas berikutnya. Situasi ini tentu menjadi peluang emas bagi klub-klub besar Eropa, termasuk Arsenal yang tengah berupaya memperkuat lini serang. Namun, pada awal bulan ini, pemain yang pernah menjadi andalan lini depan Los Blancos itu akhirnya menandatangani perpanjangan kontrak selama enam tahun, mengakhiri spekulasi yang sempat memanas.
Mourinho, yang resmi kembali menukangi Real Madrid untuk periode kedua pada Juni lalu, menceritakan percakapannya dengan Vinicius. "Vinicius telah jatuh cinta dengan Real Madrid," ujarnya. "Satu-satunya hal yang saya katakan kepadanya adalah: 'Vini, ke mana kamu ingin pergi? Kamu hanya pernah berada di Brasil dan kamu hanya mengenal Real Madrid. Kamu baru akan memahami Real Madrid ketika kamu pergi. Ketika kamu pergi, saat itulah kamu menyadari apa itu Real Madrid. Jangan pergi. Tidak sepadan.'"
Pernyataan Mourinho ini muncul di tengah dinamika menarik di kubu Real Madrid. Selain sukses mempertahankan Vinicius, ia juga harus menghadapi kegagalan dalam upaya mendatangkan Rodri, gelandang andalan Manchester City dan kapten timnas Spanyol. Rodri, yang juga memasuki tahun terakhir kontraknya, akhirnya memilih bergabung dengan Barcelona dengan nilai transfer mencapai £65 juta. Mourinho mengakui bahwa ia sempat ragu dalam pengejaran pemain berusia 29 tahun itu. "Kami berbicara beberapa kali dan Real Madrid membuat tawaran bagus. Rodri ragu-ragu dan keraguannya membuat saya ragu," ungkapnya. "Dia pemain luar biasa dan bersikap benar kepada kami, tetapi skala Real Madrid adalah Anda tidak bisa memiliki pemain yang berpikir dua kali untuk datang."
Di sisi lain, Mourinho juga menyinggung insiden kontroversial yang melibatkan Vinicius dan Gianluca Prestianni, pemain Benfica yang saat itu diasuhnya, pada leg pertama play-off Liga Champions musim lalu. Saat itu, pemain Real menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasis terhadap Vinicius, yang menyebabkan pertandingan terhenti selama delapan menit. UEFA kemudian menjatuhkan larangan tiga pertandingan kepada Prestianni, dengan tiga pertandingan tambahan yang ditangguhkan, karena perilaku homofobik. Meski demikian, Mourinho tetap membela anak asuhnya saat itu, dan kini menegaskan bahwa Vinicius dapat mengandalkannya. "Prestianni adalah pemain saya. Itu saja. Tidak ada perdebatan. Jika Prestianni adalah pemain saya, 20 pemain bisa datang kepada saya dan saya tetap bersama Prestianni. Selesai," tegasnya. "Saya pikir Vini sekarang tahu saya berada di pihaknya dan dia bisa menatap mata saya dan mengandalkan saya."
Kembalinya Mourinho ke Real Madrid kali ini tentu berbeda dengan periode pertamanya. Pelatih yang pernah menangani Manchester United, Tottenham, dan Inter Milan ini mengaku kini menjadi pribadi yang lebih tenang dan terkendali. "Saya jauh lebih dewasa, tidak terlalu emosional, dan lebih terkontrol," katanya. "Saya belajar dari kesalahan. Saya tidak menyesali ini atau itu, karena saya tidak berpikir menyesali sesuatu yang telah terjadi membantu apa pun dalam hidup. Belajar dari pengalaman justru yang membantu. Dalam pekerjaan sebagai pelatih, semakin banyak pengalaman, semakin banyak déjà vu, semakin baik Anda menjadi. Bukan berarti saya lebih membosankan. Saya memiliki DNA yang sama."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, keputusan Vinicius bertahan dan dinamika transfer ini menjadi cermin bagaimana klub-klub Eropa bernegosiasi dengan pemain bintang. Di tengah gencarnya pemberitaan mengenai potensi pemain Indonesia yang dilirik klub Eropa, kasus ini menunjukkan bahwa faktor loyalitas dan ikatan emosional sering kali menjadi penentu, bukan sekadar tawaran finansial. Selain itu, kembalinya Mourinho ke panggung La Liga diprediksi akan menambah tensi persaingan, terutama dengan kehadiran Rodri di kubu Barcelona. Pertanyaannya, akankah gaya manajemen Mourinho yang lebih kalem mampu membawa Real Madrid kembali ke puncak kejayaan Eropa? Atau justru kedatangan Rodri akan memperkuat dominasi Barcelona di kompetisi domestik?



