Rupiah Tertekan ke Rp 17.847, IHSG Justru Hijau di Sesi Pembukaan
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,28% ke level Rp 17.847 per dolar AS pada perdagangan Selasa (18/8), berbalik dari penguatan di bursa offshore sehari sebelumnya.
- Tekanan pada mata uang Garuda terjadi di tengah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan sinyal fiskal pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027.
- Di pasar saham, IHSG justru menguat ke kisaran 6.448-6.486 pada awal sesi, dengan mayoritas saham menghijau meskipun rupiah terdepresiasi.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (18/8/2026), menyentuh level Rp 17.847 per dolar AS atau turun 49 poin (0,28 persen) berdasarkan data Bloomberg. Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah sempat menguat di pasar offshore, seiring meredanya spekulasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS.
Koreksi rupiah pagi ini tidak diikuti oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru dibuka di zona hijau. Berdasarkan data RTI Business, indeks komposit mengawali sesi di level 6.448,828 dan sempat bergerak naik hingga kisaran 6.486,787. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 344 saham tercatat menguat, 187 stagnan, dan 196 lainnya melemah.
Pergerakan mata uang ini menarik dicermati karena terjadi di tengah beragam sentimen global dan domestik. Di satu sisi, ekspektasi pasar terhadap sikap dovish The Fed mereda, yang sempat menjadi katalis penguatan rupiah pada perdagangan Senin (17/8). Di sisi lain, pelaku pasar masih mencerna rencana fiskal pemerintah yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Rapat Paripurna DPR RI pada Jumat (14/8) lalu.
Dalam pidato tersebut, pemerintah mengusulkan pagu APBN 2027 sebesar Rp 4.097,2 triliun, dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan 6 persen dan inflasi yang dijaga pada level 2,5 persen. Angka-angka ini menjadi sinyal bagi investor bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi, meski tekanan eksternal masih membayangi nilai tukar.
Di kawasan Asia Tenggara, pergerakan dolar AS tidak seragam. Dolar menguat terhadap baht Thailand dan peso Filipina, namun ringgit Malaysia justru berhasil menguat 0,29 persen pada awal perdagangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional masih bervariasi, dipengaruhi oleh faktor fundamental masing-masing negara.
Bagi pasar Indonesia, pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan penguatan IHSG mengindikasikan bahwa investor masih optimistis terhadap prospek ekonomi domestik, terutama setelah adanya kejelasan arah kebijakan fiskal. Namun, ketahanan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kebijakan moneter global, khususnya sikap The Fed terhadap suku bunga, serta kemampuan pemerintah menjaga inflasi dan pertumbuhan sesuai target.
Langkah pemerintah untuk menekan inflasi di level 2,5 persen pada 2027 dinilai sebagai sinyal stabilitas harga yang menarik bagi investor asing. Meski demikian, volatilitas nilai tukar masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai, terutama jika data ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang tidak terduga.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi dan ketenagakerjaan AS sebagai penentu arah kebijakan The Fed. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat, tekanan terhadap rupiah dan mata uang emerging market lainnya berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika sinyal dovish kembali muncul, ruang penguatan rupiah dan IHSG bisa terbuka lebih lebar. Pertanyaannya, mampukah fundamental ekonomi Indonesia menahan gejolak eksternal tersebut?



