Peta Kekuatan Sepak Bola Wanita Afrika Bergeser: Kamerun Juara Wafcon 2026, Nigeria Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Kamerun merebut gelar juara Piala Afrika Wanita 2026 setelah mengalahkan Malawi 3-0 di final, sekaligus memastikan tiket ke Piala Dunia Wanita 2027.
- Ekspansi turnamen dari 12 menjadi 16 tim terbukti meningkatkan daya saing, ditandai dengan sejumlah kejutan seperti kemenangan Tanzania atas Afrika Selatan dan Malawi atas Nigeria.
- Nigeria, yang sebelumnya mendominasi, gagal lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, memicu evaluasi besar-besaran terhadap struktur sepak bola wanita di negara tersebut.

Kamerun menahbiskan diri sebagai juara Piala Afrika Wanita (Wafcon) 2026 setelah menundukkan Malawi dengan skor telak 3-0 di partai puncak, Minggu (26/7) di Maroko. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan Kamerun sebagai negara keempat yang pernah meraih trofi Wafcon, tetapi juga mengamankan tiket ke Piala Dunia Wanita 2027 yang akan digelar di Brasil. Sementara itu, Aljazair, yang juga melaju ke semifinal, memastikan diri tampil di ajang global tersebut untuk pertama kalinya. Namun, Afrika Selatan, sang juara bertahan, harus melewati babak play-off antar-konfederasi untuk bisa menyusul.
Turnamen yang sempat tertunda 12 hari sebelum jadwal awal ini akhirnya berlangsung di Rabat dan Casablanca selama tiga pekan. Keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) untuk memperluas jumlah peserta dari 12 menjadi 16 tim, meski diumumkan mendadak di tengah babak kualifikasi, terbukti menjadi langkah yang tepat. Format baru ini memberikan kesempatan bagi tim-tim seperti Kamerun dan Pantai Gading yang sebelumnya tersingkir di kualifikasi untuk tetap tampil berdasarkan peringkat dunia. Hasilnya, kompetisi menjadi lebih sengit dan penuh kejutan, berbeda dengan edisi 2024 yang relatif mudah ditebak.
Salah satu kejutan terbesar datang dari Malawi, yang tampil sebagai debutan. Tim berjuluk The Scorchers ini berhasil mengalahkan Nigeria, juara bertahan 10 kali, dengan skor 3-2 di laga pembuka, sebelum menyingkirkan Ghana dan Aljazair untuk melaju ke final. Keberhasilan Malawi tidak lepas dari ketajaman duet kakak-beradik Chawinga, dengan Temwa Chawinga yang memuncaki daftar pencetak gol terbanyak dengan lima gol dan dua assist. Pencapaian ini diprediksi akan mengangkat peringkat FIFA Malawi yang saat ini berada di posisi 153 dunia.
Di sisi lain, kegagalan Nigeria menjadi sorotan tajam. Tim Super Falcons, yang sebelumnya selalu menjadi momok bagi lawan-lawannya, harus tersingkir di perempat final setelah kalah dari Kamerun, dan kemudian gagal total setelah dikalahkan Afrika Selatan 2-1 di play-off Piala Dunia. Ini adalah pertama kalinya Nigeria absen dari Piala Dunia Wanita. Mantan striker Desire Oparanozie menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan sepak bola wanita di Nigeria, yang selama ini terlalu bergantung pada pemain-pemain yang berkarier di luar negeri. Federasi sepak bola Nigeria pun telah membentuk komite investigasi untuk mengkaji kegagalan ini.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya investasi dan struktur yang kuat dalam pengembangan sepak bola wanita. Keberhasilan Kamerun yang dilatih oleh Valentine Nguele, yang baru bergabung dua bulan sebelum turnamen, menunjukkan bahwa perubahan cepat bisa terjadi dengan manajemen yang tepat dan dukungan penuh. Sementara itu, kegagalan Nigeria mengingatkan bahwa ketergantungan pada pemain diaspora tanpa pembinaan lokal yang solid hanya akan menjadi bom waktu. PSSI dan stakeholder sepak bola Indonesia dapat menjadikan Wafcon 2026 sebagai studi kasus untuk membangun fondasi yang lebih kokoh bagi Timnas Putri Indonesia, yang sedang berjuang untuk menembus level Asia.
Meski turnamen ini sukses secara kompetisi, sejumlah pekerjaan rumah masih menanti. Kehadiran penonton di laga-laga yang tidak melibatkan tuan rumah Maroko masih sangat minim, menyoroti masalah biaya perjalanan dan persyaratan visa yang menjadi hambatan klasik. Selain itu, penggunaan VAR yang lambat dan beberapa keputusan kontroversial yang menguntungkan tuan rumah juga menjadi catatan. Maroko sendiri, yang menjadi tuan rumah tiga edisi terakhir, belum mengonfirmasi kesediaan mereka untuk menjadi tuan rumah lagi. Pertanyaan besarnya adalah: akankah CAF menemukan tuan rumah baru dan jadwal yang tepat untuk Wafcon 2028, mengingat bentrok dengan Olimpiade Los Angeles? Atau justru Afrika akan semakin tertinggal dalam peta sepak bola wanita global?



