Pasar Global Menguat, Dolar Tertekan: Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Meredup
Baca dalam 60 detik
- Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September turun drastis ke 30% setelah data ekonomi AS yang lemah.
- Dolar AS melemah ke level terendah sejak Juni, sementara euro dan dolar Australia mencapai puncak multi-bulan.
- Harga minyak mentah Brent naik 1% ke $89,42 per barel, dengan risiko pasokan dari Timur Tengah yang masih tinggi.

Pasar saham global mencatat penguatan tipis pada awal pekan ini, sementara dolar AS terperosok ke level terendah sejak Juni. Gerak ini dipicu oleh serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang mengecewakan, termasuk penurunan tak terduga pada penjualan ritel, yang meredupkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Berdasarkan alat ukur FedWatch dari CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini hanya 30%, merosot tajam dari sekitar 50% pekan lalu. Data penjualan ritel AS yang turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, ditambah sentimen konsumen yang memburuk, menjadi pukulan telak bagi prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di Eropa, indeks STOXX 600 yang mencakup 600 perusahaan besar menguat 0,04%, ditopang oleh saham sektor sumber daya alam seiring kenaikan harga emas. Sementara itu, futures Nasdaq dan S&P 500 masing-masing menguat 0,5% dan 0,2%, mengindikasikan sentimen positif yang berlanjut di Wall Street.
Koreksi ekspektasi terhadap sikap The Fed ini menjadi pendorong utama reli pasar saham. Investor kini mengalihkan perhatian pada musim laporan keuangan yang lebih sepi, dengan fokus pada kinerja raksasa ritel seperti Home Depot, Target, dan Walmart untuk mengukur daya beli konsumen AS. Data penting lainnya adalah indeks manajer pembelian (PMI) S&P untuk Agustus, yang akan menjadi indikator apakah percepatan aktivitas bisnis AS di pertengahan tahun dapat dipertahankan.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS mengalami penurunan tipis. Imbal hasil tenor dua tahun turun 2 basis poin ke 4,154%, setelah pekan lalu menyentuh level terendah tujuh minggu di 4,0977%. Sementara imbal hasil tenor 10 tahun melemah ke 4,688%. Pelemahan dolar juga terlihat jelas, dengan euro mencapai level tertinggi dua bulan di $1,1595, serta dolar Australia dan Selandia Baru yang masing-masing menembus puncak 10 minggu.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak mixed setelah penguatan pekan lalu. Brent naik 1% ke $89,42 per barel, sementara minyak mentah AS berbalik menguat 0,55% setelah sempat melemah. Shane Oliver, ekonom utama AMP, memperkirakan harga minyak akan bertahan dalam rentang $70-$100 per barel, dengan Iran mencegah penurunan lebih lanjut dan AS berupaya menenangkan pasar saat harga menembus $100. Namun, risiko tetap ada jika tidak ada kesepakatan damai yang berkelanjutan, yang dapat memangkas pasokan minyak Timur Tengah hingga 10-15% dan memaksa harga lebih tinggi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi ganda. Pelemahan dolar AS berpotensi meredakan tekanan pada nilai tukar rupiah dan membantu stabilitas pasar keuangan domestik. Namun, ketidakpastian harga minyak tetap menjadi momok bagi anggaran subsidi energi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 11 orang, mengingatkan bahwa risiko pasokan minyak masih jauh dari selesai.
Ke depan, pasar akan mencermati data PMI AS dan pidato para pejabat The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan. Pertanyaannya, apakah data ekonomi yang lemah ini akan cukup untuk mengubah sikap The Fed, atau justru menjadi bumerang yang memicu kekhawatiran resesi? Jawabannya akan menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan mendatang.



