Polres Jakpus Kerahkan 6.962 Personel Kawal Aksi Mahasiswa di Bundaran HI dan Monas
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 6.962 personel gabungan Polres Metro Jakarta Pusat dikerahkan untuk mengawal unjuk rasa mahasiswa di kawasan Bundaran HI dan Patung Arjuna Wiwaha, Selasa (18/2).
- Kapolres menegaskan pendekatan humanis tanpa senjata api serta larangan tindakan di luar prosedur dalam pengamanan aksi.
- Polda Metro Jaya menyiagakan total 9.242 personel di sejumlah titik Jakarta; rekayasa lalu lintas akan bersifat situasional.

Polres Metro Jakarta Pusat mengerahkan 6.962 personel untuk mengamankan unjuk rasa mahasiswa di sekitar Bundaran HI dan Patung Arjuna Wiwaha, kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, pada Selasa (18/2). Ribuan personel ini merupakan bagian dari pasukan gabungan yang disiapkan Polda Metro Jaya untuk menjaga jalannya aksi penyampaian pendapat yang digelar sejumlah elemen mahasiswa di ibu kota.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Reynold EP Hutagalung, menegaskan bahwa seluruh personel harus bertugas secara humanis, sabar, dan terukur. Dalam keterangannya, ia mengingatkan bahwa mahasiswa yang menyampaikan aspirasi bukanlah lawan, melainkan warga masyarakat yang harus dilayani dan dijaga. โMereka adalah keluarga kita,โ ujarnya, seraya menekankan pentingnya komunikasi persuasif di lapangan.
Reynold juga memastikan tidak ada anggota yang membawa senjata api dalam pengamanan aksi ini. Ia menegaskan bahwa seluruh tindakan harus berada dalam satu komando, tanpa inisiatif sendiri yang dapat memicu eskalasi. Instruksi ini sejalan dengan kebijakan Polda Metro Jaya yang menekankan pengamanan unjuk rasa secara humanis tanpa senjata api, sebagaimana disampaikan dalam keterangan terpisah.
Selain mengatur personel, polisi juga mengingatkan para peserta aksi untuk mewaspadai potensi provokasi dari kelompok lain yang mencoba menunggangi aksi. โJangan sampai ada kelompok-kelompok lain yang mencoba masuk, memprovokasi, atau menunggangi aksi penyampaian pendapat yang dilindungi undang-undang ini,โ kata Reynold. Imbauan ini menjadi penting mengingat aksi mahasiswa kerap disusupi kepentingan politik tertentu.
Secara total, Polda Metro Jaya menyiagakan 9.242 personel gabungan untuk mengamankan aksi di beberapa titik di Jakarta. Di kawasan Bundaran HI, Reynold menegaskan bahwa lokasi tersebut bukan tempat yang ideal untuk penyampaian aspirasi karena terdapat aktivitas perekonomian dan kegiatan masyarakat yang padat. Meski demikian, polisi tetap membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat selama tidak mengganggu ketertiban umum.
Untuk arus lalu lintas, personel Ditlantas Polda Metro Jaya dan Satlantas Polres Jakpus telah disebar di sejumlah titik, termasuk Bundaran HI dan Patung Kuda. Rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara situasional, menyesuaikan kondisi di lapangan. Masyarakat diimbau tetap beraktivitas seperti biasa, sementara petugas akan melakukan pengaturan di lapangan.
Langkah pengamanan yang melibatkan ribuan personel ini mencerminkan keseriusan aparat dalam menjaga kondusivitas Jakarta. Namun, di balik itu, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah pendekatan humanis ini cukup untuk meredam potensi konflik? Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa aksi mahasiswa kerap berujung pada bentrokan jika komunikasi tidak berjalan baik. Polisi tampaknya belajar dari kejadian tersebut dengan menekankan persuasi dan larangan penggunaan kekerasan.
Bagi warga Jakarta, aksi ini tentu berdampak pada mobilitas harian. Kemacetan di sekitar Bundaran HI dan Monas hampir dipastikan terjadi, terutama pada jam sibuk. Namun, dengan adanya rekayasa lalu lintas yang situasional, diharapkan dampaknya dapat diminimalkan. Masyarakat yang hendak melintas di kawasan tersebut disarankan mencari rute alternatif atau menggunakan transportasi umum.
Ke depan, yang perlu dicermati adalah bagaimana aparat menjaga keseimbangan antara hak menyampaikan pendapat dan ketertiban umum. Apakah pengamanan humanis ini akan menjadi standar baru dalam menangani aksi massa di Indonesia? Jika ya, maka ini adalah langkah positif bagi demokrasi. Namun, jika tidak, maka potensi gesekan di masa mendatang tetap menganga. Publik tentu berharap aksi ini berjalan damai dan aspirasi mahasiswa didengar tanpa harus mengorbankan keamanan kota.



