RTS Link Bukit Chagar Terkoneksi Langsung ke KTM, Tarif Masih Dikaji: Menteri Loke
Baca dalam 60 detik
- Koneksi pejalan kaki baru dari stasiun RTS Bukit Chagar ke stasiun KTM akan memangkas jarak tempuh penumpang, dengan biaya konstruksi RM60 juta.
- Sistem transportasi e-ART yang direncanakan untuk mengurai kepadatan di Johor Bahru belum siap beroperasi pada Januari 2027 karena masih dalam tahap negosiasi konsesi.
- Tarif RTS Link diperkirakan berkisar S$5 hingga S$7 untuk sekali jalan, namun pengumuman resmi baru akan dilakukan setelah kajian kedua pemerintah selesai.

Pemerintah Malaysia memastikan stasiun Rapid Transit System (RTS) Link di Bukit Chagar, Johor Bahru, akan terhubung langsung dengan stasiun Keretapi Tanah Melayu (KTM) melalui jembatan penyeberangan baru, sebuah langkah untuk mengurai kepadatan penumpang di perbatasan sebelum layanan lintas negara dibuka. Namun, sistem transportasi hibrida bus-kereta yang diusulkan untuk menyerap lonjakan penumpang dipastikan belum siap pada Januari 2027, karena pemerintah masih merampungkan detail teknis dan perjanjian konsesi.
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, dalam kunjungannya ke stasiun Bukit Chagar pada Selasa (18/8), mengungkapkan bahwa koneksi baru ini akan bercabang dari jembatan penyeberangan tertutup sepanjang 450 meter yang menghubungkan stasiun RTS dengan JB Sentral. Jembatan yang dilengkapi dengan travellator ini dirancang untuk menampung ribuan orang sekaligus. Dengan adanya jalur baru ini, penumpang KTM Komuter yang hendak menuju Singapura tidak perlu lagi berjalan memutar melalui JB Sentral, karena mereka dapat langsung mengakses jembatan penyeberangan lebih dekat ke stasiun KTM.
โSetelah selesai, penumpang KTM Komuter akan dapat turun di stasiun KTM dan terhubung langsung ke stasiun RTS Bukit Chagar. Ini akan membuat perjalanan jauh lebih nyaman,โ ujar Loke. Proyek ini menelan biaya RM60 juta (sekitar US$14,8 juta) dan ditargetkan selesai dalam 12 bulan. Selain itu, koneksi ke halte bus di Jalan Jim Quee, taxi bay, pusat perbelanjaan Komtar JBCC, dan JB Sentral akan siap saat RTS Link mulai beroperasi pada awal 2027.
Di sisi lain, proyek Autonomous Rapid Transit (e-ART) yang diusulkan untuk menyerap lonjakan penumpang di Johor Bahru masih diselimuti ketidakpastian. Menteri Besar Johor, Onn Hafiz Ghazi, telah berulang kali mendesak pemerintah federal untuk mempercepat proyek ini, karena langkah-langkah saat ini seperti park-and-ride dan penataan ulang bus, taksi, serta kendaraan e-hailing di sekitar JB Sentral dianggap hanya solusi sementara. Menanggapi hal ini, Loke menyatakan bahwa e-ART pada akhirnya akan terintegrasi dengan RTS Link, namun detailnya baru akan diumumkan setelah pemerintah siap. โKami sedang menyusun perjanjian konsesi,โ katanya, merujuk pada kontrak hukum untuk perusahaan swasta yang akan membangun proyek tersebut.
Soal tarif RTS Link, Loke menegaskan bahwa harga tiket dan tanggal mulai beroperasi akan diumumkan bersama oleh Malaysia dan Singapura di kemudian hari. โSaat ini kami belum bisa mengumumkan apa pun. Saya bisa pastikan diskusi sedang berlangsung dan sangat positif,โ ujarnya. Sebelumnya, pada Februari lalu, Loke memperkirakan tarif sekali jalan berkisar S$5 hingga S$7, dan menegaskan bahwa Singapura tidak akan memberikan subsidi, sehingga model operasional harus berkelanjutan secara komersial. RTSO, operator kereta api yang merupakan perusahaan patungan antara Prasarana Malaysia dan SMRT Corporation, dijadwalkan mengajukan proposal tarif pada kuartal ketiga kepada otoritas transportasi darat kedua negara.
Bagi Indonesia, perkembangan RTS Link ini menjadi preseden penting dalam integrasi transportasi lintas batas di kawasan ASEAN. Keberhasilan proyek ini dapat menjadi model bagi konektivitas antara Indonesia dan negara tetangga, misalnya dalam rencana kereta cepat atau transit sistem di kawasan perbatasan. Selain itu, efisiensi waktu dan biaya yang ditawarkan RTS Link diharapkan dapat meningkatkan mobilitas orang dan barang, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Namun, ketidakpastian proyek e-ART menunjukkan bahwa perencanaan transportasi yang matang dan komitmen politik sangat diperlukan untuk menghindari kemacetan yang lebih parah.
Dengan uji coba yang masih berlangsung dan tarif yang belum final, pertanyaan besarnya adalah apakah RTS Link dapat benar-benar menjadi solusi kemacetan yang efektif di perbatasan Johor-Singapura, atau justru menimbulkan masalah baru jika integrasi dengan moda transportasi lain tidak berjalan mulus. Pengumuman tarif dan jadwal operasional yang dinanti-nantikan akan menjadi ujian kredibilitas kedua pemerintah dalam mewujudkan proyek ambisius ini.



