Hubungan Australia-Israel Memburuk: Penutupan Investigasi Kematian Pekerja Bantuan Picu Kemarahan
Baca dalam 60 detik
- Australia secara resmi menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap proses hukum Israel atas tewasnya tujuh staf World Central Kitchen di Gaza, termasuk warga negara Australia.
- Keputusan militer Israel untuk tidak membuka penyelidikan kriminal diumumkan tepat pada Hari Kemanusiaan Sedunia, memicu kecaman diplomatik dan tuntutan komisi independen.
- Insiden ini berpotensi mempengaruhi solidaritas negara-negara Barat terhadap Israel dan menyoroti pentingnya perlindungan pekerja bantuan di zona konflik.

Hubungan diplomatik Australia dan Israel memasuki fase terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, secara terbuka menyatakan bahwa hubungan kedua negara kini berada dalam kondisi yang sulit, menyusul keputusan militer Israel untuk menghentikan penyelidikan kriminal atas tewasnya tujuh pekerja bantuan World Central Kitchen (WCK) di Gaza, termasuk warga negara Australia, Lalzawmi "Zomi" Frankcom.
Frankcom dan enam rekannya tewas pada April 2024 ketika konvoi bantuan kemanusiaan yang mereka kawal dihantam serangan udara Israel. Peristiwa itu memicu gelombang kecaman global dan kembali menyoroti kerentanan pekerja bantuan di tengah konflik berkepanjangan. Keputusan Israel untuk menutup kasus ini tanpa tuntutan pidana diumumkan pekan ini, bertepatan dengan Hari Kemanusiaan Sedunia, sebuah langkah yang oleh Wong disebut sebagai tindakan yang "sangat menghina dan menyakitkan".
Wong segera memanggil Duta Besar Israel untuk Australia, Hillel Newman, untuk menyampaikan kekecewaan mendalam pemerintah Australia. Dalam pertemuan tersebut, Wong menegaskan bahwa Canberra tidak memiliki keyakinan terhadap kredibilitas investigasi yang dilakukan Israel. "Pemerintah Australia akan terus mendesak Israel untuk menegakkan keadilan," ujarnya kepada para jurnalis. Selain itu, Wong juga memerintahkan perwakilan diplomatik Australia di Israel untuk menyampaikan pandangan langsung kepada pemerintah setempat.
Di sisi lain, Duta Besar Newman menyampaikan "kesedihan dan duka yang mendalam" kepada keluarga Frankcom, namun tetap bersikukuh bahwa Israel tidak memiliki niat untuk menyerang para pekerja bantuan tersebut. "Keputusan bahwa tidak ada tanggung jawab pidana harus dihormati," katanya. Ia bahkan mengeluhkan adanya "banyak pembenci Israel di Australia", sebuah pernyataan yang semakin memanaskan suasana diplomatik.
Keputusan Israel ini tidak hanya menuai kritik dari Australia. Pendiri WCK, Jose Andres, melalui akun media sosialnya, menyebut langkah tersebut sebagai "kesalahan yang menyakitkan bagi kami semua. Tidak ada alasan untuk menyerang tim kami." Organisasi kemanusiaan yang berbasis di Amerika Serikat itu juga menyatakan bahwa keputusan tersebut "tidak konsisten dengan kebenaran yang utuh dan sangat ofensif", serta menuntut pembentukan komisi independen untuk menyelidiki insiden tersebut.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan di zona konflik. Sebagai negara yang kerap terlibat dalam misi perdamaian dan bantuan kemanusiaan, Indonesia memiliki kepentingan untuk mendorong akuntabilitas internasional. Sikap tegas Australia dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk menuntut transparansi dan keadilan dalam kasus-kasus pelanggaran hukum humaniter internasional.
Lebih jauh, keputusan Israel ini berpotensi mengikis dukungan diplomatik yang selama ini dinikmatinya, terutama dari negara-negara Barat. Jika komisi independen yang dituntut WCK tidak segera dibentuk, tekanan internasional terhadap Israel dipastikan akan semakin menguat. Pertanyaannya, akankah Israel bersedia mengubah sikapnya, atau justru semakin terisolasi di mata dunia?



