Stroll Sebut Mesin Honda Bikin Aston Martin Kehilangan Dua Detik per Lap
Baca dalam 60 detik
- Lance Stroll mengungkap defisit hingga dua detik per lap akibat performa mesin Honda, menyoroti kelemahan utama Aston Martin di musim 2026.
- Honda telah memanfaatkan jendela pengembangan tambahan kedua (ADUO) dengan upgrade turbocharger, namun masalah pemanenan energi listrik masih membayangi.
- Dengan regulasi teknis 2026 yang belum optimal dan persaingan ketat, masa depan jangka panjang Aston Martin bersama Honda dipertanyakan.

Pembalap Aston Martin, Lance Stroll, secara blak-blakan menyatakan bahwa kekurangan tenaga dari unit daya Honda membuat mobil AMR26 mereka tertinggal hingga dua detik per lap dibandingkan rival. Pernyataan ini mencuat di tengah upaya tim memperbaiki performa yang jauh dari ekspektasi pada musim 2026, meski telah mendatangkan Adrian Newey sebagai arsitek teknis.
Stroll mengungkapkan bahwa defisit tersebut sangat terasa di sirkuit dengan karakteristik lintasan lurus panjang seperti Baku dan Monza. "Kami kehilangan dua detik di mesin, jadi sangat sulit. Di tempat seperti Baku dan Monza, ketika Anda kehilangan dua detik di mesin, tidak banyak yang bisa dilakukan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengembangan sasis sebenarnya sudah menunjukkan arah positif, terutama setelah paket upgrade besar di Budapest, namun masalah tenaga mesin tetap menjadi penghambat utama.
Kritik ini menjadi sorotan karena Honda, yang kembali memasok mesin ke Aston Martin setelah meninggalkan McLaren pada 2017, disebut-sebut sebagai penyebab utama keterpurukan. Meski tim berusaha tampil kompak, Newey sempat menghindari konfrontasi publik setelah konferensi pers kontroversial di Grand Prix Australia yang secara tersirat menyalahkan pemasok mesin.
Honda sendiri telah mengambil langkah agresif dengan memanfaatkan kesempatan pengembangan dan upgrade tambahan (ADUO) kedua. Karena mesin pembakaran internal (ICE) mereka terdeteksi lebih dari 4% di bawah tolok ukur Red Bull-Ford, Honda mendapat ruang dan sumber daya ekstra untuk melakukan perbaikan. Awalnya hanya direncanakan satu upgrade musim ini, namun Honda mengubah haluan dengan menghadirkan turbocharger baru guna mengatasi keluhan pengendaraan kedua pembalap.
Meski demikian, masalah pemanenan dan penggelaran energi listrik masih menjadi momok. Kemampuan untuk mempertahankan dorongan listrik sebelum fase ramp-down wajib sangat memengaruhi kecepatan puncak di lintasan lurus. Karena Honda hanya memasok Aston Martin, sulit untuk membandingkan apakah masalahnya murni pada unit daya atau justru sasis AMR26 yang terlalu draggy secara aerodinamis. Pengalaman McLaren pada 2017 menjadi pelajaran berharga bahwa terkadang mobil juga bagian dari masalah.
"Sirkuit dengan lintasan lurus panjang lebih buruk bagi kami. Budapest mungkin balapan terbaik kami tahun ini karena banyak tikungan dan tidak banyak lurus. Jadi, kami harus membenahi aspek pengendaraan. Itu batasan besar bagi kami, lalu tenaga di lintasan lurus," kata Stroll.
Keputusan Aston Martin untuk mempertahankan Stroll dan Fernando Alonso hingga 2027 menunjukkan stabilitas jangka panjang, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang ambisi tim. Alonso, yang sebelumnya ragu karena regulasi teknis 2026 dan performa AMR26 yang mengecewakan, akhirnya memperpanjang kontrak. Namun, jika defisit mesin tidak segera diatasi, potensi keduanya untuk bersaing di barisan depan akan tetap terbatas.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, dinamika ini menjadi cerminan betapa krusialnya integrasi antara sasis dan unit daya dalam era regulasi hybrid. Tim-tim papan atas seperti Red Bull dan Mercedes terus mengasah sinergi internal, sementara Aston Martin masih bergulat dengan ketergantungan pada pemasok eksternal. Kegagalan Honda menyediakan mesin yang kompetitif dapat menjadi pelajaran bagi masa depan kerja sama teknis di ajang balap.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Honda mampu menutup celah dua detik tersebut sebelum musim 2027 dimulai, atau justru Aston Martin perlu mempertimbangkan ulang kemitraan mereka. Dengan Newey yang dikenal sebagai jenius aerodinamika, tekanan kini beralih ke pabrikan Jepang untuk membuktikan bahwa mereka bisa setara dengan rival. Jika tidak, predikat tim papan tengah akan sulit dilepaskan.



