Monica Bellucci: Menua adalah Anugerah, Saya Ingin Melakukannya dengan Bermartabat
Baca dalam 60 detik
- Aktris senior Monica Bellucci menegaskan bahwa proses penuaan adalah anugerah yang harus dijalani dengan bermartabat, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
- Di usia 62 tahun, Bellucci justru merasa lebih siap memerankan karakter kompleks seperti dalam film terbarunya, Histoires de la Nuit.
- Pandangannya menantang standar industri hiburan yang sering meminggirkan aktor senior, sekaligus membuka diskusi tentang representasi usia di layar lebar.

Aktris kawakan Monica Bellucci menyatakan bahwa menjadi tua adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri, bukan momok yang harus dihindari. Dalam wawancara eksklusif dengan Harper’s Bazaar Espana, perempuan berusia 62 tahun itu menegaskan keinginannya untuk menua dengan bermartabat, sembari menyoroti bagaimana kedewasaan memberinya perspektif baru dalam hidup dan berkarier.
Bellucci menilai tidak ada pilihan lain selain menerima proses penuaan atau mati. Baginya, menjadi tua berarti masih diberi kesempatan untuk hidup dan memiliki masa depan. Ia menyebut kematangan membawa anugerah berupa sikap lepas—kemampuan untuk tidak terlalu terikat pada hal-hal yang tidak esensial. Dalam pandangannya, semakin bertambah usia, seorang aktris bisa berubah menjadi penonton dunia, yang memungkinkan melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda.
Lebih jauh, Bellucci mengungkapkan bahwa usia 60-an justru membuka pintu bagi peran-peran yang lebih menantang. Ia mengaku tidak akan mampu memerankan tokoh dalam Histoires de la Nuit ketika masih berusia 30 atau 40 tahun, bahkan dengan riasan penuaan sekalipun. Menurutnya, untuk menghidupkan karakter dengan gejolak batin sedalam itu, seseorang perlu memiliki luka dan pengalaman hidup yang menumpuk. Perubahan fisik seiring waktu, katanya, bukan hal utama; yang terpenting adalah bagaimana seseorang berubah di dalam.
"Tubuh berubah seiring waktu, tetapi yang benar-benar penting adalah bagaimana kita berubah di dalam. Itu terlihat di layar ketika kamera mulai merekam; Anda bisa menghadirkan nuansa dunia yang bahkan tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya."
Pernyataan Bellucci ini menjadi cermin bagi industri hiburan global yang kerap terjebak pada standar estetika sempit. Ia menegaskan bahwa aktor harus terus menemukan kembali diri mereka, tidak boleh stagnan. Membandingkan dengan peran-peran ikoniknya di masa lalu seperti Malena, Irreversible, atau The Passion of the Christ, ia menganggap absurd jika masih mencoba memainkan peran yang sama di usia sekarang. Baginya, ada saatnya seorang aktor menjelajahi wilayah yang jauh dari sekadar estetika. Dalam Seven Dogs, ia memerankan wanita glamor karena tuntutan genre, tetapi di Histoires de la nuit, fisiknya yang lelah justru menjadi alat naratif—sebuah anugerah bagi setiap pemain.
Pandangan Bellucci sejalan dengan tren di Hollywood dan Eropa yang mulai memberi ruang lebih besar bagi aktor senior. Beberapa tahun terakhir, sejumlah aktris berusia di atas 60 tahun mendapatkan peran utama yang kompleks, menandakan pergeseran bertahap dalam selera penonton dan industri. Namun, tantangan tetap ada, terutama di pasar seperti Indonesia, di mana aktris senior sering kali hanya mendapat peran pendukung sebagai ibu atau nenek, tanpa kedalaman karakter. Fenomena ini menunjukkan bahwa representasi usia di layar masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Di Indonesia, diskusi tentang penuaan dan representasi di media juga mulai mengemuka. Aktris-aktris senior seperti Christine Hakim, Rima Melati (almarhumah), dan Niniek L. Karim telah membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tampil memukau. Meski demikian, jumlah peran utama untuk aktor senior masih terbatas. Industri kreatif tanah air bisa belajar dari pendekatan Bellucci: bahwa pengalaman hidup adalah modal berharga yang tidak bisa direplikasi oleh aktor muda. Alih-alih menutupi usia, mengangkatnya sebagai kekuatan naratif justru dapat menghasilkan karya yang lebih berjiwa.
Ke depan, pernyataan Bellucci ini bisa menjadi pemicu bagi para pembuat film untuk lebih berani mengeksplorasi cerita tentang usia lanjut. Apakah industri hiburan, baik global maupun nasional, siap meninggalkan obsesi pada kemudaan dan mulai merangkul kompleksitas yang hanya bisa dibawa oleh waktu? Jawabannya akan menentukan wajah perfilman satu dekade mendatang.



