Harga Minyak Menguat di Tengah Meredupnya Harapan Damai AS-Iran: Ancaman Pasokan Kian Nyata
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah Iran mengumumkan postur militer ofensif dan AS menolak perpanjangan gencatan senjata, memicu kekhawatiran pasokan.
- Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dan Laut Merah masih terhambat, dengan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada akhir pekan lalu, jauh di bawah normal.
- Ketegangan geopolitik ini berpotensi menekan harga energi global dan berdampak pada inflasi serta nilai tukar rupiah di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada Selasa (18/8) setelah prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran semakin meredup. Iran mengumumkan akan mengadopsi postur militer yang lebih agresif, sementara Washington menolak memperpanjang gencatan senjata sementara. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi tulang punggung produksi minyak dunia.
Seorang pejabat senior Iran, seperti dikutip Reuters, menegaskan bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS telah menemui jalan buntu. Sebagai respons, Teheran akan beralih ke sikap "sepenuhnya ofensif" dalam postur militernya. Di sisi lain, Washington menegaskan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata yang selama ini menjadi harapan untuk meredakan ketegangan. Imbasnya, proses diplomasi yang sempat menunjukkan tanda-tanda kemajuan, termasuk rencana pembukaan kembali lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, kini kembali mandek.
Data pasar menunjukkan Brent crude futures naik 27 sen (0,3 persen) menjadi 91,14 dolar AS per barel pada pukul 00.03 GMT, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 42 sen menjadi 85,04 dolar AS per barel, setelah sempat melonjak lebih dari 1 persen ke 85,37 dolar AS. Penguatan ini mencerminkan sentimen pasar yang semakin cemas terhadap keamanan jalur pasokan minyak global.
Analis pasar utama KCM, Tim Waterer, menggarisbawahi bahwa hubungan AS-Iran yang semakin rapuh menjadi pemicu utama lonjakan harga. "Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tampaknya masih jauh dari kenyataan, dan angka pelayaran masih sangat minim," ujarnya. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu lalu, dan tidak ada satu pun yang tercatat pada Minggu. Padahal, pada akhir pekan sebelumnya, tercatat 31 kapal melintas. Penurunan drastis ini menjadi indikator nyata bahwa jalur vital tersebut masih belum aman.
Ancaman terhadap pasokan minyak tidak hanya datang dari Selat Hormuz. Kelompok Houthi di Yaman, yang selama ini menjadi aktor kunci dalam konflik regional, kembali melancarkan serangan rudal ke kapal militer Arab Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah. Serangan ini, sebagaimana diungkapkan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, melalui Telegram, semakin mempertegas bahwa dua jalur pelayaran utamaโSelat Hormuz dan Bab el-Mandebโmasih berada dalam situasi yang sangat rawan. Waterer menegaskan bahwa "cekikan ganda" pada kedua selat tersebut bukanlah masalah sekunder, melainkan inti dari narasi risiko pasokan saat ini.
Di tengah kebuntuan tersebut, Iran dilaporkan masih menjalin negosiasi dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan mengklaim kesepakatan sudah di depan mata. Namun, Presiden AS, Donald Trump, merespons dengan ancaman untuk membom Oman, negara yang selama ini menjadi mitra keamanan utama AS. Sikap kontradiktif ini menambah ketidakpastian di pasar. Meski demikian, ada secercah harapan: media melaporkan bahwa Trump telah membuka jalur komunikasi rahasia dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang bisa menjadi pintu masuk bagi diplomasi baru.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap kenaikan harga minyak akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Nilai tukar rupiah juga berisiko tertekan karena meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor minyak. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menyusun asumsi makro APBN dan kebijakan harga BBM di dalam negeri. Jika ketegangan berlanjut, bukan tidak mungkin harga minyak akan terus merangkak naik, menguji ketahanan fiskal dan daya beli masyarakat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS dan Iran dapat menemukan titik temu sebelum konflik meluas, atau justru terperosok ke dalam eskalasi yang lebih dalam. Dengan stok minyak mentah AS yang diperkirakan turun, menurut jajak pendapat awal Reuters, pasar akan semakin sensitif terhadap setiap perkembangan politik. Akankah kanal diplomasi rahasia dengan IRGC membuahkan hasil, atau justru memperkeruh suasana? Semua mata kini tertuju pada langkah Washington dan Teheran dalam beberapa pekan ke depan.



