Pasca-Banjir Bandang Agam: 360 Hunian Tetap Siap Dibangun Tahun Depan, Tender Dikebut
Baca dalam 60 detik
- Kementerian PKP menargetkan 360 unit rumah permanen bagi penyintas bencana di Agam, dengan proses lelang dituntaskan bulan depan.
- Lokasi pembangunan tersebar di dua kecamatan, memanfaatkan lahan eks-HGU dan milik pemerintah daerah untuk mempercepat relokasi.
- Selain bantuan pemerintah, donatur seperti Baznas dan Yayasan Buddha Suci turut menyumbang ratusan unit tambahan pada 2026.

Langkah pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memasuki babak baru. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) memastikan pembangunan 360 unit hunian tetap (huntap) terpadu untuk para penyintas akan dimulai tahun depan, dengan proses tender yang ditargetkan rampung pada pertengahan September mendatang.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Agam, Rinaldi, mengungkapkan bahwa dua lokasi telah disiapkan untuk proyek tersebut. Sebanyak 280 unit akan berdiri di atas lahan bekas Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Inang Sari Sungai Jariang di Kecamatan Lubuk Basung. Sementara itu, 80 unit lainnya direncanakan menempati area Balai Benih Ikan (BBI) Gumarang di Kecamatan Palembayan, yang khusus dialokasikan bagi warga Nagari Tigo Koto Silungkang.
Pembagian lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Rinaldi menjelaskan bahwa hunian di Sungai Jariang akan menampung penyintas dari tiga kecamatan terdampak, yakni Palembayan, Tanjung Raya, dan Malalak. Menariknya, sebanyak 298 penyintas dari luar Palembayan telah menyatakan kesediaan untuk direlokasi ke lokasi tersebut, sebuah indikasi kepercayaan masyarakat terhadap rencana pemerintah.
Proyek ini merupakan bagian dari gelombang pembangunan huntap yang lebih besar. Pada tahun ini saja, total 620 unit huntap tengah dibangun di Agam, dan angka tersebut berpotensi bertambah jika donatur lain ikut serta. Jika tidak ada penambahan, pembangunan akan dilanjutkan pada tahun berikutnya, memastikan tidak ada penyintas yang tertinggal.
Selain pemerintah, partisipasi lembaga filantropi turut mewarnai upaya rehabilitasi ini. Yayasan Buddha Suci, dengan arahan Kementerian PKP, berkomitmen membangun 180 unit huntap terpadu pada 2026. Di sisi lain, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI juga sedang memproses pembangunan 100 unit hunian di wilayah yang sama pada tahun depan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pemulihan bencana tidak bisa hanya mengandalkan anggaran negara.
Standar konstruksi yang diterapkan pun tidak main-main. Setiap unit dibangun dengan spesifikasi yang sama, dan para donatur diberi pilihan menggunakan material bata interlock atau sepablock produksi PT Semen Padang, anak usaha Semen Indonesia Group. Selain itu, desain Rumah Anti Gempa (RAG) dari Universitas Andalas turut diadopsi, sebuah langkah antisipatif mengingat Sumatera Barat berada di zona rawan gempa.
Proses administrasi juga telah dirapikan. Penerima bantuan rumah telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Agam, dan data kependudukan para calon penghuni telah dipadankan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) setempat. Hal ini penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan menghindari tumpang tindih data.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana, progres pembangunan huntap di Agam ini menjadi cermin bagaimana negara hadir di tengah musibah. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kecepatan pembangunan ini akan diimbangi dengan kualitas hunian dan ketersediaan fasilitas pendukung, seperti akses air bersih dan sanitasi yang layak. Ke depan, evaluasi pasca-hunian akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa para penyintas tidak hanya mendapatkan atap, tetapi juga kehidupan yang lebih baik dan aman dari ancaman serupa.



