Setu Babakan Pamerkan Mainan Tradisional Betawi, Melawan Lupa di Tengah Gempuran Gawai
Baca dalam 60 detik
- Pameran temporer di Setu Babakan mengangkat kembali permainan rakyat Betawi seperti dampu dan pletokan untuk merayakan HUT ke-81 RI.
- Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda, menekankan nilai kebersamaan dan pengendalian diri di era digital.
- Dengan pendekatan pentaheliks, Setu Babakan berupaya menjadi pusat pelestarian budaya Betawi sekaligus menjawab tantangan transformasi Jakarta menuju kota global.

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggelar pameran temporer yang menghidupkan kembali permainan tradisional Betawi, sebuah langkah konkret untuk melawan arus modernisasi yang kian menggerus warisan budaya lokal. Kegiatan yang berlangsung dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan upaya sistematis untuk menanamkan nilai-nilai sosial kepada generasi muda.
Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) PBB Setu Babakan, Debby Novita Andriani, menegaskan bahwa pameran yang mengusung tema "Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang" ini sengaja memilih diksi khas Betawi, maen, untuk menegaskan identitas. Menurutnya, bagi masyarakat Betawi, bermain bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan sarana belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri. Koleksi yang dipamerkan mencakup beragam permainan seperti dampu, pletokan, hingga permainan karet yang dulu akrab di kalangan anak-anak.
Pameran ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen Setu Babakan sebagai satu-satunya pusat edukasi dan laboratorium budaya Betawi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di tengah transformasi Jakarta menuju kota global, pelestarian identitas budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Debby menuturkan, untuk memastikan keberlanjutan upaya ini, pendekatan kolaborasi pentaheliks diterapkan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, hingga pihak swasta.
Lebih dari sekadar pameran, rangkaian acara juga mencakup kegiatan manajemen pengetahuan (knowledge management). Para pengunjung diajak mengikuti lokakarya musik Gambang Kromong serta pelatihan pembuatan bir pletok, minuman khas Betawi yang telah diatur melalui Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2017. Langkah ini dinilai penting untuk memberikan pengalaman langsung, bukan hanya sekadar melihat koleksi statis.
Widyaiswara Ahli Utama pada Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengapresiasi inisiatif ini. Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi aset pengetahuan yang penting bagi generasi muda. Ia juga berharap Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dapat terus mengalihkan fokus generasi muda, termasuk Gen Z, agar terdapat keseimbangan antara penggunaan teknologi dan permainan tradisional masa lalu.
"Bermain adalah tentang kebersamaan, belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri agar hati menjadi girang," ujar Debby, menekankan esensi filosofis di balik permainan tradisional.
Bagi masyarakat Jakarta, pameran ini hadir di tengah kekhawatiran akan tergerusnya budaya lokal oleh derasnya arus digital. Generasi muda saat ini lebih akrab dengan gawai daripada permainan fisik yang mengajarkan interaksi sosial langsung. Upaya Setu Babakan ini menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan permainan tradisional tersimpan kekayaan nilai yang relevan untuk membentuk karakter, seperti kejujuran, kerja sama, dan pengendalian emosi.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana inisiatif serupa dapat diperluas dan diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan atau program pariwisata yang lebih luas. Apakah pameran temporer ini akan menjadi agenda tahunan yang semakin matang, atau justru menjadi momentum untuk mendorong lahirnya ekosistem pelestarian budaya yang lebih berkelanjutan di Jakarta? Jawabannya akan menentukan apakah warisan budaya Betawi mampu bertahan di tengah gempuran zaman.



