Kritik Tajam di Kongres DAP: Putri Karpal Singh Minta Partai Kaji Ulang Dukungan ke Anwar
Baca dalam 60 detik
- Sangeet Kaur Deo, delegasi DAP dari Kuala Lumpur, secara terbuka meminta CEC untuk mengevaluasi ulang hubungan dengan PM Anwar, menyebutnya memecah belah koalisi dan memperkuat Umno.
- Kritik ini muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya polarisasi rasial dan kontroversi korupsi di Malaysia, termasuk kasus DNAA Ahmad Zahid dan isu 'mafia korporat'.
- Meski demikian, DAP tetap berkomitmen bertahan di pemerintahan hingga akhir masa jabatan, dengan fokus pada pemulihan kredibilitas dan dorongan reformasi.

Kongres Nasional DAP di Putrajaya, Sabtu (16/8), menjadi panggung kritik tajam terhadap Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Sangeet Kaur Deo, putri almarhum tokoh senior DAP, Karpal Singh, secara terbuka mendesak Komite Eksekutif Pusat (CEC) untuk 'menilai ulang secara serius' hubungan partai dengan Anwar, menuduhnya memecah belah mitra koalisi dan memperkuat posisi Umno.
Dalam debat yang berlangsung sengit, Sangeet yang juga delegasi DAP Kuala Lumpur mempertanyakan efektivitas kerja sama dalam pemerintahan persatuan. 'Apa yang telah dia lakukan? Dia memecah belah kami, mengadu domba satu sama lain, dan memberdayakan Umno. Mengapa? Kita tidak bisa mengabaikan ini,' ujarnya, seperti dikutip The Star. Kritik ini mencerminkan kegelisahan akar rumput DAP terhadap arah koalisi yang dipimpin Anwar.
Sangeet juga menyoroti meningkatnya polarisasi rasial di Malaysia dan kontroversi korupsi yang dinilainya semakin marak, meskipun pemerintahan ini berkuasa dengan platform reformasi. Ia merujuk pada pembebasan tanpa pembebasan (DNAA) terhadap Wakil PM Ahmad Zahid Hamidi atas 47 dakwaan, serta isu yang melibatkan Komisi Pencegahan Rasuah Malaysia (MACC). Tuduhan 'mafia korporat' yang sempat mencuat juga disebutnya telah diangkat secara internal oleh para menteri DAP di kabinet.
Lebih jauh, Sangeet mempertanyakan kemampuan DAP bekerja sama dengan Umno, yang menurutnya masih terus menyerang partainya di tingkat federal meski berada dalam pemerintahan yang sama. Namun, ia tidak sampai menyerukan DAP keluar dari pemerintahan. Sebaliknya, ia mengusulkan agar partai memanfaatkan sisa 18 bulan masa jabatan untuk memulihkan suara dan kredibilitas. 'Intinya: kita tetap tinggal, tetapi dengan alasan yang berbeda,' tegasnya.
Senada dengan Sangeet, delegasi DAP Perak dan anggota dewan Astaka, Jason Ng Thien Yeong, mendesak partai untuk bertahan hingga akhir periode sambil terus mendorong Anwar merealisasikan reformasi yang dijanjikan. 'Kita perlu tetap di pemerintahan untuk sisa 18 bulan. Bertahan sampai akhir masa jabatan,' katanya. Ia memperingatkan bahwa keluar dari pemerintahan dapat mengecewakan pemilih dan menguntungkan lawan politik DAP.
Kritik internal ini menjadi ujian bagi soliditas pemerintahan persatuan Malaysia. Meski DAP memilih bertahan, pertanyaan besar muncul: mampukah Anwar mengelola tekanan dari dalam koalisi sambil menjaga stabilitas politik? Bagi Indonesia, dinamika ini menarik dicermati sebagai contoh bagaimana partai politik dalam koalisi dapat mengelola perbedaan tanpa menggoyahkan pemerintahan. Apakah DAP akan mampu memulihkan kredibilitasnya tanpa keluar dari koalisi, atau justru tekanan ini akan memicu perombakan politik lebih besar di Malaysia?



