Plt Sekjen MPR: Isi Kemerdekaan dengan Karya, Bukan Sekadar Nostalgia Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Siti Fauziah menekankan bahwa perayaan kemerdekaan harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan hanya seremoni tahunan.
- Generasi kini menghadapi medan perjuangan baru: kebodohan, kemiskinan, dan disinformasi digital, menggantikan perlawanan fisik.
- Stabilitas nasional yang terjaga dinilai sebagai modal utama untuk mendorong produktivitas dan pembangunan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengingatkan bahwa hakikat peringatan kemerdekaan bukanlah sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kontribusi setiap warga negara dalam pembangunan bangsa. Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menerjemahkan semangat proklamasi ke dalam tindakan konkret yang berdampak pada kemajuan Indonesia.
Fauziah menegaskan bahwa memaknai kemerdekaan tidak cukup dengan mengenang jasa pahlawan. Menurutnya, generasi saat ini memiliki medan perjuangan yang berbeda: melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan. "Perjuangan saat ini tidak lagi dengan mengangkat senjata, melainkan melalui karya dan kontribusi nyata," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita masyarakat yang adil dan makmur, sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa.
Mengutip Bung Karno, Fauziah menyebut kemerdekaan sebagai "jembatan emas" yang harus dilalui menuju masa depan yang lebih baik. Frasa ini, menurutnya, bukan sekadar retorika, melainkan peta jalan bagi setiap generasi untuk terus berjuang sesuai zamannya. Ia menekankan bahwa perjuangan tidak berhenti pada proklamasi 1945, tetapi berlanjut pada upaya mengisi kemerdekaan dengan prestasi di berbagai bidang, dari ekonomi, pendidikan, hingga teknologi.
Lebih lanjut, Fauziah menyoroti kondisi Indonesia yang relatif aman dan damai sebagai anugerah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Stabilitas ini, menurutnya, memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya tanpa hambatan berarti. "Kita harus bersyukur Indonesia menjadi tempat yang aman. Semestinya situasi ini membuat kita semangat untuk berkarya," tuturnya. Ia berharap rasa syukur tersebut tidak berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam produktivitas yang mendorong pembangunan nasional.
Perhatian khusus ditujukan kepada generasi muda yang tumbuh di era digital. Fauziah menggarisbawahi bahwa kemajuan teknologi membawa tantangan baru, seperti disinformasi dan polarisasi, yang dapat mengancam persatuan. Karena itu, ia meminta generasi muda untuk tetap merawat persatuan dan memberikan kontribusi positif dalam pembangunan nasional. "Dengan bersatu, bangsa Indonesia terus melangkah mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur," katanya.
Pernyataan Fauziah ini muncul di tengah peringatan HUT ke-81 RI, yang tahun ini mengusung tema "Indonesia Maju". Tema tersebut sejalan dengan ajakan untuk terus bergerak maju, tidak berpuas diri dengan capaian yang ada. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: sejauh mana semangat ini benar-benar diterjemahkan dalam kebijakan dan aksi nyata, terutama di tengah tantangan ekonomi global dan ketimpangan sosial yang masih membayangi?
Ke depan, publik menantikan langkah konkret dari seluruh elemen bangsa, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Apakah peringatan kemerdekaan tahun ini akan menjadi titik balik untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, atau hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa dampak signifikan? Jawabannya bergantung pada komitmen bersama untuk mengisi kemerdekaan dengan karya yang nyata, bukan sekadar nostalgia sejarah.



