Malaysia Incar Wisatawan Supercar Thailand: Strategi Baru Dongkrak Devisa dan Lama Tinggal
Baca dalam 60 detik
- Malaysia meluncurkan konvoi supercar Thailand untuk menarik wisatawan berbelanja besar, dengan rute dari Bukit Kayu Hitam hingga Singapura dan pantai timur.
- Inisiatif ini menargetkan segmen niche yang bersedia membelanjakan uang lebih untuk akomodasi, kuliner, dan gaya hidup, sejalan dengan upaya meningkatkan pendapatan pariwisata.
- Langkah ini dapat menjadi model bagi negara tetangga seperti Indonesia untuk mengembangkan paket wisata otomotif premium dan memperpanjang masa tinggal wisatawan.

Malaysia mulai serius membidik pasar wisatawan Thailand yang gemar berkendara jarak jauh, terutama kalangan penggemar supercar dengan daya beli tinggi. Lewat konvoi 17 mobil mewah yang diikuti 38 peserta, Negeri Jiran berupaya mendorong kunjungan lebih lama, menjelajah lebih banyak destinasi, dan meningkatkan belanja wisatawan di tengah persaingan pariwisata regional yang kian ketat.
Konsul Jenderal Malaysia di Songkhla, Ahmad Fahmi Ahmad Sarkawi, menilai segmen penggemar supercar sebagai ceruk pasar yang potensial dan menguntungkan. Mereka dikenal royal dalam mengeluarkan uang untuk akomodasi, kuliner, belanja, hingga layanan rekreasi. "Mereka tidak ragu mengeluarkan biaya besar demi pengalaman liburan yang eksklusif," ujarnya seusai melepas konvoi yang berlangsung selama tujuh hari, seperti dikutip Bernama.
Konvoi yang diorganisir Tourism Malaysia Bangkok bersama Flying Monkey Supercars Thailand itu masuk melalui jalur darat Bukit Kayu Hitam-Sadao, kemudian menyusuri Putrajaya, Kuala Lumpur, Johor Bahru, sebelum singgah ke Singapura. Rute dilanjutkan ke pantai timur Semenanjung Malaysia dan Pulau Redang, Terengganu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Self-Drive 1.0 dan 2.0 yang dirancang untuk memperkenalkan destinasi di utara dan timur Semenanjung.
Menurut Ahmad Fahmi, berkendara mandiri memungkinkan wisatawan menikmati atraksi, kuliner, dan keramahan Malaysia di luar kota-kota besar. "Ini inisiatif penting karena memungkinkan pengunjung Thailand menemukan Malaysia dengan kecepatan mereka sendiri, sambil berkontribusi pada ekonomi pariwisata lokal," tambahnya. Ia berharap program ini mendorong lebih banyak wisatawan Thailand menjadikan Malaysia tujuan liburan berkendara, sehingga durasi tinggal dan jumlah destinasi yang dikunjungi meningkat.
Bagi Indonesia, strategi Malaysia ini memberi pelajaran berharga. Dengan potensi wisatawan mancanegara yang besar, terutama dari negara tetangga, pengembangan paket wisata otomotif premium bisa menjadi daya tarik baru. "Indonesia memiliki jalur darat yang menghubungkan Sumatra dengan Malaysia, serta destinasi seperti Danau Toba dan Bukittinggi yang bisa dijual dalam paket self-drive," kata pengamat pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Budi Santoso, saat dihubungi terpisah. Namun, ia mengingatkan perlunya infrastruktur jalan dan fasilitas pendukung yang memadai.
Langkah Malaysia juga sejalan dengan tren global di mana wisatawan semakin mencari pengalaman personal dan fleksibel. Dengan menargetkan segmen supercar, Malaysia tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga nilai belanja per wisatawan. Ini penting mengingat rata-rata pengeluaran wisatawan Thailand di Malaysia diperkirakan lebih tinggi dibanding segmen lain, meski data resmi belum dirilis.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa banyak peserta yang kembali dengan rombongan lebih besar, serta apakah negara tetangga seperti Singapura dan Thailand akan mengadopsi model serupa. Pertanyaannya, akankah Indonesia segera meniru strategi ini untuk merebut pasar wisatawan otomotif yang sama?


