Peringatan 100 Tahun Jiang Zemin: Xi Jinping Tegaskan Kesinambungan Warisan Reformasi di Tengah Tantangan Baru
Baca dalam 60 detik
- Presiden Xi Jinping memimpin upacara akbar di Balai Rakyat Beijing untuk memperingati 100 tahun kelahiran Jiang Zemin, menegaskan kontinuitas kepemimpinan partai.
- Acara ini menjadi sorotan karena kehadiran sejumlah pensiunan elite, sementara Hu Jintao tidak terlihat, memicu spekulasi tentang dinamika internal politik China.
- Peringatan ini bertepatan dengan tantangan ekonomi dan geopolitik yang dihadapi China saat ini, termasuk perang dagang dan ketegangan di kawasan.

Presiden China Xi Jinping memimpin langsung upacara peringatan 100 tahun kelahiran mendiang pemimpin Jiang Zemin di Balai Rakyat, Beijing, Senin (17/8). Dalam pidato selama 40 menit, Xi menyerukan agar Partai Komunis China (PKC) meneruskan warisan Jiang, sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan saat ini merupakan kelanjutan dari proyek politik dan ideologis yang dirintisnya.
Jiang Zemin, yang wafat pada 2022 di usia 96 tahun, dikenal sebagai arsitek kebangkitan ekonomi China. Di bawah kepemimpinannya, China bertransformasi dari ekonomi terpinggirkan menjadi mesin pertumbuhan global. Bersama Perdana Menteri Zhu Rongji yang wafat pekan lalu, Jiang mendorong reformasi besar-besaran pada 1990-an dan awal 2000-an, termasuk menutup perusahaan negara yang merugi, membongkar sistem perumahan lama, dan membuka pintu bagi investasi asing.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi panggung bagi Xi untuk menegaskan arah kepemimpinannya di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik yang meningkat. Xi sendiri menghadapi tantangan besar: perang dagang dengan Amerika Serikat dan Eropa, ketegangan di Selat Taiwan, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta penurunan jumlah penduduk. Dalam pidatonya, Xi mengingatkan kader partai untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya dan siap menghadapi ujian berat, sebuah bahasa yang kerap digunakan dalam narasi resmi Beijing.
Konteks domestik China juga menarik dicermati. Kehadiran sejumlah pensiunan elite, seperti Wen Jiabao dan Wang Qishan, dalam acara tersebut menjadi sinyal penting. Sebaliknya, ketidakhadiran Hu Jintao, penerus langsung Jiang, langsung menuai spekulasi di kalangan pengamat. Ini menunjukkan bahwa acara kenegaraan semacam ini kerap menjadi barometer politik internal, sekaligus cermin dinamika kekuasaan yang masih berlangsung.
Bagi Indonesia, dinamika politik China memiliki implikasi langsung. Sebagai mitra dagang utama, kebijakan ekonomi Beijing yang diwarisi dari era Jiang—terbuka terhadap investasi asing dan perdagangan global—tetap relevan. Namun, jika China semakin menekankan pada ketahanan domestik dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, Indonesia perlu mengantisipasi pergeseran pola investasi dan perdagangan. Selain itu, ketegangan di Laut China Selatan dan Taiwan juga menjadi perhatian bagi stabilitas kawasan.
Menariknya, di tengah narasi resmi yang kaku, Jiang Zemin justru dikenang secara berbeda oleh warganet China. Di media sosial, ia dijuluki "Sang Sesepuh" dan menjadi simbol era optimisme, ketika pertumbuhan ekonomi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah komentar di Xiaohongshu bahkan menyebut, "Hanya ada dua jenis orang di dunia: yang tidak memahaminya dan yang mengaguminya." Fenomena ini menunjukkan adanya ruang apresiasi publik yang unik di tengah sensor ketat.
Peringatan 100 tahun Jiang Zemin tidak hanya menutup babak sejarah, tetapi juga membuka pertanyaan tentang bagaimana China akan menyeimbangkan warisan reformasi dengan kebutuhan menjaga stabilitas di bawah kepemimpinan Xi. Apakah Beijing akan semakin terbuka atau justru memperketat kendali? Jawabannya akan menentukan arah ekonomi dan politik China, yang pada gilirannya berdampak pada kawasan, termasuk Indonesia.



