Buku 800 Halaman Ungkap 'Tentara Arsitek' di Balik Boom Bangunan Albania
Baca dalam 60 detik
- Sebuah buku setebal 800 halaman membeberkan 500 proyek arsitektur di Albania yang digarap 60 firma internasional tanpa melibatkan arsitek lokal.
- Kritikus menyebut buku itu sebagai bukti kuat praktik tata kelola yang tertutup, perusakan lingkungan, dan dugaan aliran dana gelap di sektor properti.
- Gelombang protes menuntut pengunduran diri PM Edi Rama, sementara proses aksesi Albania ke Uni Eropa terancam oleh regulasi yang longgar.

Sebuah buku setebal 800 halaman berjudul The Albanian Files memicu kemarahan publik Albania setelah mengungkap 500 proyek arsitektur yang dirancang 60 firma internasional, tanpa satu pun arsitek lokal dilibatkan. Dokumen seberat 2,2 kilogram itu diluncurkan di tengah gelombang protes yang telah berlangsung lebih dari 120 hari, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.
Buku tersebut, yang disunting Anneke Abhelakh, memuat pengakuan langsung para arsitek tentang bagaimana mereka direkrut—sebagian melalui pesan Instagram dari Rama sendiri, sebagian lewat grup WhatsApp bernama "Albanian ArchArmy". Isinya memetakan rencana pembangunan mulai dari menara berputar di Tirana hingga resor mewah di kawasan lindung, termasuk proyek di Zvërnec dan Pulau Sazan yang didukung keluarga Trump.
Yang membuat publik geram bukan hanya skala proyeknya, tetapi juga prosesnya. Seorang anggota grup ArchArmy mengungkapkan bahwa Rama tidak menunjuk arsitek secara langsung, melainkan memperkenalkan mereka kepada pengembang. "Ada pemahaman bahwa jika pengembang memilih salah satu arsiteknya, mereka akan mendapat izin untuk membangun apa pun yang diinginkan," ujarnya. Tuduhan ini dibantah keras oleh Rama, yang menyebutnya "fake news" dan "tudingan pahit".
Kritik tidak hanya soal transparansi. Lorin Kadiu, direktur platform investigasi Citizens.al, menilai situasi ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang otoriter. "Terasa seperti hidup di kerajaan otokratis. Bukan hanya soal kurangnya transparansi, tetapi fakta bahwa kita semua harus tunduk pada selera estetika satu orang. Seluruh negara harus dicat sesuai keinginannya," kata Kadiu.
Rama, yang berlatar belakang pelukis, memang dikenal karena program pengecatan blok Soviet menjadi warna-warni saat menjabat wali kota Tirana pada 2000-an. Langkah itu menuai pujian internasional. Namun, ambisi arsitekturalnya kini dianggap melampaui batas. Sebuah surat terbuka yang dibagikan dalam protes mengecam "art-washing politik buldoser" dan mempertanyakan apakah para arsitek asing menikmati kebebasan yang justru dilarang di negara mereka sendiri.
"Kebebasan di Albania memang memikat, dan karena itu tanggung jawab pribadinya lebih besar." — Arsitek asing yang tidak disebutkan namanya
Dampak lingkungan menjadi sorotan utama. Undang-undang 2024 mengizinkan pembangunan resor bintang lima di kawasan lindung, membuka jalan bagi proyek di Divjakë-Karavasta dan Zvërnec. Parlemen Eropa pada Juni lalu menyerukan moratorium segera atas izin baru dan konstruksi di kawasan lindung. Regulasi longgar ini juga dinilai menghambat negosiasi aksesi Albania ke Uni Eropa yang kini memasuki fase akhir.
Pertanyaan lain yang mengemuka: bagaimana salah satu negara termiskin di Eropa mampu membiayai proyek-proyek megah ini? Harga properti melonjak tajam, tetapi upah dan kredit bank tidak bergerak sebanding. Kadiu menduga ada percepatan pembangunan sebelum undang-undang dicabut. "Para pengembang terburu-buru. Ada sprint untuk membangun sebanyak mungkin sebelum regulasi ini dibatalkan," ujarnya.
Albania sendiri mulai bertindak. Kantor Kejaksaan Khusus Antikorupsi (SPAK) menyita €150 juta aset terkait jaringan perdagangan kokain pada Juni lalu. Pëllumb Gjoka, yang pernah ditetapkan sebagai "investor strategis" dengan izin membangun resor €52 juta, dipenjara karena memerintahkan pembunuhan. Namun, penelitian Citizens.al menunjukkan sejumlah proyek dalam buku terhubung dengan investigasi SPAK yang masih berjalan.
Seorang mantan anggota ArchArmy mengaku awalnya yakin proyek ini bisa menjadi perubahan positif. "Rama tahu Albania akan berkembang sangat cepat, dan dia tidak ingin merusaknya. Lebih baik melibatkan arsitek bagus daripada membiarkan apartemen generik dibangun tanpa kendali," katanya. Namun, ia mundur setelah menjadi juri kompetisi yang terasa tidak demokratis dan isu kepemilikan tanah yang selalu kabur.
Kritik paling tajam justru datang dari dalam buku itu sendiri. Reinier de Graaf dari firma OMA menulis surat terbuka bernada parodi kepada Rama: "Mengingat status Albania sebagai patron arsitektur yang tercerahkan, profesi kita akan sangat diuntungkan jika negara ini tidak pernah menggelar pemilu lagi, dan jika Anda terus menjadi presiden seumur hidup—mungkin bahkan raja." Ia menambahkan, "Di dunia yang penuh otokrasi, semoga kita memiliki satu otokrat bijak yang punya selera."
Ke depan, tekanan terhadap Rama diprediksi meningkat seiring proses aksesi Uni Eropa. Pertanyaannya, apakah Albania mampu mereformasi tata kelola ruang publiknya sebelum warisan arsitekturalnya—dan kepercayaan publik—tergerus habis?



