Menteri ke NTT saat HUT RI: Upacara di Tengah Gempa, 8.100 Kursi Istana Penuh
Baca dalam 60 detik
- Lima pejabat kabinet sengaja bertugas di NTT saat peringatan kemerdekaan untuk memastikan pemulihan pascagempa berjalan optimal.
- Pemerintah menambah kapasitas kursi upacara di Istana menjadi 11.500 setelah permintaan publik melonjak.
- Fasilitas nonton bareng dengan layar lebar disiapkan bagi warga yang tak kebagian tiket resmi.

Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, sejumlah menteri dan wakil menteri justru memilih merayakan di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang baru dilanda gempa bumi. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa para pejabat tersebut tidak hanya mengikuti upacara bendera, tetapi juga memantau langsung proses penanganan bencana di daerah yang tengah berduka.
Prasetyo menyebutkan, sejumlah nama yang terlibat antara lain Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, serta Wakil Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Sosial. Mereka hadir di NTT sejak pagi hari, bertepatan dengan upacara di Istana Merdeka yang berlangsung serentak di seluruh penjuru negeri.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata solidaritas pemerintah terhadap korban bencana. "Di tengah-tengah kita merayakan kemerdekaan, tentu saja di satu sisi kita tetap harus memastikan bahwa saudara-saudara kita yang kemarin terkena bencana itu semua tertangani dengan sebaik-baiknya," ujar Prasetyo di Jakarta, Senin (17/8/2026). Kehadiran para pejabat tinggi di lokasi bencana diharapkan mempercepat koordinasi lintas sektor dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Sementara itu, euforia masyarakat untuk merayakan kemerdekaan di Istana Kepresidenan juga terbilang luar biasa. Pemerintah awalnya menyiapkan 8.100 kursi bagi publik yang ingin menyaksikan upacara secara langsung. Namun, antusiasme yang melampaui perkiraan membuat panitia menambah dua blok kursi tambahan, masing-masing 1.700 kursi untuk upacara pagi dan 1.700 kursi untuk prosesi penurunan bendera sore hari. Total kapasitas pun membengkak menjadi 11.500 kursi.
Bagi warga yang tidak berhasil mendapatkan tiket, pemerintah menyiapkan tenda dan layar lebar di Jalan Medan Merdeka Utara. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat tetap merasakan atmosfer upacara dari luar pagar Istana. Prasetyo menyampaikan permohonan maaf kepada mereka yang gagal memperoleh tiket, seraya menekankan bahwa tingginya minat publik merupakan cermin semangat kebangsaan yang patut disyukuri.
Prasetyo juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momen kemerdekaan sebagai pemantik semangat pengabdian. "Mari semua kita bekerja keras memberikan pengabdian yang terbaik untuk menjadikan Indonesia berdaulat, Indonesia yang benar-benar adil, Indonesia yang makmur untuk semuanya," pungkasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai seremoni, tetapi juga sebagai momentum refleksi atas tanggung jawab kolektif terhadap sesama.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah model "upacara sambil bekerja" seperti ini akan menjadi tradisi baru dalam pemerintahan. Dengan kompleksitas tantangan kebangsaan yang semakin beragam, efektivitas kehadiran pejabat di lapangan tentu akan terus diuji, bukan hanya pada momen-momen seremonial, tetapi juga dalam kebijakan sehari-hari.



