Survei: 54,3% Warga Korea Selatan Kini Punya Pandangan Positif terhadap Jepang, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Angka positif warga Korsel terhadap Jepang menembus rekor tertinggi sejak 2013, mencapai 54,3% pada Juli 2026.
- Peningkatan ini dipicu oleh interaksi antarmasyarakat yang lebih intens, terutama lewat pariwisata dan budaya populer.
- Di sisi lain, persepsi positif warga Jepang terhadap Korsel juga melonjak, menandakan pergeseran dinamika hubungan bilateral.

Survei terbaru dari East Asia Institute (EAI) Korea Selatan mengungkapkan bahwa 54,3% responden Korea Selatan memiliki pandangan positif terhadap Jepang pada Juli 2026. Angka ini tidak hanya naik 1,9 poin persentase dibandingkan tahun lalu, tetapi juga menjadi yang tertinggi sejak survei serupa dimulai pada 2013. Temuan ini menandai babak baru dalam hubungan dua negara yang kerap diwarnai ketegangan historis.
Lonjakan ini semakin signifikan jika dibandingkan dengan kondisi 2020, saat hubungan bilateral memburuk dan hanya 12,3% warga Korea Selatan yang menilai Jepang secara positif. Sejak saat itu, tren positif terus meningkat, menembus 50% pada 2025, dan kini mencapai rekor baru. Para analis menilai bahwa peningkatan ini tidak lepas dari semakin terbukanya interaksi antarmasyarakat, terutama melalui kunjungan wisata dan pertukaran budaya.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh responden Korea Selatan yang positif terhadap Jepang adalah apresiasi terhadap nilai-nilai seperti keramahan, kebersihan, dan ketertiban yang dijunjung masyarakat Jepang. Selain itu, mereka juga mengagumi kekayaan kuliner, kemudahan berbelanja, dan daya tarik Jepang sebagai destinasi wisata. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi publik kini lebih dipengaruhi oleh pengalaman langsung dan budaya populer, bukan lagi semata-mata oleh isu sejarah atau politik.
Di sisi lain, survei yang dilakukan secara daring bekerja sama dengan International House of Japan ini juga mencatat peningkatan signifikan pada persepsi warga Jepang terhadap Korea Selatan. Sebanyak 35,3% responden Jepang kini memiliki pandangan positif, naik 10,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, proporsi responden Jepang yang memiliki pandangan negatif turun 6,9 poin menjadi 44,1%. Survei melibatkan sekitar 1.500 responden berusia 18 tahun ke atas di masing-masing negara.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana hubungan bilateral dapat diperbaiki melalui pendekatan people-to-people. Sebagai negara dengan sejarah dan dinamika serupa di kawasan, Indonesia dapat menarik pelajaran bahwa diplomasi publik dan interaksi antarmasyarakat mampu menggeser persepsi yang sebelumnya terkunci oleh isu-isu sensitif. Apalagi, Indonesia dan Jepang juga memiliki hubungan erat yang ditopang oleh investasi dan pertukaran budaya.
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa persepsi publik dapat berubah cepat jika terjadi gejolak politik atau diplomatik. Survei ini hanyalah potret sesaat, dan hubungan Korea Selatan-Jepang masih diuji oleh isu-isu seperti sengketa wilayah dan kompensasi masa perang. Pertanyaannya, mampukah tren positif ini bertahan dalam jangka panjang, atau akan kembali surut ketika ketegangan memuncak?



