The Odyssey Versi Nolan: Ketika Perempuan Homer Direduksi Jadi Simbol Antiperang
Baca dalam 60 detik
- Film terbaru Christopher Nolan tentang The Odyssey menuai kritik karena mereduksi kompleksitas karakter perempuan Homer menjadi sekadar alat narasi antiperang.
- Keputusan casting Lupita Nyong'o dan Elliot Page dianggap progresif, tetapi penggambaran Penelope, Circe, dan Helen dinilai kehilangan dimensi seksual dan intelektual aslinya.
- Kritik ini membuka diskusi tentang representasi perempuan dalam adaptasi mitologi modern, relevan bagi sineas dan penonton Indonesia yang semakin kritis terhadap isu gender.

Keputusan Christopher Nolan menempatkan Lupita Nyong’o sebagai Helen dan Elliot Page sebagai Sinon dalam film terbarunya, The Odyssey, sempat disambut sebagai angin segar bagi penggarapan mitologi Yunani di Hollywood. Namun, di balik gebrakan casting itu, para akademisi justru menyoroti kemunduran: karakter-karakter perempuan dalam film ini, menurut mereka, kehilangan kompleksitas yang justru menjadi nyawa puisi epik karya Homer.
Seorang pengkaji sastra Yunani kuno menilai adaptasi Nolan gagal menangkap kedalaman psikologis sosok-sosok seperti Penelope, Circe, dan Helen. Dalam epik aslinya, perempuan-perempuan ini bukan sekadar pendamping atau penghalang bagi Odysseus; mereka adalah subjek dengan hasrat, kecerdasan, dan otonomi yang utuh. Nolan, sebaliknya, memilih menampilkan mereka dalam peran tunggal—istri yang setia, penyihir yang murka, atau ratu yang menyesal—yang semuanya diarahkan untuk mendukung tema antiperang yang ia usung.
Penelope, misalnya, dalam karya Homer dikenal karena siasatnya yang cerdik: menenun kain kafan di siang hari dan mengurainya kembali di malam hari untuk menunda pilihan menikah lagi. Adegan paling krusial, ketika ia menguji Odysseus dengan memindahkan ranjang pernikahan mereka yang terpahat dari pohon zaitun, sama sekali tidak muncul dalam film. Padahal, momen itu menunjukkan bahwa Penelope adalah tandingan sejati bagi suaminya yang polutropos—sosok yang mampu bermain kata dan strategi.
Karakter Circe, yang dalam film digambarkan sebagai penyihir yang menghukum para prajurit atas kejahatan perang, juga dianggap menyimpang dari sumber aslinya. Dalam epik Homer, Circe adalah dewi yang menguasai tanaman dan ramuan, bukan sekadar simbol pembalasan. Nolan, dengan mengadopsi interpretasi novelis Madeline Miller, menjadikan Circe sebagai alat untuk mengkritik kekerasan seksual dalam perang—sebuah tema yang relevan, tetapi mengorbankan nuansa mitologis aslinya.
Yang paling mengecewakan adalah penggambaran Helen. Dalam tradisi Yunani, Helen adalah sosok kontroversial yang kecantikannya memicu Perang Troya, tetapi juga memiliki kecerdasan dan agensi. Dalam film Nolan, ia direduksi menjadi karakter sekunder yang penuh penyesalan, bahkan memiliki cacat fisik yang ditunjukkan kepada Telemachus. Padahal, dalam The Odyssey, Helen justru tampil sebagai narator yang cerdas, menceritakan kisahnya sendiri dan bahkan membantu Odysseus saat menyusup ke Troya.
Kritik ini bukan tanpa dasar. Sejak 1897, penulis Samuel Butler bahkan berargumen bahwa The Odyssey mungkin ditulis oleh seorang perempuan, mengingat kedalaman penggambaran psikologis tokoh-tokohnya. Tradisi lisan yang melahirkan epik ini memang tidak mencatat nama pencipta aslinya, tetapi kompleksitas karakternya telah menginspirasi banyak reinterpretasi, termasuk dari perspektif feminis.
Bagi penonton Indonesia, kritik ini relevan mengingat industri film lokal juga kerap berhadapan dengan isu representasi perempuan. Adaptasi kisah-kisah klasik, baik dari mitologi maupun sejarah, sering kali jatuh pada stereotip yang sama: perempuan sebagai objek, bukan subjek. Film seperti The Odyssey versi Nolan menjadi pengingat bahwa adaptasi modern harus berani melampaui batas-batas tradisi, tanpa mengorbankan kedalaman karakter.
Nolan, yang dikenal dengan film-filmnya yang kompleks dan penuh ide, tampaknya memilih jalan aman dengan menjadikan perempuan sebagai simbol moralitas antiperang. Namun, dengan melakukan itu, ia justru melanjutkan tradisi panjang pengambilalihan narasi perempuan oleh perspektif laki-laki. Pertanyaannya, mampukah para sineas—termasuk di Indonesia—menghadirkan perempuan sebagai tokoh yang berhasrat dan otonom, tanpa harus tunduk pada narasi besar yang didiktekan oleh laki-laki?



