HUT ke-81 RI di Muscat: 175 Diaspora Kenakan Batik, KBRI Siap Gelar Pesta Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 175 WNI di Oman mengikuti upacara bendera HUT ke-81 RI di KBRI Muscat, mengenakan batik dan kebaya sebagai simbol keragaman budaya.
- Dubes Andi Rahadian menegaskan bahwa peringatan ini menjadi ajang memperkuat citra ramah diaspora Indonesia di mata masyarakat Oman dan asing.
- KBRI Muscat merencanakan 'Pesta Rakyat' pada Oktober 2026 untuk mempererat silaturahmi antara diaspora dan warga setempat, menandai komitmen diplomasi budaya jangka panjang.

Sebanyak 175 warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Oman mengikuti upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di KBRI Muscat, Senin pagi waktu setempat. Mengenakan batik dan kebaya bernuansa merah putih, mereka hadir bukan sekadar merayakan hari bersejarah, tetapi juga menegaskan bahwa keramahan Indonesia tetap hidup ribuan kilometer dari tanah air.
Duta Besar RI untuk Oman merangkap Yaman, Andi Rahadian, yang bertindak sebagai pembina upacara, menyebut kegiatan ini sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang beragam dan ramah kepada warga Oman serta komunitas asing lainnya. Menurut keterangan resmi KBRI yang diterima di Jakarta, upacara yang dimulai pukul 06.30 waktu setempat itu juga menjadi sarana mempererat kebersamaan di antara diaspora yang terdiri dari pekerja migran, pelajar, dan masyarakat umum.
Di tengah hiruk-pikuk peringatan kemerdekaan di dalam negeri, perayaan di Muscat menyimpan makna tersendiri. Bagi para pekerja migran Indonesia di kawasan Teluk, momen seperti ini adalah pengingat bahwa kontribusi mereka untuk bangsa tidak pernah terputus oleh jarak. Alfanov, seorang WNI yang telah bekerja di Oman selama tiga tahun, mengaku bersyukur bisa hadir dan berharap upacara ini menyadarkan rekan-rekannya untuk tetap mengabdi pada Indonesia meski berada di perantauan.
Andi juga mengumumkan rencana KBRI Muscat untuk menggelar "Pesta Rakyat" pada Oktober 2026. Acara ini dirancang sebagai ajang silaturahim yang lebih luas, tidak hanya melibatkan diaspora Indonesia tetapi juga masyarakat Oman. Langkah ini dinilai sebagai upaya diplomasi budaya yang konkret, memperkuat hubungan bilateral yang selama ini didominasi oleh kerja sama ekonomi dan ketenagakerjaan.
Bagi Indonesia, diaspora di Timur Tengah bukan sekadar pengirim remitansi. Mereka adalah duta informal yang membentuk persepsi publik tentang bangsa ini. Kehadiran mereka dalam upacara kenegaraan, lengkap dengan busana tradisional, menjadi simbol bahwa identitas budaya Indonesia tidak luntur oleh modernitas atau jarak geografis. Hal ini sejalan dengan tren peningkatan peran diaspora dalam diplomasi publik yang digalakkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah upacara, acara dilanjutkan dengan syukuran bersama. Andi melakukan tradisi potong tumpeng, sebuah ritual yang kerap menjadi penanda kebersamaan dalam perayaan Indonesia. Momen ini tidak hanya mempererat ikatan emosional antar-WNI, tetapi juga memberikan kesempatan bagi warga Oman untuk merasakan langsung kehangatan budaya Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana perayaan serupa dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk mendukung kepentingan nasional, misalnya dalam promosi pariwisata atau produk budaya. Dengan rencana "Pesta Rakyat" yang lebih besar tahun depan, KBRI Muscat tampaknya ingin memastikan bahwa semangat kemerdekaan tidak berhenti pada upacara seremonial, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan dua bangsa.



