Perang Tawaran Ghedjemis Memanas: Monaco Ungguli Celtic dan Rangers, Frosinone Patok Harga €20 Juta
Baca dalam 60 detik
- Frosinone memanfaatkan musim promosi impresif untuk melipatgandakan nilai jual Fares Ghedjemis, dari €8 juta menjadi sekitar €20 juta.
- Monaco dan Besiktas menjadi dua kandidat terdepan, dengan pemain dikabarkan lebih memilih pindah ke Ligue 1 daripada Liga Turki.
- Klub-klub Skotlandia, Celtic dan Rangers, diprediksi tersingkir dari persaingan lantaran tawaran mereka terus ditolak.

Bursa transfer musim panas ini menyajikan salah satu drama perebutan pemain paling menarik di Eropa: Fares Ghedjemis, winger timnas Aljazair milik Frosinone, menjadi rebutan sejumlah klub besar. AS Monaco dikabarkan telah meningkatkan tawaran mereka, sementara Besiktas, Celtic, dan Glasgow Rangers berusaha keras mengejar ketertinggalan. Dengan banderol yang mendekati €20 juta, Frosinone berada di kursi pengemudi dan siap menuai keuntungan besar dari penjualan pemain yang baru genap berusia 24 tahun bulan depan.
Ghedjemis bukanlah nama asing di pentas sepak bola Italia. Pada Januari lalu, Frosinone dengan tegas menolak proposal senilai €8 juta untuk pemain sayapnya itu. Kini, setelah menjadi motor utama promosi Frosinone ke Serie A, nilai pasar sang pemain meroket lebih dari dua kali lipat. Catatan 15 gol dan tiga assist dalam 37 penampilan di Serie B musim lalu menjadi bukti nyata kontribusinya. Klub asal Lazio itu kini merasa percaya diri untuk menunggu tawaran terbaik, dan angka €20 juta menjadi patokan yang realistis.
Persaingan memperebutkan Ghedjemis melibatkan klub-klub dari berbagai liga. Celtic dan Rangers, dua raksasa Skotlandia, telah berulang kali mengajukan tawaran namun selalu ditolak. Kini, fokus perhatian tertuju pada dua kandidat utama: Monaco dan Besiktas. Menurut pakar transfer asal Belgia, Santi Aouna, Besiktas yang ditangani Vincenzo Italiano menawarkan syarat pribadi yang lebih menggiurkan. Namun, sang pemain dikabarkan lebih condong bergabung dengan Monaco, yang berlaga di Ligue 1 dan kerap menjadi batu loncatan bagi pemain muda berbakat.
Strategi Frosinone yang membiarkan klub-klub peminat saling berperang di pasar transfer jelas menguntungkan mereka. Semakin lama negosiasi berlangsung, semakin tinggi pula harga yang bisa mereka patok. Situasi ini juga menjadi sinyal bagi klub-klub Eropa lainnya bahwa Frosinone tidak akan melepas pemain kuncinya dengan harga murah. Bagi Ghedjemis sendiri, keputusan untuk pindah ke klub mana akan menentukan langkah kariernya ke depan, terutama dengan ambisinya untuk tampil reguler di kompetisi Eropa.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa berlomba mendapatkan pemain Afrika Utara yang sedang naik daun. Keberhasilan Ghedjemis menembus Serie A juga menjadi inspirasi bagi pemain-pemain muda Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bahwa kerja keras dan konsistensi bisa membawa mereka ke panggung sepak bola Eropa. Meski belum ada kaitan langsung dengan Indonesia, dinamika transfer ini mencerminkan pasar global yang semakin kompetitif.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah Monaco berhasil mengamankan tanda tangan Ghedjemis, atau justru Besiktas yang mampu memikatnya dengan tawaran finansial yang lebih besar? Atau mungkinkah ada kejutan di menit-menit akhir dari klub lain yang ikut serta dalam perburuan? Yang jelas, Frosinone akan menjadi pemenang dalam bursa transfer ini, dan Ghedjemis akan segera menentukan masa depannya di panggung yang lebih besar.



