Wall Street Tertekan, Dolar Loyo: Data Ekonomi AS yang Lemah Ubah Arah Taruhan Suku Bunga The Fed
Baca dalam 60 detik
- Indeks utama bursa AS ditutup melemah setelah rilis data penjualan ritel yang mengecewakan, memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan depan menjadi 35%.
- Imbal hasil obligasi 30 tahun AS menembus level tertinggi sejak 2007, didorong kekhawatiran fiskal dan derasnya penerbitan utang korporasi sektor AI.
- Perang Iran yang berkepanjangan menambah ketidakpastian pasar, mengerek harga minyak Brent di atas US$90 per barel dan mendorong investor beralih ke emas.

Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada Senin (17/8) waktu setempat, sementara dolar AS terpuruk ke level terendah dua bulan terhadap euro. Pemicunya adalah serangkaian data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, termasuk penjualan ritel yang justru terkontraksi, sehingga pelaku pasar mulai mengkalkulasi ulang langkah Federal Reserve dalam waktu dekat.
Tekanan jual di Wall Street terjadi di tengah aksi wait-and-see investor menjelang laporan keuangan raksasa ritel. Home Depot dijadwalkan merilis kinerja kuartalannya pada Selasa, disusul Walmart pada Kamis. Dua emiten ini dipandang sebagai barometer utama kesehatan konsumen AS, yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian. Menurut Phil Blancato, kepala strategi pasar di Osaic Wealth, pasar sedang lesu dan menunggu arah dari data penjualan ritel tersebut. Ia juga mencatat volume perdagangan yang tipis khas musim liburan Agustus memperparah situasi.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke titik tertinggi sejak 2007, menembus 5,31 persen. Fenomena ini dinilai sebagai sinyal kekhawatiran investor terhadap lintasan fiskal AS yang memburuk, ditambah derasnya penerbitan utang korporasi dari perusahaan-perusahaan teknologi yang tengah berekspansi di bidang kecerdasan buatan (AI). Barclays Capital dalam catatannya menggarisbawahi bahwa tiga rilis data ekonomi yang lemah seharusnya menekan imbal hasil jangka panjang, tetapi kenyataannya lelang obligasi 30 tahun pekan lalu justru menghasilkan yield tertinggi sejak 2001.
Ketidakpastian geopolitik turut membebani sentimen. Perang Iran yang telah berlangsung sejak Februari masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan Presiden AS Donald Trump mengancam akan membom Oman jika Iran tidak menyerah. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasokan minyak global, mengirim harga minyak mentah Brent ke level US$90,81 per barel dan WTI ke US$84,66. Analis Trade Nation, David Morrison, menilai para investor sebelumnya terlalu optimistis bahwa perang akan segera berakhir, padahal kenyataannya konflik masih berlanjut hingga mendekati akhir musim panas.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS melemah tipis ke 99,6, sementara euro menguat ke US$1,1579 dan sempat menyentuh US$1,1614, tertinggi sejak 17 Juni. Data inflasi Juli yang relatif jinak, baik untuk harga konsumen maupun produsen, telah memupus harapan akan kenaikan suku bunga yang agresif. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan depan merosot tajam dari 55 persen menjadi hanya 35 persen, sementara untuk Desember tercatat 69 persen.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi yang patut dicermati. Pelemahan dolar AS berpotensi meredakan tekanan pada nilai tukar rupiah, meski ketidakpastian global masih bisa memicu arus modal keluar. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi AS jangka panjang dapat meningkatkan biaya utang pemerintah dan korporasi, termasuk bagi emiten yang berencana menerbitkan surat utang dalam dolar. Sementara itu, harga minyak yang bertahan tinggi akan menambah beban impor energi dan berpotensi mendorong inflasi domestik.
Ke depan, pasar akan mencermati data ketenagakerjaan AS dan pidato para pejabat The Fed dalam simposium Jackson Hole akhir bulan ini. Pertanyaannya, apakah The Fed akan tetap bertahan pada sikap hawkish-nya atau mulai memberi sinyal pelonggaran? Jawabannya akan menentukan arah pasar keuangan global, termasuk arus modal ke pasar emerging market seperti Indonesia.



