Harga Minyak Mentah Terjebak di Zona Abu-abu: Perang Iran dan Selat Hormuz Gantungkan Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI bergerak tipis di tengah kebuntuan diplomasi AS-Iran, dengan pasar telah mengantisipasi gangguan pasokan.
- Ancaman Trump untuk membom Oman dan peringatan eskalasi dari Teheran menahan laju penurunan harga, meski volume pengiriman di Selat Hormuz merosot drastis.
- Ketidakpastian berlanjut membuat harga minyak berpotensi terkonsolidasi, sementara Indonesia harus mencermati dampaknya terhadap APBN dan harga energi domestik.

Harga minyak mentah dunia nyaris tak bergerak pada awal pekan ini di tengah kebuntuan negosiasi yang tak kunjung usai antara Amerika Serikat dan Iran. Investor memilih bersikap hati-hati setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan retorika keras, menuntut Teheran menyerah dan mengancam akan membombardir Oman jika negara tersebut menghalangi kepentingan Washington. Kondisi ini membuat pasar energi global berada dalam ketegangan yang berkepanjangan, dengan Brent bertahan di kisaran 88 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sedikit melemah ke level 82 dolar AS.
Kebuntuan ini terjadi tepat pada tenggat waktu yang disepakati dalam nota kesepahaman Juni lalu, yang seharusnya menjadi pijakan bagi kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik. Namun, bukannya kemajuan, yang muncul justru pernyataan saling ancam. Seorang pejabat senior Iran, seperti dikutip Reuters, mengisyaratkan bahwa Teheran siap meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan sekitarnya, bahkan melancarkan serangan jika AS gagal sepenuhnya menerapkan kesepakatan gencatan senjata sementara dalam hitungan minggu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan belum ada keputusan untuk kembali ke meja perundingan dengan AS.
Di sisi lain, Trump dalam wawancara dengan Fox News menegaskan agar Iran "mengibarkan bendera putih" dan mengaku siap menyerang Oman jika negara itu menghalangi. Retorika ini, menurut analis, tidak lagi mampu menggerakkan pasar secara signifikan karena pelaku pasar telah memperhitungkan potensi gangguan pasokan yang besar. "Pasar sudah mematok harga untuk banyak pengurangan pasokan," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, seraya menambahkan bahwa pernyataan Trump dianggap sebagai bagian dari strategi politik.
Data terbaru menunjukkan eskalasi nyata di lapangan: volume pengiriman kapal komoditas melalui Selat Hormuz anjlok drastis. Pada Sabtu lalu, hanya lima kapal yang melintas, dan tidak ada satu pun yang tercatat pada Minggu, menurut data pelacakan kapal dari Kpler. Bandingkan dengan akhir pekan sebelumnya yang mencatat 31 kapal. Sebelum serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada akhir Februari, selat yang memisahkan Semenanjung Arab dan Iran ini menangani sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Kini, aliran minyak dari kawasan Teluk menjadi semakin terhambat, memaksa perusahaan-perusahaan raksasa seperti ADNOC dan Saudi Aramco untuk mencari jalur alternatif atau menjual minyak di luar selat dengan premi tertentu.
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara pengimpor minyak mentah netto, setiap gejolak harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama subsidi energi. Ketika harga minyak bertahan di atas 80 dolar AS per barel, pemerintah harus mengalokasikan subsidi BBM dan listrik yang lebih besar, yang berpotensi mengganggu fiskal. Selain itu, risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz dapat memengaruhi keamanan pasokan minyak nasional, mengingat sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Meskipun Indonesia telah berupaya diversifikasi sumber impor, ketergantungan pada jalur ini masih cukup signifikan.
Analis memperkirakan harga minyak tidak akan bergerak jauh dari level saat ini tanpa adanya katalis baru. Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai bahwa potensi kenaikan signifikan hanya akan terjadi jika aliran minyak di Selat Hormuz benar-benar terhenti atau Selat Bab el-Mandeb ditutup. Sebaliknya, jika terjadi resolusi damai dan selat dibuka kembali, harga bisa jatuh tajam. "Tanpa adanya katalis baru, harga minyak bisa terus berkonsolidasi di sekitar level saat ini," kata Frank Walbaum, analis pasar di platform trading Naga.com. Sementara itu, Iran dan Oman masih bernegosiasi mengenai pengelolaan selat, namun prosesnya berlarut-larut karena kompleksitas isu dan banyaknya aktor yang terlibat.
Ke depan, pasar akan mencermati langkah konkret AS dan Iran dalam beberapa pekan mendatang. Apakah retorika perang akan berujung pada eskalasi nyata yang memutus pasokan, atau justru membuka jalan bagi diplomasi yang meredakan ketegangan? Bagi Indonesia, pertanyaan yang lebih mendesak adalah seberapa siap pemerintah menghadapi potensi lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan, serta apakah kebijakan energi nasional sudah cukup adaptif untuk merespons gejolak global yang kian tidak menentu.



