Wapres Gibran Tinjau Dermaga Rusak di Sikka: Infrastruktur Logistik Jadi Sorotan Pascagempa NTT
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran Rakabuming meninjau langsung kerusakan Pelabuhan Laurentius Say dan lokasi pengungsian di Sikka, NTT, sambil memastikan layanan pendidikan tetap berjalan.
- Gempa magnitudo 7,7 yang melanda NTT telah menewaskan 71 orang dan mengungsikan hampir 60 ribu warga, dengan Manggarai sebagai daerah terdampak terbesar.
- Kerusakan pelabuhan berpotensi menghambat distribusi bantuan logistik yang selama ini mengandalkan jalur darat dan udara, menjadi tantangan utama pemulihan pascabencana.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menginjakkan kaki di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis siang, untuk meninjau langsung dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sejumlah infrastruktur vital, termasuk Pelabuhan Laurentius Say yang kini tak berfungsi optimal. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah menaruh perhatian serius pada pemulihan daerah yang porak-poranda, terutama menyangkut kelancaran distribusi bantuan dan keberlanjutan pendidikan anak-anak korban bencana.
Di sela-sela peninjauan, Wapres yang didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno serta Kepala BNPB Suharyanto, menyempatkan diri berdialog dengan warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian SD Inpres Wairklau. Ia tampak memastikan kondisi anak-anak, menanyakan asupan makan dan kesehatan mereka, sembari membagikan mainan, buku, serta perlengkapan bayi kepada para ibu. Langkah ini menegaskan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada pemulihan psikologis dan pendidikan generasi muda di tengah situasi darurat.
Kerusakan Pelabuhan Laurentius Say menjadi sorotan tersendiri. Dermaga yang selama ini menjadi salah satu pintu masuk logistik utama di kawasan timur Flores itu dipastikan mengalami kerusakan parah. Kondisi ini berpotensi memperlambat arus bantuan yang selama ini mengandalkan kombinasi jalur laut, darat, dan udara. Data BNPB mencatat, hingga Rabu (19/8) pukul 20.00 WIB, korban jiwa mencapai 71 orang, sementara total pengungsi di seluruh NTT mencapai 59.647 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai. Adapun distribusi logistik via udara telah mencapai 165 ton, dan total bantuan yang terkirim sejak 15-18 Agustus 2026 mencapai 398 ton.
Bagi Indonesia, bencana ini kembali menguji ketangguhan sistem penanggulangan bencana nasional. Selain pelabuhan, Wapres juga meninjau Gereja Santa Maria Magdalena Nangahure yang ikut rusak, menandakan dampak yang meluas pada fasilitas publik dan rumah ibadah. Yang lebih mendesak, pemulihan pelabuhan menjadi prioritas karena menjadi urat nadi ekonomi dan logistik bagi warga kepulauan. Jika tidak segera ditangani, rantai pasok bahan pokok dan material rekonstruksi bisa tersendat, memperpanjang penderitaan warga yang telah kehilangan tempat tinggal.
Kunjungan Wapres juga menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pemulihan pascabencana. Kehadiran mahasiswa UI untuk trauma healing, seperti diberitakan sebelumnya, menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemulihan mental korban, terutama anak-anak. Namun, pertanyaan besarnya adalah: seberapa cepat pemerintah dapat memulihkan Pelabuhan Laurentius Say dan memastikan distribusi bantuan berjalan lancar hingga ke pelosok? Mengingat medan NTT yang berat, koordinasi antarlembaga dan dukungan logistik yang memadai menjadi kunci. Jika tidak, proses rehabilitasi bisa berlarut-larut dan meninggalkan luka panjang bagi masyarakat yang telah kehilangan segalanya.



