FIFA Pecat COO Kevin Lamour: Kritik ke Infantino Berujung Pemecatan?
Baca dalam 60 detik
- FIFA resmi mengakhiri kerja sama dengan COO Kevin Lamour pada 17 Agustus 2026, kurang dari tiga pekan setelah ia mengkritik rencana investasi swasta yang digagas presiden Gianni Infantino.
- Lamour sebelumnya menilai proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) sebagai 'proyek satu orang' dan mengaku administrasi FIFA 'tertipu' atas rencana yang akhirnya dibatalkan tersebut.
- Pemecatan ini memicu pertanyaan tentang iklim transparansi di FIFA, terutama setelah Infantino mendapat dukungan eksekutif di Maroko tanpa mengundang Lamour.

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi memutus hubungan kerja dengan Chief Operating Officer (COO) Kevin Lamour pada 17 Agustus 2026. Keputusan ini diumumkan hanya beberapa pekan setelah Lamour secara terbuka mengkritik rencana presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual sebagian saham kompetisi kepada investor swastaโsebuah rencana yang akhirnya dibatalkan.
Juru bicara FIFA hanya mengonfirmasi bahwa "hubungan kerja antara FIFA dan Kevin Lamour sebagai COO telah berakhir pada 17 Agustus 2026," sambil mengucapkan terima kasih atas dua tahun pengabdiannya. Namun, sumber internal yang dihubungi BBC Sport menyebutkan bahwa pemecatan ini tidak lepas dari pernyataan kritis Lamour terhadap proyek kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE) yang digagas Infantino.
Dalam sebuah pernyataan bulan lalu, Lamour menilai FFE sebagai "proyek satu orang" dan menegaskan bahwa "sudah waktunya para pemimpin politik sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat." Ia juga mengungkapkan bahwa administrasi FIFA sendiri "tertipu" oleh proyek yang kini telah ditinggalkan tersebut. Kritik ini disampaikan Lamour dengan tegas, bahkan ia mengakui siap menerima konsekuensi: "Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, maka biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini."
Lamour, yang bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal UEFA, berada dua tingkat di bawah Infantino dalam struktur manajemen. Sebelumnya, pada awal bulan ini, Infantino mendapatkan dukungan dari para eksekutif senior dalam pertemuan di Maroko, namun Lamour tidak diundangโsebuah sinyal yang memperkuat dugaan adanya jarak antara keduanya.
Dalam surat yang dikirimkan kepada anggota Dewan FIFA dan dilihat oleh BBC Sport, Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom menulis bahwa keputusan ini diambil "setelah pertimbangan matang dan dengan rasa hormat yang besar terhadap Kevin, baik secara pribadi maupun profesional." Grafstrom juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas kontribusi Lamour selama ini.
Konteks Indonesia: Meski berita ini berasal dari internal FIFA, dinamika di tubuh induk organisasi sepak bola dunia selalu relevan bagi PSSI dan sepak bola nasional. Indonesia, yang tengah giat membenahi tata kelola sepak bola, dapat menjadikan kasus ini sebagai pelajaran tentang pentingnya transparansi dan keberanian untuk bersuara. Di tengah upaya reformasi yang digaungkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, kasus Lamour menunjukkan bahwa kritik internal bisa berujung pada konsekuensi karier, namun juga menyoroti kebutuhan akan check and balances dalam organisasi sebesar FIFA.
Para pengamat menilai pemecatan ini dapat memperdalam perpecahan di internal FIFA, terutama setelah sejumlah asosiasi seperti Skotlandia menarik dukungan terhadap Infantino. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan meredam kritik atau justru memicu gelombang ketidakpercayaan yang lebih luas terhadap kepemimpinan Infantino? Ke depan, publik akan mencermati apakah FIFA mampu menjaga independensi para pejabatnya atau justru semakin tersentralisasi di bawah kendali presiden.



