Kabut Asap Reda, 107 Sekolah di Serian Kembali Beroperasi: Orang Tua Lega
Baca dalam 60 detik
- Setelah tiga hari ditutup akibat Indeks Pencemaran Udara (API) di atas 200, seluruh sekolah di divisi Serian, Sarawak, kembali dibuka pada Senin (18/8).
- Pembelajaran jarak jauh (PdPR) yang diterapkan selama penutupan dinilai kurang efektif, terutama bagi siswa yang membutuhkan interaksi langsung dengan guru.
- Kualitas udara di Sarawak terus membaik, dengan seluruh wilayah mencatat API moderat antara 55-94, namun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat musim kemarau belum berakhir.

Setelah tiga hari diliburkan akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah Serian, Sarawak, seluruh sekolah di divisi tersebut akhirnya kembali beroperasi pada Senin (18/8). Keputusan ini diambil setelah Indeks Pencemaran Udara (API) turun ke level moderat, memberikan kelegaan bagi orang tua dan siswa yang selama ini mengandalkan pembelajaran jarak jauh.
Penutupan 107 sekolah yang terdiri dari delapan sekolah menengah dan 99 sekolah dasar ini merupakan respons atas API yang menembus angka 200 pada Rabu pekan lalu, kategori 'sangat tidak sehat'. Meski API sempat turun di bawah 200, pemerintah memperpanjang penutupan hingga Jumat sebagai langkah pencegahan demi kesehatan siswa dan staf pengajar. Langkah ini menunjukkan keseriusan otoritas dalam menghadapi dampak kabut asap yang kerap melanda kawasan tersebut.
Selama masa penutupan, Dinas Pendidikan setempat menerapkan sistem Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR). Namun, sejumlah orang tua mengaku kesulitan mendampingi anak-anak mereka belajar dari rumah. Gilbert Albert, orang tua siswa SMK Tarat, mengungkapkan bahwa putrinya yang duduk di kelas tiga SMP lebih mudah memahami materi saat belajar tatap muka. "Mengetik pertanyaan tidak sama dengan bertanya langsung kepada guru," ujarnya, menggambarkan keterbatasan interaksi dalam pembelajaran daring.
Senada dengan itu, Fabian Joseph, orang tua siswa kelas lima SMK Serian, menyebut anaknya kesulitan saat menemui kendala dalam belajar di rumah. "Tidak ada guru yang bisa ditanya, jadi bagus kalau dia bisa kembali ke sekolah," katanya. Sementara itu, Nor Syahira Abdullah, ibu dari dua siswi SMK Serian, mengaku bersyukur karena sekolah tetap menjalankan jadwal pelajaran melalui grup WhatsApp dan kelas online untuk siswa kelas lima. Meski demikian, ia hanya bisa memantau anak-anaknya melalui telepon karena harus bekerja.
Fenomena kabut asap ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga mengganggu proses belajar mengajar. Di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kerap memaksa sekolah diliburkan. Pengalaman Serian bisa menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain yang rawan terdampak. Kesiapan infrastruktur pembelajaran daring, seperti yang diterapkan di Serian, menjadi kunci agar siswa tetap bisa belajar meski sekolah ditutup. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan, terutama bagi siswa di daerah dengan akses internet terbatas.
Keputusan untuk membuka kembali sekolah di Serian disambut baik oleh para orang tua. Mereka berharap kualitas udara tetap stabil sehingga proses belajar mengajar tidak kembali terganggu. Pemerintah daerah pun diharapkan terus memantau perkembangan API dan mengambil langkah cepat jika kondisi memburuk. Musim kemarau yang masih berlangsung membuat potensi kabut asap kembali muncul, sehingga kewaspadaan semua pihak tetap diperlukan.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan dalam keadaan darurat mampu menjadi solusi jangka panjang? Atau justru menjadi pengingat bahwa kehadiran fisik di kelas tetap tak tergantikan? Pengalaman di Serian menunjukkan bahwa meskipun teknologi membantu, interaksi langsung antara guru dan siswa tetap memiliki nilai yang tidak bisa digantikan.



