Undangan Istana untuk Ojek dan Damkar: Simbol Kedekatan atau Sekadar Seremonial?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo mengundang pengemudi ojek, penjaga kedai kopi, dan petugas damkar ke upacara HUT ke-81 RI di Istana, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya mendekatkan simbol negara dengan rakyat kecil.
- Langkah ini berpotensi meningkatkan citra pemerintahan di mata publik, namun publik menantikan tindak lanjut konkret di luar momen seremonial.
- Ke depan, inklusivitas semacam ini bisa menjadi tradisi baru, tetapi efektivitasnya akan diukur dari kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan kelompok tersebut.

Presiden Prabowo Subianto mengundang pengemudi ojek pangkalan, penjaga kedai kopi, hingga petugas pemadam kebakaran untuk menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan, sebuah langkah yang tak lazim dan langsung menuai apresiasi dari kalangan pekerja informal yang selama ini jarang menjejakkan kaki di area istana.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Dalam beberapa tahun terakhir, Istana memang kerap mengundang tokoh masyarakat, guru, hingga nelayan, tetapi melibatkan profesi seperti ojek pangkalan dan penjaga warung kopi memberi sinyal baru: pemerintah ingin merangkul sektor informal yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga perkotaan. Bagi Zulkifli, pengemudi ojek di Stasiun Juanda yang sudah 25 tahun mangkal, undangan ini adalah pengakuan atas kerja kerasnya. โSaya bersyukur sekali dapat undangan untuk menghadiri HUT RI yang ke-81 di Istana. Terima kasih buat Bapak Presiden,โ ujarnya, seperti dikutip dari siaran resmi Sekretariat Presiden.
Hal serupa disampaikan Mulyadi, rekan Zulkifli yang telah 28 tahun mengayuh sepeda motor di kawasan yang sama. Ia mengaku baru pertama kali akan mengikuti upacara kenegaraan di Istana. Sementara itu, Wasuri, penjaga Kedai Kopi Oke yang bekerja dalam sistem tiga shift selama 24 jam, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. โSenang, karena baru kali ini. Takut enggak bisa tidur, karena kepengen gitu,โ tuturnya dengan polos.
Di sisi lain, undangan juga diberikan kepada Gatot Santoso dan Ruly Nur Efendi, petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Gatot yang telah 15 tahun bertugas di bidang operasi menyebut undangan ini sebagai kehormatan bagi institusinya. Ruly, yang 20 tahun berkarier di penyelamatan, berharap momen ini membuka pintu bagi rekan-rekannya yang lain untuk mendapat kesempatan serupa. โPerasaan saya pribadi sangat luar biasa. Sebuah kehormatan bisa diundang ke Istana yang begitu megah,โ katanya.
Langkah Presiden Prabowo ini menarik dicermati dari sisi komunikasi politik. Mengundang pekerja informal ke Istana dapat dibaca sebagai upaya membangun kedekatan emosional dengan kelompok yang kerap merasa terpinggirkan. Namun, publik tentu berharap ini bukan sekadar seremonial tahunan. Pertanyaannya, apakah setelah upacara usai, akan ada kebijakan nyata yang menyentuh hajat hidup para ojek, penjaga warung, dan petugas damkar?
Secara simbolis, undangan ini mengirim pesan bahwa negara hadir untuk semua lapisan masyarakat. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan upacara yang disebut telah mencapai 99 persen, publik menunggu apakah inklusivitas ini akan berlanjut dalam bentuk program konkret, misalnya perlindungan sosial bagi pekerja informal atau peningkatan kesejahteraan petugas penyelamat. Jika tidak, momen ini berisiko menjadi sekadar foto kenangan di media sosial.
Ke depan, tradisi mengundang profesi tertentu ke Istana bisa menjadi ajang evaluasi tahunan bagi pemerintah: sejauh mana kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh mereka yang hadir? Apakah undangan ini akan diikuti dengan langkah nyata, atau hanya menjadi ritual kemerdekaan yang berulang? Waktu yang akan menjawab, tetapi harapan publik jelas: kemerdekaan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam upacara.



