Harga Minyak Melonjak 2 Dolar di Tengah Kebuntuan Diplomasi Iran: Ancaman Pasokan Global Menguat
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing naik 2,82% dan 2,75% pada Senin (17/8) karena investor khawatir konflik Iran tak kunjung reda.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz melambat drastis, dengan hanya lima kapal komoditas melintas pada Sabtu dan nihil pada Minggu, memicu ketidakpastian pasokan.
- Analis memperkirakan harga minyak akan tetap bertahan di kisaran US$90 per barel hingga ada kejelasan nasib Selat Hormuz atau perubahan signifikan dalam negosiasi.

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel pada Senin (17/8), didorong kekhawatiran pasokan yang semakin memuncak di tengah kebuntuan upaya diplomatik menyelesaikan perang Iran. Investor mencermati sikap keras Presiden AS Donald Trump yang menuntut Iran menyerah dan mengancam akan membombardir Oman jika menghalangi, sementara Teheran mengisyaratkan eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz.
Brent crude ditutup menguat 2,50 dolar AS (2,82%) ke level 91,02 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,27 dolar AS (2,75%) menjadi 84,67 dolar AS. Kenaikan ini memperpanjang reli pekan lalu yang mencatatkan gain lebih dari 5 persen setelah serangan terhadap kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dan kilang Saudi Aramco di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin memanas setelah Trump, dalam wawancara telepon dengan Fox News, menegaskan bahwa Iran harus "mengibarkan bendera putih" dan mengancam akan mengebom Oman jika negara itu menghalangi. Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan melancarkan serangan jika AS gagal mengimplementasikan kesepakatan damai sementara dalam hitungan minggu. Senin sebenarnya menjadi batas waktu tercapainya kesepakatan final berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan perlambatan signifikan lalu lintas di Selat Hormuz: hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu, dan tidak ada satu pun yang tercatat pada Minggu, dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Sebelum serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada akhir Februari, selat ini menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih parah, meski analis menilai harga belum akan bergerak drastis sebelum ada penghentian total aliran minyak melalui selat tersebut.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa Trump "bermain untuk jangka panjang" dan menegaskan bahwa Iran tidak dapat mengekspor minyak sama sekali saat ini sebagai bagian dari strategi pencekikan ekonomi. "Dunia tidak membutuhkan minyak Iran," ujarnya. Namun, ia juga berencana bertemu dengan para pengilang AS untuk membahas cara meningkatkan produksi bahan bakar guna menekan harga bensin yang tetap tinggi. Data Departemen Energi AS menunjukkan stok minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun 5,3 juta barel menjadi 293,4 juta barel, level terendah sejak 1982, sebagai bagian dari kesepakatan melepas 172 juta barel.
Di tengah kebuntuan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut negosiasi dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz berjalan alot karena kompleksitas dan banyaknya aktor yang terlibat. Analis Frank Walbaum dari Naga.com menilai bahwa pembatasan pengiriman dan kebuntuan negosiasi membatasi potensi penurunan harga. "Tanpa katalis baru, harga minyak bisa terus berkonsolidasi di level saat ini," katanya.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengantisipasi penyesuaian harga BBM dalam negeri, terutama jika konflik berkepanjangan. Selain itu, ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah dapat memengaruhi biaya impor minyak dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah ada terobosan diplomatik atau eskalasi militer yang lebih luas. Pertanyaannya, mampukah AS dan Iran menemukan titik temu sebelum Selat Hormuz benar-benar tertutup, atau akankah harga minyak menembus level psikologis 100 dolar AS? Jawabannya akan menentukan arah ekonomi global, termasuk Indonesia, dalam beberapa pekan ke depan.



