Delapan Pendaki Dievakuasi dari Puncak Bawakaraeng: Hipotermia hingga Gejala Tifus Warnai Peringatan HUT RI
Baca dalam 60 detik
- Operasi SAR gabungan mengevakuasi delapan pendaki yang mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti upacara HUT ke-81 di Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.
- Total 3.273 pendaki terdaftar melalui empat jalur pendakian, dengan personel siaga ditempatkan di delapan titik pemantauan selama 15โ18 Agustus 2026.
- Basarnas menekankan keselamatan pendaki sebagai prioritas, mengingat kondisi medan dan cuaca ekstrem yang berisiko memicu hipotermia dan penyakit lain.

Delapan pendaki yang mengikuti upacara pengibaran bendera dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus dievakuasi tim SAR gabungan dari Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (17/8/2026) pagi. Mereka mengalami beragam gangguan kesehatan, mulai dari hipotermia, asma, kram otot, hingga dugaan tifus, yang memaksa proses penurunan dilakukan secepat mungkin sebelum kondisi memburuk.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa seluruh pendaki berhasil dibawa turun dalam keadaan selamat ke Posko Registrasi Bulu Balea. Sebagian dari mereka mendapat perawatan medis di lokasi sebelum dirujuk ke Puskesmas Tinggi Moncong untuk penanganan lanjutan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa euforia momen nasional kerap berbenturan dengan risiko fisik yang nyata di medan pegunungan.
Gunung Bawakaraeng, dengan ketinggian 2.840 meter di atas permukaan laut, bukanlah destinasi yang ramah bagi pendaki tanpa persiapan matang. Suhu dingin yang menusuk, jalur yang terjal, serta kepadatan pendaki yang tinggi pada momen puncak peringatan kemerdekaan menjadi kombinasi berbahaya. Data Basarnas Makassar mencatat total 3.273 pendaki terdaftar melalui empat jalur resmi: 223 orang via Lembanna, 1.681 orang via Bulu Balea, 947 orang via Tassoso, dan 422 orang via Kanreapia. Angka ini menunjukkan lonjakan aktivitas yang signifikan, sekaligus menuntut kesiapsiagaan ekstra dari seluruh unsur SAR.
Arif menegaskan bahwa semangat mengibarkan Merah Putih di puncak gunung tidak boleh mengorbankan keselamatan. โKami mengimbau seluruh pendaki untuk mempersiapkan diri dengan baik, membawa perlengkapan sesuai kebutuhan, menjaga kondisi fisik, dan tidak memaksakan diri jika tubuh mulai mengalami gangguan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,โ ujarnya dalam keterangan resmi. Pernyataan ini relevan tidak hanya bagi peserta upacara, tetapi juga bagi komunitas pencinta alam yang kerap menjadikan pendakian sebagai ajang aktualisasi diri tanpa memperhitungkan batas fisik.
Operasi siaga khusus yang digelar Basarnas Makassar pada 15โ18 Agustus 2026 melibatkan 295 personel dari berbagai unsur, termasuk SAR komunitas, organisasi kemanusiaan, relawan, dan tenaga medis. Mereka disebar di titik-titik strategis seperti Posko Lembanna, Pos 5, Pos 7, Pos 8, puncak gunung, Lembah Ramma, dan jalur Tassoso. Langkah ini merupakan respons atas pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana insiden hipotermia dan kelelahan ekstrem kerap terjadi pada periode yang sama. Kolaborasi antarlembaga menjadi kunci, mengingat medan Bawakaraeng yang tidak bisa diprediksi dan cuaca yang berubah cepat.
Bagi pendaki Indonesia, kejadian ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen risiko dalam aktivitas outdoor. Banyak pendaki pemula yang mengabaikan aklimatisasi, membawa perlengkapan yang tidak memadai, atau memaksakan diri demi mencapai puncak. Padahal, gejala awal seperti menggigil, sesak napas, atau kram otot adalah sinyal tubuh untuk berhenti dan mencari pertolongan. Basarnas sendiri menekankan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, baik dari pihak pendaki maupun penyelenggara kegiatan.
Arif menutup dengan pesan yang menohok: โKegiatan ini bukan hanya tentang menjaga jalur pendakian. Ini tentang memastikan setiap orang yang datang untuk memperingati kemerdekaan dapat kembali dengan selamat kepada keluarganya. Semangat kemerdekaan harus berjalan bersama kepedulian dan kemanusiaan.โ Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perayaan nasional tidak boleh berujung duka. Ke depan, pertanyaannya adalah apakah komunitas pendaki dan pihak berwenang akan menjadikan insiden ini sebagai momentum untuk memperketat standar keselamatan, atau justru membiarkannya menjadi ritual tahunan yang penuh risiko.



