Situs Silsilah Keluarga Korea Selatan Kewalahan: Kontroversi Aktris Picu Lonjakan Trafik
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan pengunjung situs penelusuran silsilah keluarga Korea Selatan terjadi setelah aktris Ahn Ha-young mengakui leluhurnya berkolaborasi dengan Jepang.
- Server situs tersebut sempat down selama berjam-jam, mencerminkan sensitivitas publik Korea terhadap sejarah kolonial.
- Kontroversi ini muncul menjelang Hari Pembebasan Korea, memperkuat diskusi tentang identitas dan sejarah di tengah masyarakat.

Sebuah platform daring yang membantu warga Korea Selatan menelusuri asal-usul keluarga dan mempelajari tokoh sejarah kini kebanjiran pengunjung setelah aktris Ahn Ha-young tersandung isu keterlibatan leluhurnya dalam kolaborasi dengan penjajah Jepang. Situs yang dalam bahasa Korea berarti "mencari akar" ini mengalami kelebihan beban server selama beberapa jam pada Rabu malam dan masih sering mengalami gangguan pada Kamis, seiring meningkatnya minat publik untuk menelusuri catatan sejarah keluarga.
Platform tersebut menyediakan informasi tentang 287 jenis garis keturunan di Korea Selatan, termasuk asal-usul dan jumlah populasi. Awalnya, Ahn Ha-young dalam sebuah acara televisi mengaku bangga bahwa kakek buyutnya, Ahn Sang-ho, adalah dokter yang membuka klinik gaya Barat pertama di Seoul dan pernah merawat Kaisar Gojong (1852โ1919). Pernyataan ini memicu rasa ingin tahu warganet, yang kemudian menemukan bukti bahwa Ahn Sang-ho diduga memiliki hubungan dengan kolaborator pro-Jepang selama masa penjajahan 1910โ1945.
Agensi aktris tersebut awalnya membantah tuduhan itu, namun desakan publik untuk mencari kebenaran semakin kuat. Akhirnya, pada Rabu, Ahn Ha-young menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, mengaku tidak mengetahui masa lalu keluarganya dan menyesali pernyataannya yang dianggap memuliakan leluhur tanpa verifikasi. Kontroversi ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak warganet yang menelusuri situs silsilah untuk memeriksa latar belakang keluarga mereka sendiri, khawatir ada 'tulang busuk' yang tersembunyi.
Fenomena ini menunjukkan betapa sensitifnya isu kolaborasi dengan Jepang di Korea Selatan, terutama menjelang Hari Pembebasan pada 15 Agustus yang memperingati kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Bagi banyak orang Korea, sejarah kolonial adalah luka yang belum sembuh, dan pengakuan publik terhadap leluhur yang dianggap pengkhianat bisa menjadi aib sosial. Situs silsilah, yang biasanya digunakan untuk riset keluarga, kini menjadi alat untuk 'mengadili' masa lalu, memicu perdebatan tentang bagaimana masyarakat memandang sejarah dan identitas.
Di Indonesia, fenomena ini menarik karena masyarakat kita juga memiliki sejarah panjang penjajahan dan isu kolaborasi yang sensitif. Meskipun tidak ada situs silsilah sepopuler itu, minat terhadap genealogi mulai tumbuh, terutama di kalangan urban yang ingin mengetahui asal-usul keluarga. Namun, kasus ini mengingatkan bahwa sejarah keluarga bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memperkuat identitas, di sisi lain bisa memicu konflik jika ada 'rahasia' yang dianggap memalukan.
Para ahli sejarah menilai bahwa fenomena ini mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk merekonsiliasi masa lalu dengan identitas nasional. Di Korea, gerakan untuk mengungkap kolaborator sejarah telah berlangsung lama, dan kasus Ahn Ha-young hanyalah puncak gunung es. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia juga siap menghadapi 'setan sejarah' yang mungkin tersembunyi di balik pohon keluarga? Ataukah kita lebih memilih untuk melupakan dan fokus pada masa depan?



