Gempa NTT: 995 Susulan Tercatat, 53 Tewas, Ribuan Warga Masih Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- BNPB mencatat 995 gempa susulan pasca-gempa M7,7 di NTT, namun hanya 46 yang terasa hingga Minggu sore.
- Korban jiwa mencapai 53 orang tersebar di enam kabupaten, dengan Manggarai sebagai wilayah terdampak terparah.
- Fase tanggap darurat ditargetkan rampung dalam 2-3 pekan, sementara pendataan kerusakan dan pengungsi terus berjalan.

Lima puluh tiga orang tewas dan 135 lainnya luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (16/8/2026) pukul 15.00 WIB, telah terjadi 995 kali gempa susulan, namun hanya 46 di antaranya yang getarannya dirasakan warga. Angka ini menjadi pengingat bahwa ancaman di kawasan rawan seismik tidak berhenti pada guncangan utama.
Gempa yang berpusat di darat tersebut memicu kerusakan signifikan, terutama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Data BNPB menunjukkan 154 rumah rusak berat, 49 rusak sedang, dan 38 rusak ringan, sehingga total 241 unit rumah terdampak. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual, Minggu, mengungkapkan bahwa angka ini masih bisa bertambah karena proses verifikasi dan validasi di lapangan belum tuntas.
Rincian korban jiwa tersebar di enam kabupaten: Manggarai Barat (1), Manggarai Timur (20), Manggarai (25), Nagekeo (1), Sikka (4), dan Ende (2). Sementara itu, korban luka terbanyak tercatat di Manggarai Timur dengan 21 luka berat dan 59 luka ringan. Abdul menambahkan, hingga saat ini tidak ada laporan warga hilang di tujuh kabupaten/kota yang terdampak.
Fenomena gempa susulan, menurut Abdul, adalah proses alamiah ketika struktur patahan berusaha kembali stabil. Meski mayoritas tidak terasa, aktivitas ini tetap memicu kecemasan warga, terutama mereka yang masih trauma dengan gempa dan tsunami 1992. Kondisi psikologis inilah yang membuat sebagian warga enggan meninggalkan lokasi pengungsian meski rumah mereka masih layak huni. Pemerintah pun mengimbau warga untuk memeriksa kondisi bangunan dan melaporkan kerusakan struktural, seperti tiang retak atau kuda-kuda atap bergeser, kepada aparat setempat.
Pemerintah pusat telah menetapkan status tanggap darurat di Kabupaten Manggarai selama 90 hari, sementara Manggarai Timur dan Provinsi NTT masih dalam proses penetapan. Abdul menargetkan fase tanggap darurat dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga pekan ke depan melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Pendataan pengungsi, baik di lokasi terpusat maupun mandiri, juga terus dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Gempa NTT kali ini kembali menguji kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi bencana hidrometeorologi dan geologi. Dengan intensitas susulan yang masih tinggi, pertanyaan besarnya adalah: akankah upaya rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat dari trauma yang ditinggalkan? Jawabannya akan menentukan apakah warga NTT bisa segera kembali membangun kehidupan mereka.



