Krisis FIFA Makin Dalam: Bos Premier League Sebut Infantino 'Menekan Tombol Self-Destruct'
Baca dalam 60 detik
- Kritik keras Richard Masters terhadap rencana penjualan saham Piala Dunia oleh FIFA, yang dinilai sebagai 'luka yang dibuat sendiri'.
- Dukungan Premier League untuk FA Inggris dalam menarik dukungan terhadap Gianni Infantino, serta seruan akan kandidat 'penyatuan' untuk presiden FIFA.
- Kontroversi kartu merah Folarin Balogun dan proses banding yang melibatkan Presiden AS Donald Trump menjadi sorotan utama menjelang musim baru Premier League.

Kepala eksekutif Premier League, Richard Masters, melontarkan kritik tajam terhadap rencana FIFA yang sempat ingin menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Masters menyebut langkah tersebut sebagai 'luka yang dibuat sendiri' dan menegaskan bahwa organisasi sepak bola dunia itu telah 'menekan tombol self-destruct'. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino, yang rencananya untuk membentuk perusahaan baru, FIFA Forward Enterprise (FFE), akhirnya dibatalkan setelah mendapat tentangan luas dari berbagai konfederasi, terutama UEFA yang mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA.
Masters, yang berbicara menjelang dimulainya musim Premier League 2025/2026, memberikan dukungan penuh terhadap keputusan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) untuk menarik dukungannya terhadap Infantino. Ia bahkan menyerukan munculnya kandidat 'penyatuan' yang mampu merangkul semua federasi untuk membawa perubahan positif di FIFA. "Saya pikir kandidat penyatuan yang muncul harus memiliki agenda reformasi FIFA, dan mungkin juga reformasi peran presiden dan bagaimana ia berinteraksi dengan hal-hal tersebut," ujarnya. Hingga saat ini, belum ada kandidat yang secara resmi mendaftar untuk menantang Infantino, yang berencana mencalonkan diri untuk periode keempat pada Maret mendatang, dengan batas pendaftaran pada 18 November.
Kritik Masters tidak hanya menyoroti masalah tata kelola FIFA, tetapi juga menggarisbawahi kekhawatiran tentang proses peninjauan kartu merah yang dinilainya tidak transparan. Ia merujuk pada kasus penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang kartu merahnya di Piala Dunia 2026 sempat ditinjau ulang setelah intervensi Presiden AS Donald Trump. Balogun awalnya dijatuhi larangan bermain satu pertandingan, tetapi hukuman itu kemudian ditangguhkan selama setahun, memungkinkannya tampil di babak 16 besar melawan Belgia. "Saya tidak mengerti mengapa FIFA tidak memiliki proses peninjauan kartu merah yang sederhana seperti yang kami miliki di Premier League," kata Masters. Ia juga menyoroti bahwa FIFA seharusnya menjunjung tinggi prinsip bebas dari campur tangan politik dalam sepak bola, sebuah prinsip yang justru dilanggar dalam kasus ini.
Di tengah hiruk-pikuk krisis FIFA, Premier League sendiri bersiap menghadapi musim baru dengan sejumlah perubahan besar. Sebanyak sembilan manajer baru akan memulai karier mereka di liga, sebuah rekor tertinggi. Manchester City, Liverpool, dan Chelsea akan ditangani oleh Enzo Maresca, Andoni Iraola, dan Xabi Alonso, sementara Arsenal tetap bertahan dengan Mikel Arteta. Masters tetap percaya diri dengan kualitas liga, meskipun ada kepergian pemain bintang seperti Rodri yang pindah ke Barcelona. "Jika Anda melihat 100 pemain terbaik dunia, Premier League memiliki hampir setengahnya," klaimnya. Namun, ia juga mengakui bahwa liga sedang memasuki era baru yang sulit diprediksi.
Masters juga membela keputusan untuk tidak memberikan hukuman pengurangan poin kepada Chelsea dalam kasus pembayaran agen yang tidak sah. Chelsea, yang diakuisisi oleh Todd Boehly dan Clearlake Capital pada 2022, melaporkan sendiri 74 pelanggaran aturan FA dan akhirnya didenda ยฃ10 juta serta larangan mendaftarkan pemain baru yang ditangguhkan. Masters menjelaskan bahwa kasus Chelsea berbeda dengan pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR) yang menjerat Everton dan Nottingham Forest. "Dalam kasus Chelsea, pemilik baru datang dengan semua informasi, dan kami memutuskan untuk membuat perjanjian sanksi," jelasnya. Ia juga mengakui bahwa proses hukum terhadap Manchester City atas lebih dari 100 dugaan pelanggaran aturan keuangan memakan waktu lebih lama dari perkiraan, tetapi menegaskan bahwa proses harus diikuti sesuai aturan.
Konteks Indonesia: Meskipun krisis ini terjadi di ranah sepak bola global, dampaknya bisa terasa hingga ke Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Kasus seperti FFE dan kontroversi kartu merah menunjukkan bahwa keputusan FIFA sering kali dipengaruhi oleh kepentingan politik dan komersial, yang dapat mengancam integritas olahraga ini. PSSI, sebagai anggota FIFA, perlu mencermati perkembangan ini dan memastikan bahwa suara Asia, termasuk Indonesia, didengar dalam upaya reformasi FIFA. Selain itu, dengan banyaknya pemain Indonesia yang bermain di liga luar negeri, stabilitas dan kredibilitas kompetisi internasional menjadi penting bagi perkembangan sepak bola nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah akan muncul kandidat yang mampu menantang Infantino dan membawa perubahan nyata di FIFA. Dengan batas pendaftaran yang semakin dekat, tekanan terhadap Infantino semakin besar. Namun, dukungan dari konfederasi Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania masih menjadi tameng baginya. Sementara itu, Premier League harus fokus pada kompetisi yang akan segera dimulai, dengan harapan dapat mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan global yang semakin ketat. Apakah era baru ini akan membawa kesuksesan bagi klub-klub Inggris, atau justru menjadi awal dari pergeseran kekuatan di sepak bola Eropa? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: dunia sepak bola sedang berada di persimpangan jalan, dan keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arahnya untuk dekade berikutnya.



