Komando AS Siap Perluas Latihan Perang di Filipina: Sinyal Pengereman untuk China di Laut China Selatan
Baca dalam 60 detik
- Laksamana Frank Bradley, panglima Komando Operasi Khusus AS, menegaskan kesiapan meningkatkan latihan perang dengan Filipina dan sekutu Asia untuk meredam potensi konflik besar.
- Kunjungan Bradley ke Manila, Seoul, dan Tokyo menegaskan prioritas Washington di Indo-Pasifik di tengah fokus global pada Timur Tengah.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan regional, termasuk bagi Indonesia yang memiliki kepentingan di Laut China Selatan.

Manila, 16 Agustus 2026 โ Komando Operasi Khusus Amerika Serikat (USSOCOM) menyatakan kesiapannya untuk memperluas latihan kesiapan tempur bersama mitra di Filipina dan sejumlah negara Asia lainnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat aliansi keamanan dan mencegah meletusnya konflik berskala besar di kawasan yang tengah diliputi ketegangan.
Pernyataan itu disampaikan Laksamana Frank Bradley, panglima USSOCOM, saat berada di Manila pada Kamis (15/8) waktu setempat. Ia baru saja menuntaskan kunjungan ke Korea Selatan dan dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Jepang untuk bertemu dengan pejabat militer setempat. Bradley menjadi petinggi militer AS terbaru yang mengunjungi sekutu-sekutu kunci Asia dalam beberapa pekan terakhir, sebuah sinyal kuat bahwa Washington tetap berkomitmen menjaga stabilitas kawasan meski perhatiannya tengah tersita oleh konflik di Timur Tengah.
Dalam pertemuan dengan mitranya di Filipina, Bradley membahas upaya modernisasi militer Filipina, intensifikasi latihan tempur bersama, serta perluasan jaringan aliansi keamanan. Fokus utamanya adalah merespons tindakan China yang kian agresif di Laut China Selatan, wilayah yang selama puluhan tahun menjadi sumber sengketa antara Beijing dan sejumlah negara, termasuk Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Ketegangan terbaru antara pasukan China dan Filipina di perairan tersebut menjadi perhatian serius Washington.
Bradley menegaskan bahwa aliansi yang kohesif, dengan setiap negara berinvestasi pada pertahanan dan rutin menggelar latihan bersama, merupakan pencegah paling efektif terhadap konflik besar. "Cara terbaik untuk mencegah konflik adalah dengan menunjukkan secara meyakinkan kepada musuh potensial bahwa mereka tidak akan mampu memenangkan pertempuran," ujarnya kepada Associated Press di Manila. "Di tempat yang memiliki struktur aliansi kuat, konflik tidak pernah terjadi. Bersama, kita lebih kuat, dan bersama, kita bisa mencegah konflik datang kepada kita."
Latihan militer skala besar antara AS dan Filipina dalam beberapa tahun terakhir telah melibatkan lebih banyak sekutu seperti Jepang, Australia, Kanada, dan Prancis. Fokusnya adalah pertahanan teritorial Filipina di Laut China Selatan. Pasukan khusus AS juga telah berpartisipasi dalam latihan tahunan tersebut, termasuk latihan perang yang lebih kecil di provinsi-provinsi barat Filipina yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, serta di provinsi kepulauan Batanes yang terletak dekat Taiwan.
Rencana untuk menggelar latihan operasi khusus gabungan di Batanes pertama kali disinggung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat berkunjung ke Manila pada tahun lalu. Hegseth saat itu menyatakan bahwa pemerintahan Trump akan bekerja sama dengan sekutu untuk meningkatkan pencegahan terhadap berbagai ancaman, termasuk agresi China di Laut China Selatan. Batanes sendiri merupakan wilayah yang secara geografis strategis karena berdekatan dengan Taiwan, pulau yang diklaim China sebagai provinsinya dan tak segan menggunakan kekuatan untuk menganeksasinya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang juga memiliki kepentingan di Laut China Selatan, khususnya di sekitar Kepulauan Natuna, Indonesia perlu mencermati peningkatan aktivitas militer di kawasan tersebut. Meski Indonesia konsisten dengan kebijakan bebas-aktif dan tidak terlibat langsung dalam sengketa klaim, eskalasi ketegangan antara China dan Filipina dapat berdampak pada stabilitas keamanan maritim dan jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan nasional.
Bradley enggan membeberkan detail latihan yang sedang berlangsung, termasuk jumlah pasukan yang terlibat dan jenis manuver yang dilakukan. Namun, ia mengisyaratkan bahwa latihan tersebut berpotensi diperluas. "Ke depannya, skala latihan akan disesuaikan dengan kebutuhan kedaulatan Filipina dan di mana pemerintah Filipina menginginkan kami hadir," katanya. "Kami akan selalu berkomitmen menjadi mitra yang kuat."
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya frekuensi patroli dan latihan militer gabungan di Indo-Pasifik. Pertanyaannya, apakah peningkatan kehadiran militer AS ini akan benar-benar meredam agresivitas China, atau justru memicu ketegangan baru yang lebih besar? Yang jelas, kawasan ini sedang berada dalam fase krusial yang akan menentukan arsitektur keamanan regional untuk dekade-dekade mendatang.



