Drama di Balik Layar: Dokumenter Ungkap Keretakan Guardiola dan Walker di Musim Terakhir Man City
Baca dalam 60 detik
- Seri dokumenter Amazon Prime memperlihatkan momen emosional Guardiola mengkritik kapten Kyle Walker yang meminta hengkang di tengah musim sulit.
- Krisis personal dan tekanan finansial membayangi performa City yang gagal meraih trofi pada 2024-25, mempercepat keputusan Guardiola untuk mundur.
- Kepergian De Bruyne dan kedatangan Cherki menandai era baru, sementara Guardiola mengakui butuh waktu memulihkan diri sebelum menentukan langkah berikutnya.

Sebuah seri dokumenter anyar produksi Amazon Prime menguak sisi paling personal dari dua musim terakhir Pep Guardiola di Manchester City, termasuk konflik terbuka dengan kapten Kyle Walker yang berujung pada kepergian bek Inggris itu ke AC Milan pada Januari 2025. Dalam salah satu adegan, pelatih asal Spanyol itu terlihat menahan emosi saat berbicara di depan skuad, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Walker yang dianggap tidak pantas dilakukan seorang kapten di saat tim sedang terpuruk.
Rekaman itu memperlihatkan Guardiola menyesali kepergian Walker, yang sebelumnya meminta izin untuk mencari tantangan baru. “Sangat menyedihkan apa yang terjadi dengan Kyle. Mudah sekali baginya untuk datang dan bilang ‘saya lelah’. Tapi Anda tidak bisa bersikap seperti itu sebagai kapten, terutama di momen-momen terberat dalam hidup kami,” ujarnya di hadapan para pemain jelang laga melawan Chelsea. Meski tidak merinci perilaku spesifik yang dimaksud, dokumenter ini menangkap pertengkaran keduanya usai kekalahan dari Liverpool di Anfield pada Desember 2024, saat kesalahan Walker menyebabkan gol penalti lawan.
Ketegangan itu memicu perdebatan sengit di ruang ganti. Walker merasa selalu menjadi sasaran kritik, sementara Guardiola menegaskan bahwa tanggung jawab seorang kapten memang lebih besar. “Setiap rapat, selalu nama saya yang disebut,” protes Walker. “Mungkin karena Anda kapten,” jawab Guardiola. “Oke, Anda tidak ingin saya menjadi kapten,” balas Walker. Insiden ini menjadi salah satu momen paling dramatis dalam serial yang mengikuti perjalanan Guardiola hingga ia memutuskan mundur pada akhir musim 2025-26 setelah sepuluh tahun membesut The Citizens.
Musim 2024-25 menjadi ujian terbesar bagi Guardiola sepanjang kariernya. Empat kekalahan beruntun yang pertama kali dialaminya membuatnya nyaris hengkang. Dalam wawancara dengan sutradara Kevin Macdonald, Guardiola mengaku sempat memberi tahu klub, “Mungkin ini sudah berakhir.” Ketua klub, Khaldoon Al Mubarak, bahkan mengibaratkan Guardiola seperti “anak yang berteriak serigala” yang akhirnya benar-benar melihat serigala. Tekanan finansial dari 115 tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League, cedera panjang Rodri, serta masalah pribadi berupa perceraian membuat kondisi mentalnya dipertanyakan publik, terutama setelah muncul goresan di wajahnya usai laga melawan Feyenoord.
Manel Estiarte, staf teknis yang sudah lama mendampingi Guardiola, mengungkapkan bahwa para pemain sempat khawatir melihat perubahan sikap pelatihnya. “Mereka khawatir karena Pep cemas, sedih, dan berbeda. Hanya saya yang tahu alasannya. Saya bilang ke tim, ‘kalian tidak sedang bermain dengan pelatih yang impulsif atau kadang naik-turun. Kalian melihat manusia biasa yang sedang bercerai’,” tuturnya. Guardiola sendiri mengakui kelelahan dan kesepian saat tim tampil buruk, bahkan menyebut performa pemain sebagai “aib” dan merasa ingin berhenti.
Keputusan Guardiola untuk tidak memperpanjang kontrak sempat dipertanyakan, namun ia akhirnya bertahan dan memimpin City meraih double di musim terakhirnya. Namun, ia mengakui belum tahu langkah selanjutnya. “Saya sendiri tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Akan sulit untuk kembali. Saya perlu menyegarkan banyak hal dalam kehidupan pribadi saya,” ujarnya. Sementara itu, City memulai regenerasi dengan melepas Kevin de Bruyne yang menangis saat pamit, dan merekrut Rayan Cherki yang sempat diragukan sikapnya oleh direktur olahraga Hugo Viana, namun justru tampil impresif dengan torehan assist terbanyak kedua di liga.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi cermin bahwa tekanan di klub sebesar Manchester City tidak hanya datang dari lapangan, tetapi juga dari dinamika ruang ganti dan beban mental pelatih. Fenomena ini relevan dengan perkembangan sepak bola nasional, di mana manajemen klub dan federasi mulai memperhatikan aspek psikologis pelatih dan pemain sebagai bagian dari profesionalisme. Pertanyaannya, mampukah klub-klub Indonesia belajar dari pengalaman Guardiola dalam mengelola krisis dan membangun kembali kepercayaan tim?



